Bola-bola Kebahagiaan dari Tanah Jerman

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Bola-bola Kebahagiaan dari Tanah Jerman

Popularitas sepakbola adalah kendaraan yang tepat untuk menyampaikan sebuah ide. Banyak sudah pertandingan amal yang digelar untuk menggalang dana atau hal-hal baik lainnya. Contoh terbaru adalah pertandingan amal yang digelar oleh Javier Zanetti dan Paus Fransiskus pada bulan September lalu. Tak hanya bertujuan untuk menggalang dana, pertandingan tersebut juga memiliki tujuan untuk menyuarakan perdamaian dunia.

Salah, karenanya, jika ada anggapan bahwa sepakbola hanya urusan tendang menendang bola saja. Salah pula jika tangan-tangan malaikat sepakbola disebut tak memiliki kemampuan untuk menggapai mereka yang berada di luar lapangan. Sepakbola, dalam sejumlah framen, adalah penyelamat. Dan hal tersebut dibuktikan dengan tindakan nyata.

Saat kebanyakan dari kita merasa bahwa dunia sedang mengalami masa-masa paling damai, banyak jiwa yang hidup tidak tenang. Konflik yang muncul dari Semenanjung Krimea membuat hubungan Ukraina dan Rusia memanas. Dari Suriah, banyak orang melarikan diri mencari keselamatan. Perang saudara membuat banyak jiwa bergerak masuk ke Eropa via Turki.

Melarikan diri dari daerah konflik tak lantas membuat hidup para pengungsi dan pencari suaka menjadi mudah. Tanpa orang tua dan kerabat dekat, kehidupan mereka sama sulitnya. Terutama mereka yang masih berusia muda. Kebanyakan dari mereka benar-benar tidak memiliki apa-apa selain pakaian yang mereka kenakan saat mereka melarikan diri.

Tergerak oleh kondisi yang ada, Football Supporters Europe (FSE), sebuah organisasi non-profit yang bermarkas di Hamburg, melakukan sebuah aksi yang bertujuan untuk meringankan beban para korban konflik. FSE yang menyebut diri mereka sebagai jaringan penggemar sepakbola demokratis terbesar di Eropa ini menjalankan sebuah kampanye yang mereka beri nama Second Fan Shirt.

Lewat kampanye tersebut FSE mengajak semua orang untuk ikut serta membantu para pengungsi dan para pencari suaka dengan cara menyumbangkan barang-barang layak pakai. Namun barang-barang yang disumbangkan tidak boleh sembarangan. Ada kriteria khusus.

“Kami menghimbau para pendukung tim sepakbola di seluruh Eropa untuk bertindak aktif dan mendonasikan (atau mengorganisir pengumpulan) pakaian yang sudah berdebu di lemari kalian,” bunyi himbauan di situs resmi FSE.

Pada dasarnya, barang apapun yang berhubungan dengan sepakbola boleh disumbangkan. Bahkan bola sepak yang jelas-jelas bukan pakaian. “Jersey, syal, selimut, jaket latihan, topi hangat, celana, bola sepak, sprei, atau semua barang yang berhubungan dengan sepakbola yang sudah tidak kalian perlukan namun masih berguna untuk mencerahkan hari anak-anak dan orang dewasa di pusat pengungsian.”

Jauh di tenggara Hamburg, aksi serupa sudah dijalankan. Bekerja sama dengan pemerintah Negara Bagian Bayern, Adidas memberikan sumbangan 250 setelan latihan, hoodie, topi, dan bola sepak untuk para pengungsi dan pencari suaka yang ditampung di Bayernkaserne, bekas fasilitas militer yang terletak di kota Munich.

“Situasi yang dihadapi oleh para pemuda ini membuat kami terdiam dan berpikir. Mereka datang ke negara yang asing tanpa orang tua atau saudara dan tanpa masa depan yang jelas. Mereka semata-mata bergantung kepada pertolongan dan rasa kemanusiaan orang-orang,” ujar gelandang Bayern dan tim nasional Jerman, Bastian Schweinsteiger.

“Rasanya menyenangkan mengetahui bahwa kunjungan kami dan kekuatan sepakbola yang kami bawa mampu memunculkan perasaan bahagia di mata para pemuda ini walaupun hanya sebentar saja.”

Schweinsteiger nampaknya lupa. Rasa bahagia yang dihadirkan oleh kunjungannya memang tidak akan berlangsung lama. Namun selama para pengungsi tersebut memiliki dan dapat memainkan bola, mereka akan terus bahagia.

Komentar