Cerita Tiga Kuda Hitam DFB-Pokal

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Cerita Tiga Kuda Hitam DFB-Pokal

Di Jerman, ada sebuah pepatah yang berbunyi aller guten Dinge sind drei. All good things come in threes. Wajar jika kemudian kehadiran tiga kuda hitam di perdelapan final DFB-Pokal dianggap sebagai sebuah hal baik. Setidaknya oleh mereka yang selalu menantikan sepak terjang tim-tim kejutan. Oleh mereka yang berharap agar salah satu dari ketiganya mampu muncul sebagai juara, mengalahkan klub-klub lain yang lebih besar, lebih kaya, lebih kuat, dan terlihat lebih pantas menjadi juara.

Seperti FC Porto di Liga Champions musim 2003/04 atau tim nasional Yunani di Piala Eropa 2004. Semacam itulah. Tiga kuda hitam yang masih bertahan sejauh ini adalah Arminia Bielefeld, Dynamo Dresden, dan Kickers Offenbach.

Di liga, nasib Bielefeld dan Dresden tahun ini tidak terlalu baik. Kegagalan keduanya untuk bertahan di 2. Bundesliga membuat Bielefeld dan tim asuhan Stefan Böger harus menghabiskan musim 2014/15 di 3. Liga. Keduanya mendapatkan hak bermain di DFB-Pokal sebagai perwakilan dari 2. Bundesliga, namun menjalani kejuaraan ini sebagai tim dari 3. Liga. Lucu juga, walaupun sebenarnya ini adalah hal yang biasa.

Namun keberadaan kedua tim di 3. Liga tidak menghalangi pasukan Norbert Meier dan Dresden untuk tampil apik di ajang DFB-Pokal. Dua putaran sudah berlalu dan keduanya masih bertahan. Lebih manis lagi, keduanya bertahan dengan cara menyingkirkan tim-tim dari divisi yang lebih tinggi.

Pada putara pertama, Bielefeld berhadapan dengan SV Sandhausen (2. Bundesliga). Die Arminien 4-1. Dresden malah lebih mantap lagi. Walaupun hanya mampu menang tipis 2-1, lawan mereka adalah FC Schalke 04, salah satu perwakilan 1. Bundesliga di ajang Liga Champions Eropa musim ini.

Baik Bielefeld maupun Dresden sama-sama kembali meraih kemenangan di putaran kedua. Hertha Berlin (1. Bundesliga) dipaksa menelan kekalahan 2-4 di SchücoArena, kandang Bielefeld. Sementara itu, Dresden membukukan kemenangan kandang saat menjamu VfL Bochum (2. Bundesliga); 2-1. Di putaran ketiga, di perdelapan final, keduanya akan menjamu perwakilan 1. Bundesliga: Bielefeld melawan Werder Bremen sedangkan Dresden berhadapan dengan Borussia Dortmund.

Namun sepak terjang Bielefeld dan Dresden tak lebih menarik dari Kickers Offenbach. Tak seperti Bielefeld dan Dresden yang meraih tiket DFB-Pokal musim ini dari keikutsertaan keduanya di 2. Bundesliga musim 2013/14, Offenbach menempuh jalur khusus.

Offenbach meraih tiket DFB-Pokal lewat keberhasilan menjadi juara Hessenpokal, sebuah kejuaraan yang hanya boleh diikuti oleh klub-klub semiprofesional di Negara Bagian Hesse. Ya, Offenbach adalah klub semiprofesional. Offenbach menjadi satu-satunya klub di luar divisi profesional Jerman yang masih bertahan di DFB-Pokal musim ini. Jika Anda ingin menentang arus dan mendukung tim non-unggulan di DFB-Pokal musim ini, dukunglah Offenbach.

Offenbach berhasil menyuguhkan hasil-hasil manis sejauh ini. Pada putaran pertama, pasukan Rico Schmittmenjamu FC Ingolstadt 04 (2. Bundesliga). Di hadapan 7.286 pasang mata, Offenbach berhasil memaksakan adu penalti walaupub bermain dengan sembilan orang saja sejak menit ke-47. Offenbach menang 4-2.

Pada putaran kedua, giliran Karlsruher SC (juga dari 2. Bundesliga, seperti Ingolstadt) yang merasakan sulitnya bermain melawan Offenbach di Sparda-Bank-Hessen-Stadion. Keberhasilan Offenbach melaju ke putaran kedua membuat jumlah penonton bertambah. Gol tunggal Benjamin Pintol, tiket ke perdelapan final, disaksikan oleh 16.106 penonton.

Borussia Mönchengladbach akan bertamu di hari ketiga bulan Maret tahun depan. Mengingat performa Gladbach tengah menanjak dan sejauh ini mereka merupakan satu-satunya penantang Bayern Müchen untuk gelar juara 1. Bundesliga, jumlah penonton di Sparda-Bank-Hessen-Stadion dipastikan meningkat lagi. Kemenangan ketiga untuk Offenbach, sementara itu, belum tentu tersaji.

Bagaimanapun, sepak terjang trio kuda hitam Offenbach, Bielefeld, dan Dresden tetap patut dinanti. Masih ada harapan untuk para pecinta tim-tim kecil yang mengandalkan semangat tinggi dan kebersamaan erat. Selama ketiganya belum tersingkir, peluang itu masih ada.

Komentar