Ketika Karyawan Dropbox Bersitegang dengan Warga demi Bermain Bola

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Ketika Karyawan Dropbox Bersitegang dengan Warga demi Bermain Bola

Anda tahu layanan cloud bernama Dropbox? Ada sedikit cerita menarik tentang bagaimana perusahaan itu bersitegang dengan warga dalam urusan yang bagi mereka yang sadar hak ternyata bisa jadi urusan besar: akses terhadap ruang publik untuk bermain sepakbola.

Kisah dimulai dari sebuah video yang diunggah pada 25 September 2014 menjadi viral. Dalam video tersebut terlihat seorang pria yang mengusir sekelompok anak dari lapangan sepakbola publik. Mereka berargumen telah menyewa lapangan tersebut seharga $27. Adu argumen pun tak terelakan karena dalam aturan tertulis, di jam tersebut, anak-anaklah yang berhak menggunakan lapangan.

Diketahui para pria tersebut merupakan pekerja dari situs cloud besar, Dropbox. Mereka datang dengan mengenakan jersey UnderArmour dengan logo dropbox tercetak begitu besar di bagian dadanya.

Para pria tersebut mulai menginvasi lapangan sembari berkata “bulsh*t with the rules, we paid $27”. Lantas seorang anak dengan beraninya menantang pria tersebut. Ia meminta diperlihatkan kwitansi sewa seperti yang diucapkan pemuda tersebut.

“Sejak kapan lapangan ini disewakan? Biarkan kami melihat kertas sewanya (kwitansi). Kalau kalian bisa memperlihatkan kertasnya, silakan mau main satu atau dua jam sekalipun, terserah semau kalian,” tutur anak yang menggunakan topi tersebut.

Lalu, pria berbaju hitam yang ia ajak bicara berkelit, “Teman kami yang membawa kwitansinya tak datang ke sini.”

Seorang anak yang tumbuh lebih cepat dari yang lainnya mencoba menengahi. Ia menegaskan lapangan tersebut adalah lapangan masyarakat yang tidak pernah disewakan. Anak dengan potongan rambut seperti Neymar tersebut meminta pengertian dari pria yang secara usia lebih tua.

Tiba-tiba saja seorang pria berbaju putih dengan wajah kesal mencoba menekan anak tersebut. “Si Neymar” pun membalas dengan telak, “sejak kapan kamu tinggal di sini?”

“Sekitar setahunan...”

“Hah, setahun?” kata “Si Neymar” dengan nada mengejek yang disambut tawa sinis dari anak-anak lain. “Aku sudah di sini selama 20 tahun, sepanjang hidupku,” si Neymar melanjutkan.

“Kita main bareng saja. Kalian punya tim, kita bagi dua, lalu main bersama,” ujarnya bijak. Tampak ada wajah tak puas dari para pria tersebut.

Pria berbaju putih tersebut lalu bicara pada pemegang kamera, “Kamu merekam semuanya?”

“Ya tentu saja,” kata si pemegang kamera yang disambut dengan sorakan dari anak-anak yang tengah berkumpul. “Ya, dia merekamnya, memangnya kenapa? Ada yang salah?” kata anak-anak tersebut.

Di penghujung rekaman, akhirnya teman si pemuda yang membawa kwitansi datang.

Anak-anak yang bermain bola sebenarnya terganggu atas kehadiran “orang baru” tersebut. Mereka yang memiliki uang lantas “membeli” izin agar bisa bermain, dengan melanggar aturan. Mereka pun merusak budaya bermain sepakbola di lingkungan tersebut.

Biasanya, anak-anak atau pemuda di Mission Playground, San Francisco, bermain tujuh lawan tujuh. Jika lebih, maka dibentuk tim baru yang berisi tujuh orang. Saat ada yang mencetak gol, saat itu pula mereka bergantian. Tim yang kebobolan istirahat, dan tim cadangan yang memulai giliran. Hal ini dilakukan agar semua anak dan pemuda di sana mendapat kesempatan untuk bermain bola. Hal seperti ini sudah dilakukan sejak lama, ketika lapangan tersebut masih beralaskan aspal, sebelum akhirnya diganti dengan rumput buatan.

Tidak ada yang salah sebenarnya karena masalah ini timbul akibat kebingungan dua pihak tersebut. Di satu sisi, anak-anak yang sudah tinggal lama di situ merasa bahwa di jam tersebut merupakan waktu bagi anak-anak untuk bermain bola. Para pemuda bisa bermain di jam lain. Sementara itu, grup pemuda yang berisi “orang-orang baru” merasa benar karena telah menyewa lapangan tersebut. Hal ini diakui oleh Departemen Pertamanan dan Rekreasi San Francisco bahwa memang benar ada aturan pay-to-play. Mereka memiliki opsi “izin penggunaan” dengan cara membayar.


Hal ini mendapat respon beragam dari masyarakat. Bahkan ada yang membuat petisi untuk melawan aturan yang mengharuskan masyarakat membayar di lapangan sepakbola publik. Tidak sedikit masyarakat yang menganggap pemerintah bagaikan tuan tanah yang merebut hak masyarakat dan menyewakannya kepada orang-orang kaya.

Sementara itu, pihak dropbox sendiri mengaku kecewa atas perilaku sejumlah pekerjanya. Ia menyebut mereka “tidak menghargai komunitas” di lapangan Mission Playground. “Para pekerja yang terlibat begitu memalukan. Kami meminta maaf dan kami berjani melakukan yang terbaik.”

Dropbox sendiri merupakan perusahaan cloud besar yang didirikan pada September 2008. Kemampuannya yang bisa menyingkronkan sejumlah operating system, membuat Dropbox lebih banyak digunakan.

Dari sebuah perusahaan start-up, Dropbox berkembang pesat. Pada 2011, seorang pengamat entrepreneur, Praveen Yajman, berspekulasi bahwa Dropbox bernilai lebih dari 1 milliar USD. Di tahun yang sama, Dropbox mendapatkan keuntungan hingga 240 juta dollar.


Kantor Dropbox. Lengkap kalau urusan cinta.

Dengan kekayaan yang melimpah, nyatanya pekerja Dropbox sampai harus menyewa lapangan publik demi sekadar main bola. Sebuah hal ganjil karena seharusnya perusahaan lewat CSR membantu masyarakat lewat pembangunan infrastruktur. Benar, perilaku yang terekam di video tidak bisa disalahkan, karena pengelola lapangan memang mengijinkan lapangan digunakan asal membayar. Namun, lain daripada itu, ada nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat yang dilangkahi dalam bentuk uang.

Suatu saat, Dropbox mestinya bisa membangun lapangan sepakbola sejenis dan memberikannya keleluasaan pada masyarakat untuk menggunakannya. Bukan sebaliknya.



Sumber cerita: missionlocal.org

Komentar