Mengenal Si Travel Manager Sepakbola

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Mengenal Si Travel Manager Sepakbola

Biasanya sebuah tim sepakbola memiliki tim khusus yang mengatur kelengkapan klub. Tim tersebut biasanya mengurusi jersey, perlengkapan dan peralatan latihan, hingga menyiapkan kendaraan dan hotel saat tim akan bermain tandang. Jumlahnya tidak menentu. Ada yang hanya terdiri dari satu orang yang mengurusi semua, ada pula yang memegang satu tanggung jawab khusus. Semua tergantung pada kebutuhan tim.

Salah satu tim tersebut adalah “Travel Manager”. Ia memiliki tanggung jawab khusus memastikan kendaraan serta hotel yang nantinya akan dipakai tim.

Swansea menjadi salah satu tim yang menggunakan jasa “Travel Manager”. Struktur manajemen di Swansea sendiri terbilang lengkap, meski tak selengkap Chelsea misalnya. Posisi “Travel Manager” ada di tim “Football Admininstrator” dengan total tiga orang. “Travel Manager” sendiri diemban oleh Robert Young.

Tahun lalu, kepada FourFourTwo, Robert menceritakan pengalamannya dalam mengurusi transportasi di Swansea.

Sebelum bergabung dengan Swansea, Robert telah memiliki pengalaman 30 tahun di industri travel. Salah satunya, ia pernah bekerja untuk Thomas Cook, yang pernah menjadi sponsor Manchester City. Setelah itu, ia bekerja di “Travel House” sebuah perusahaan perjalanan yang berbasis di South Wales yang dimiliki direktur Swansea, Martin Morgan.

Sebagai klub sepakbola, Swansea pun berkembang dengan pesat. Ini pula yang membuat klub butuh seseorang yang mengurusi perjalanan tim. Pada Juli 2013, Robert pun resmi menjadi Travel Manager tim Swansea.

Nantinya, Robert memberikan sejumlah pilihan pada pemilik klub dan manajer untuk memilih transportasi dan akomodasi yang mereka inginkan. Ia pun mem­-booking pesawat untuk perjalanan jarak jauh. Hal ini dianggap lebih murah ketimbang membeli tiket satu-persatu bagi pemain dan staf.

Musim lalu, Swansea bermain di kompetisi Eropa. Ini menjadikan tantangan besar bagi Robert. Ia mesti memastikan hotel tempat tim menginap beberapa hari sebelum pertandingan. Ia mesti memastikan hotel yang akan disewa mampu menampung semua pemain di satu lantai. Manajemen Swansea pun mewajibkan ketersediaan ruang makan tertutup, ruangan massage, wi-fi, dan walk-in shower untuk menghindari kemungkinan terjadinya cedera.

“Ada banyak kotak yang mesti kami centang,” kata Robert terkait banyaknya persyaratan.

Tidak lupa, ia juga berdiskusi dengan tim Motherwell mengenai pengalaman mereka saat bertandang ke Rusia. Menurut mereka, proses imigrasi di Rusia amat rumit. Maka, jelang menghadapi Kuban Krasnodar di Europa League, Robert pun telah mengantisipasinya jauh-jauh hari.

Hal yang paling mengesalkan? “Pemain yang lupa membawa paspornya adalah hal yang klasik, tapi, untungnya hal itu belum pernah terjadi,” ungkap Robert, "Tapi, cobalah tanya hal yang sama kepadaku tahun depan, mungkin jawabannya lain."

Menurutnya, awal-awal masa pengabdiannya di Swansea dipenuhi dengan hal-hal yang melelahkan. Misalnya, ketika membuat jadwal pre-season di Yeovil dan Exeter, ia kehabisan akal. Pasalnya, saat tersebut bertepatan dengan jadwal wisuda sehingga hampir semua hotel sudah habis dipesan.

Ia pun menceritakan pengalamannya di Romania. Sejumlah penggemar menyalakan cerawat dan kembang api di luar hotel. Mereka mencoba membuat pemain Swansea tidak tenang dan marah. Untungnya, ada polisi yang berjaga di luar hotel. Hal ini biasa mereka alami saat bertandang ke negara Eropa Timur.

Berpengalaman di dunia travel membuatnya menganggap bekerja di Swansea bukan sebagai pekerjaan, melainkan sebagai bentuk pengabdian. Ia menuturkan lahir dan besar di South Wales, dan ia bangga menjadi bagian dari Swansea itu sendiri.

Komentar