Eva Carneiro, Chelsea dan Pandangan Sepakbola tentang Perempuan

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Eva Carneiro, Chelsea dan Pandangan Sepakbola tentang Perempuan

Katanya, sepakbola adalah olahraganya para pria. Sepakbola dianggap sebagai olahraga yang maskulin. Ya, tapi itu hanyalah anggapan yang telah usang. Kini, perempuan memiliki lebih banyak ruang di sepakbola. Di lapangan, perempuan sering terlihat menjadi wasit hingga fisioterapis.

Salah satunya adalah Eva Carneiro. Ia kerap hilir mudik di atas lapangan untuk menangani pemain yang membutuhkan penanganan medis. Ada ocehan yang menyebut para pemain Chelsea terkadang mengerang kesakitan dan berbaring terlalu lama di atas lapangan. Ini dilakukan agar Eva datang untuk menangani mereka.

Carneiro lahir di Gibraltar dari seorang ayah berkebangsaan Spanyol, dan ibu yang asli Inggris. Ia mengambil studi ilmu kedokteran di Universitas Nottingham. Ia pun sempat menghabiskan dua tahun masa kuliahnya di Austalians College of Sports Physicians di Australia. Sementara tesisnya diselesaikan di Universitas Queen Mary, London, Inggris.

Pada akhirnya, pengetahuan yang ia miliki membuatnya bersinggungan dengan olahraga, khususnya sepakbola.

Karirnya dimulai dari Klinik Sports dan Orthopaedic di Rumah Sakit Whittington dan Olympic Medical Institut. Pengalamannya tersebut membuatnya diikutsertakan mengikut program yang dirancang Sports and Exercise Medicine Specialist. Program tersebut membuatnya bekerja lebih dekat dengan para atlet sebelum penyelenggaraan Olimpiade 2008 di Beijing

Di sepakbola, ia mulai menjadi tim doker bagi timnas Inggris perempuan. Setahun kemudian, Eva bergabung dengan Chelsea. Awalnya, ia hanya bekerja untuk tim cadangan. Namun, Andre Villas-Boas mempromosikannya ke tim utama pada musim 2011/2012.

Eva menganggap peran tim medis amat penting bagi sebuah tim. Terutama bagi Chelsea yang setiap tahun menjadi langganan masuk ke zona Eropa. Masa recovery yang singkat membuat pemain menjadi rentan cedera. Tim medis bertugas untuk memastikan kesiapan pemain dan mengurangi potensi cedera. Misalnya, saat ada pemain yang tidak fit, tim medis bisa merekomendasikan agar pemain tersebut diistirahatkan.

Musim 2011/2012 Chelsea melakoni 69 pertandingan dalam satu tahun. Lokasi pertandingannya tersebar di tiga benua dengan zona waktu yang berbeda. Masalah pun muncul: pemain kesulitan tidur.

Tugas Eva terbilang berat sebenarnya. Ia harus membantu pemain secara fisik dan mental, untuk mengatasi perbedaan waktu tersebut. Eva lantas membuat sejumlah cara. Salah satunya dengan mengubah penerangan agar pemain Chelsea bisa beradaptasi. Pasalnya, sering terjadi di mana otak dan tubuh belum sinkron untuk tidur. Tubuh yang lelah meminta istirahat, sementara otak belum merasa saat tersebut adalah waktu yang tepat untuk tidur.

Sebagai tim besar, Chelsea sebenarnya memiliki tim kesehatan lengkap seperti sport scientist, pelatih fisik dan stamina, fisioterapis, dan pelatih biomekanika. Tugas Eva adalah mengumpulkan informasi dari mereka dan mengambil simpulan dari informasi tersebut, untuk dikirimkan kepada pelatih.

Meskipun memiliki peran yang besar, perempuan pada umumnya, yang terjun dan menekuni karir di sepakbola, kerap mendapatkan perlakuan yang secara kasar bisa terlihat sebagai pelecehan. Misalnya saja beberapa situs berita kerap mengaitkan Eva sebagai "hot" atau "sexy" atau "beautfiul assests". Padahal, ungkapan-ungkapan semacam itu menyiratkan adanya eksploitasi terhadap fisik perempuan itu sendiri.

Sejumlah gambar yang beredar pun seolah tidak memperlihatkan rasa hormat kepada perempuan. Misalnya gambar (maaf) pantat Eva saat melakukan tugasnya, dan gambar serta kata-kata pelecehan lainnya.

Maka, jangan heran jika Eva menginginkan perempuan di masa mendatang dengan: “ass-kicking women, that are not behaving like men". 

Ya, jangan berperilaku seperti pria-pria yang tak punya rasa hormat itu!



Sumber gambar: 3news.co.nz

Komentar