Presiden dan Sepakbola Indonesia (5): Strategi Gerendel Kabinet Gus Dur

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Presiden dan Sepakbola Indonesia (5): Strategi Gerendel Kabinet Gus Dur

Sepakbola dapat menjadi sarana kritik kehidupan dan membuatnya terlihat lebih sopan, unik, dan berbeda. Hal tersebut dilakukan Dr. Shindunata saat “berkomunikasi” dengan presiden pada masa itu, Abdurrahman Wahid. Ia menggunakan pengandaian dalam melancarkan pandangannya terhadap presiden Indonesia keempat tersebut.

Shindunata memanfaatkan momen jelang Piala Eropa 2000 untuk membuat tulisan berjudul “Surat Buat Gus Dur”. Dalam tulisan tersebut, Shindunata terkesan jengah dengan kondisi politik Indonesia pada saat itu. Ia menyebutnya “menjemukan dan menjengkelkan seperti yang sudah-sudah”.

Penulis di harian Kompas tersebut menyebut ketiadaan nurani fair play dari hati politikus di Indonesia. Padahal, sepakbola memiliki itu. Sehingga dalam 90 menit pertandingan, jarang ditemukan kengawuran antar pemain. Alasannya karena ada hukum tidak tertulis dimana setiap pesepakbola diminta untuk menghargai sesamanya.

Individualisme biasanya melekat pada pemain bintang. Tanpa seorang “petualang” sepakbola ibarat suatu negeri tanpa penyair. Shindunata menganggap kabinet Gus Dur saat itu tidak memiliki pemain bintang. Lalu, ia mengkritik dengan tajam lewat bahasa yang sopan: “Karena itu, kesebelasan Anda belum mampu membuat gebrakan dan kejutan, permainannya terkesan rata-rata saja.”

Pria yang mengambil studi doktoral filsafat di Honcscule fur Philosophie, Jerman, tersebut menyarankan Gus Dur menarik orang-orang berintelegensi tinggi di “kesebelasannya”. Karena tim yang akan dikenang, bukanlah mereka yang sekadar “juara”, tapi juga bermain “indah”.

Kritik Shindunata berlanjut dalam tulisan yang jauh lebih spesifik dengan judul “Catenaccio Politik Gus Dur”. Gus Dur dianggap mengatasi pansus DPR dengan strategi catenaccio.

Ciri utama Cattenacio adalah bertahan dengan menggerendel lawan, lalu mencari sela-sela secepat mungkin menggebuk gawang lawan. Karena watak defensifnya yang ekstrem, catenaccio adalah sistem yang tidak disukai di dunia sepakbola.(Shindunata, 2002:280-281)

Pemerintahan Gus Dur dianggap menggunakan strategi gerendel atau cattenacio. Strategi seperti ini tidak tepat jika digunakan untuk mengharapkan perubahan. Perubahan akan terjadi jika pemerintah memakai gaya sepakbola menyerang dengan mencari dan menemukan sebanyak-banyaknya peluang.

Di akhir tulisan, Shindunata menulis: “Kalau Gus Dur malah memakai ‘catenaccio politik’, yang cenderung menunggu peluang itu, betapa makin sulit kita mengharapkan perubahan. Benar, baru saja kita merasa hidup baru, tetapi sekarang tiba-tiba kita merasa sesak dalam udara lama, kembali dicekik cara pikir dan kekuatan lama. Dalam sekejap, kita seperti kehilangan bola emas di depan gawang lawan.

Dua tulisan tersebut nyatanya merangsang Gus Dur membalas kritik tersebut lewat penggunaan terminologi sepakbola pula. Ia menulis di harian Kompas dengan judul “Cattenacio Hanyalah Alat Berat”.

Gus Dur berpendapat strategi gerendel-lah yang paling cocok digunakan dalam rapat pansus DPR. Ia pun setuju dengan Shindunata bahwa pemerintahan mesti menggunakan strategi menyerang baik itu Total Football ataupun hit and run.

Gus Dur pun menulis: “Jadi, sangatlah keliru jika masalah demokrasi diukur hanya dengan ukuran Pansus DPR saja. Juga sangatlah keliru untuk menganggap strategi catenaccio dipakai untu ksemua hal.”

Ia menyebut strategi yang dilakukannya tidak murni bertahan, melainkan hit and run ataun kick and rush yang dulu biasa digunakan di Inggris. Strategi total football dapat diterapkan. Syaratnya, harus sesuai dengan kebutuhan. Apakah menggunakan strategi gerendel ataukah hit and run, atau total football.

Gusdur memang lekat dengan sepakbola sejak masa kecilnya. Saat dewasa dia adalah kolumnis sepakbola di harian Kompas. Secara rutin dia rajin menganalisa pertandingan-pertandingan liga-liga eropa dari segi taktikal. Saat menjalani masa-masa muda dan kuliah di Mesir, Gusdur adalah seorang gila bola sejati. Seringkali dia memilih bolos dari kampus demi menonton pertandingan bola.

Dibandingkan dengan deretan presiden lain di republik ini, Gusdur lah yang paling gila bola. Dia mencintai sepakbola sebagai seorang penggemar bola, bukan sebagai seorang politikus yang hanya sekedar memanfaatkan sepakbola sebagai olahraga massa.

Baca juga cerita lainnya: Presiden dan Sepakbola

Sumber gambar: gusdursphotos.blogspot.com

Komentar