Konspirasi Jatuhkan Qatar Lewat Piala Dunia 2022

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Konspirasi Jatuhkan Qatar Lewat Piala Dunia 2022

Kepentingan apa sebenarnya yang ada di balik para penentang Piala Dunia 2022 yang diselenggarakan di Qatar. Media Inggris dan Amerika menjadi yang paling bising dalam urusan menentang penyelenggaraan tersebut.

Sebelumnya, Rusia sempat digoyang isu pendudukan Crimea yang menghasilkan ketegangan antara dunia Barat dengan negeri Vladimir Putin tersebut. Sejumlah negara Uni Eropa berencana memboykot penyelenggaraan Piala Dunia 2018, meski hal tersebut wacana belaka.

FIFA beralasan, jadwal Piala Dunia 2018 terlampau dekat untuk diutak-atik. Negara mana memangnya yang mampu menyiapkan Piala Dunia dengan sukses dalam jangka waktu tiga tahun? Lagi pula, tidak ada tindakan yang salah dengan apa yang dilakukan Rusia. Toh, Crimea lepas lewat referendum.

Lalu apa yang ada di pikiran dua senator Amerika Serikat sehingga mereka meminta FIFA mengeluarkan Rusia dari keanggotaan? Apa karena Rusia mengganggu “rumah tangga” orang? Mengapa Amerika tiba-tiba amnesia saat sang saudara tua, Israel, secara resmi, sadar, dan nyata, membantai ribuan warga Palestina yang tak berdosa?

Kini, media Amerika dan Inggris gencar memberitakan dan mendukung pemindahan negara penyelenggara Piala Dunia 2022. Dalam berita yang dikeluarkan, mayoritas berisi kutipan yang menyudutkan Qatar sebagai tuan rumah.

Senin (22/9) lalu, jagat twitter kembali ramai karena pernyataan salah seorang anggota komite eksekutif FIFA,   Theo Zwanziger. Ia mengungkapkan, Piala Dunia 2022 akan segera dipindahkan dari Qatar terkait dengan cuaca panas di negeri tersebut.

Pemerintah Qatar sebenarnya telah mengajukan proposal mengenai pendingin udara yang akan dipasang di dalam dan di luar stadion.

Sekjen Komite Penyelenggara Piala Dunia 2022, Hassan Al-Thawadi, membuktikan teknologi pendingin sebenarnya telah diterapkan di Piala Dunia Brasil 2014. Pendingin tersebut dipasang di tempat berkumpul fans yang terletak di pusat kota dan di luar stadion.

“Teknologi tersebut sukses besar,” ucap Thawadi pada Die Welt.

Qatar sebenarnya sudah siap jika FIFA tetap ingin menggelar Piala Dunia pada Juli-Juni yang bertepatan dengan musim panas. Toh Qatar sudah memiliki teknologi untuk mengatasi itu semua.

Zwanziger tak peduli. Ia menganggap cuaca panas akan memengaruhi kondisi kesehatan pemain, ofisial, hingga penonton yang hadir di stadion.

“Secara pribadi, aku pikir, pada akhirnya Piala Dunia 2022 tidak akan dilangsungkan di Qatar,” ujarnya pada Guardian. “Mereka (Qatar) mungkin akan mampu mendinginkan stadion, tapi Piala Dunia tak hanya bertempat di sana. Penggemar dari seluruh dunia akan datang dan berpergian dalam kondisi panas seperti ini.”

Setelah komentar tersebut, FIFA dengan cepat menyatakan bahwa apa yang diungkapkan Zwanziger merupakan pendapat pribadi, dan bukan pendapat resmi organisasi.

Nasser al-Khater, direktur eksekutif bidang komunikasi Qatar, merespon pernyataan tersebut dengan berkata: “Pertanyaannya sekarang adalah ‘kapan’ (Piala Dunia digelar), bukan ‘jika’. Musim panas ataupun musim dingin, kami siap,” ucapnya mantap.

Sementara itu, Presiden Konfederasi Sepakbola Asia (AFC), Sheikh Salman bin Ebrahim Al-Khalifa, tengah mendiskusikan mengenai waktu penyelenggaraan. Ia memiliki dua opsi jika Piala Dunia akan digelar pada musim dingin: Januari hingga Februari 2022, atau November hingga Desember 2022.

Apa yang dilakukan para penentang ini sebenarnya tidak memiliki alasan yang jelas. Jika temperatur udara menjadi masalahnya, teknologi pendingin yang dimiliki Qatar bisa mengubah suhu panas di Brasil hingga 22 derajat celsius.

Sebagai orang modern yang terbuka atas segala inovasi, kita mestinya percaya delapan tahun lagi teknologi pendingin ini bisa jauh lebih canggih daripada sekadar perangkat AC yang kita kenal.

Kini, tersiar kabar alasan mengapa mereka menolak Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022, karena adanya ancaman kerusuhan dari organisasi pemberontak seperti ISIS. Atau yang lebih ekstrem, mereka takut penyelenggaraan Piala Dunia berdiri di atas tegaknya khilafah Islam.

Hal ini sebenarnya sudah terdengar sejak lama. Pada 2004, National Intelegence Council (NIC), sebuah lembaga pemikir jangka panjang Amerika, memperkirakan pada tahun 2020 khilafah Islam akan berdiri.

Dalam laporan tersebut, ditulis seperti ini:

A radical take over in a Muslim country in the Middle East could spur the spread of terrorism in the region and give confidence to others that a new Caliphate is not just a dream.

Jika menggunakan akal sehat, mengapa Inggris dan Amerika tak bisa bersabar toh mereka masih bisa melakukan bidding untuk Piala Dunia 2026. Menunggu lebih lama empat tahun, sepertinya bukanlah hal yang terlalu sulit. Pada masa tersebut, mereka bisa lebih tenang dalam mempersiapkan diri membangun fasilitas yang nantinya akan digunakan.

Penolakan terhadap Qatar sendiri berarti bentuk khianat terhadap demokrasi yang katanya berasal sebagai bentuk etik dunia barat. Qatar dipilih lewat bidding dengan empat tahap. Kini para penolak tersebut tidak mempercayai hasil bidding tersebut.

Katanya, sejumlah pejabat FIFA mendapat suap berupa uang, minyak bumi dan proyek pengerjaan konstruksi di Qatar. Para penolak pun meminta pemungutan suara ulang (bahasa lain dari pemindahan negara penyelenggara Piala Dunia).

Sumber gambar: lifeinnorway.net

Komentar