Presiden dan Sepakbola Indonesia (4): Belajar Konsep Pembinaan Sepakbola Seperti Habibie

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Presiden dan Sepakbola Indonesia (4): Belajar Konsep Pembinaan Sepakbola Seperti Habibie

Kenapa belum ada insan sepakbola Indonesia yang kehebatannya diakui dunia seperti Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie? Adakah yang salah dari konsep pembinaan sepakbola kita?

Penulis belum menemukan catatan soal kegilaan BJ Habibie terhadap sepakbola.  Saat memimpin Indonesia yang teramat singkat, tak banyak pembenahan sistem sepakbola yang dia lakukan. Kondisi politik yang masih carut-marut pasca lengsernya Soeharto membuat Habibie abai akan hal itu. Tak salah memang.

Kendati begitu, banyak pembelajaran dari Habibie yang bisa PSSI tiru dan aplikasikan. Diantaranya adalah konsep pembinaan sepakbola Indonesia yang mestinya intensif dan berkesinambungan.

Indonesia tercatat pernah mengirim tim Primavera dan tim Bareti ke Italia, serta tim SAD ke Uruguay, dalam training camp jangka panjang. Bisa dibilang, hanya beberapa nama yang kemudian mencuat: Bambang Pamungkas, Kurniawan Dwi Julianto, Alfin Tuassalamony. Sisanya? Tak sehebat seperti yang dibayangkan.


Alfin di Timnas SAD Indonesia (Sumber gambar: gelorabungkarno.co.id)

Saat ini, terdapat sejumlah nama yang merupakan keturunan Indonesia dan diharapkan dapat menjadi pemain masa depan sejumlah klub di Eropa. Lorenzo Pace yang asli Bandung, bermain di Lazio. Emilio Audero Mulyadi di Juventus, dan Arthur Irawan di Espanyol.

Lantas, mengapa mereka bisa bermain di klub tersebut, sementara yang lain tidak?

Jawaban sederhananya adalah mereka berlatih langsung di klub selama beberapa tahun untuk mendapatkan metode latihan yang sesuai dengan atmosfer di Eropa. Apa beda dengan tim Primavera, Bareti, dan SAD? Mereka datang sendirian, bukan berombongan.

Legenda Real Madrid, Jorge Valdano pernah mengatakan bahwa individuaisme adalah sikap yang melekat pada pemain bintang, dan sepakbola berlaku bukan si pemain bintang yang harus menyesuaikan diri dengan kesebelasan, tetapi kesebelasanlah yang harus mendekatkan diri dengan pemain bintang itu.

Dari tulisan Valdano di atas, rasanya sulit menelurkan 23 pemain bintang dari sebuah training camp yang berlangsung satu atau dua tahun belaka. Lebih-lebih para pemain tetap dilatih oleh pelatih-pelatih di federasi. Bukannya mengerdilkan peran mereka, tetapi ada standar yang berbeda dalam pelatihan di Eropa dan di Indonesia. Pelatih sekelas klub saja setidaknya memiliki lisensi kepelatihan setingkat federasi ataupun Konfederasi. Sehingga kualitas permainan dapat lebih ditingkatkan.

Cukuplah misalnya PSSI mengirimkan tiga hingga lima pemain untuk disekolahkan di akademi sepakbola di klub Eropa. Kirimlah mereka yang masih berusia dini sekitar usia 10-12 tahun untuk membentuk pemahaman akan filosofi sepakbola, yang seringkali luput dari perhatian.

Setelah mereka mampu menembus tim utama, PSSI dapat memanggilnya ke timnas, dengan catatan jangan sekali-kali mengirimkannya bermain di klub yang berlaga di Indonesia. Sebagai pemain “bintang”, seperti yang ditulis Valdano, penggawa timnas lainnya lah yang mesti menyesuaikan. Dengan mengirimkan 23 pemain TC di luar negeri sama saja membuat mereka berlagak layaknya pemain bintang.

Dengan mengirim per individu, akan terbentuk pemain dengan mental mandiri dan tangguh. Sehingga tidak ada lagi pemain yang merasa home sick saat bermain di klub luar negeri karena jauh dari keluarga.

Membangun Infrastruktur

Indonesia adalah negara yang luas secara geografis, dan terbilang sulit untuk dijangkau. Dari Aceh ke Wamena misalnya. Sulit untuk mengandalkan perjalanan darat, karena mesti diselingi dengan perjalanan laut untuk perjalanan antar pulau. Setelah sampai di tanah Papua, jalur darat sulit diandalkan. Perlu perjalanan udara untuk mencapai Kota Wamena.

Habibie berjasa benar dalam pembangunan alat transportasi di Indonesia. Mungkin banyak yang berpikir mengapa kita, Indonesia pada umumnya, tidak membuat pesawat berbadan besar seperti yang dibuat Boeing atau Airbus. Kita, PT Dirgantara Indonesia khususnya, malah membuat pesawat yang secara ukurang terbilang kecil.

Nyatanya, hal tersebut demi menunjang kondisi alam yang ada di Indonesia. Untuk mencapai kota di atas pegunungan, tentu sulit jika menggunakan pesawat berbadan besar untuk melakukan manuver di ketinggian.

Tahun ini, Habibie mengumumkan pembuatan pesawat R80 yang merupakan penyempurnaan dari pesawat N-250 yang dibuat pada 1995 lalu.


Pesawat N-250 Gatotkaca buatan IPTN. (SUmber gambar: Airliners.net)

Dengan pesawat berbadan kecil atau pesawat perintis, kini masyarakat bisa lebih mudah mengunjungi Wamena. Khususnya di sepakbola, saat Persiwa Wamena berlaga di Liga Indonesia, semua tim mesti bertandang ke sana dan tentu saja menggunakan transportasi udara.

Pesawat buatan Indonesia, BJ Habibie khususnya, menjadi pilihan sarana transportasi terbaik untuk menjelajahi area wilayah di Indonesia.

Habibie memang tidak setenar Susilo Bambang Yudhoyono yang kerap datang dan menonton sepakbola di stadion. Namun, ilmu dan pengalaman yang ia miliki hendaknya diresapi dalam diri, serta menjadi pelajaran bagi sepakbola Indonesia pada umumnya.

Baca juga cerita lainnya: Presiden dan Sepakbola

Sumber gambar: stasiareport.com

Komentar