Mengenal Istilah Pemain Homegrown

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Mengenal Istilah Pemain Homegrown

Pada bursa transfer musim panas 2014/2015, Chelsea sempat dibuat kebingungan karena kelebihan kuota jumlah pemain non-homegrown. Dalam skuat Chelsea saat itu, terdapat 18 pemain non-homegrown, di mana dalam regulasi Premier League, setiap tim hanya boleh mendaftarkan 17 pemain non-homegrown dari 25 pemain yang didaftarkannya.

Sebenarnya, yang perlu diperhatikan dalam regulasi homegrown ini adalah, kewajiban setiap tim harus memiliki delapan pemain homegrown sebagai syarat utama mengikuti liga. Ketika Chelsea kelebihan kuota pemain non-grown, bisa saja Chelsea tak mendaftarkan salah satu pemain non-homegrown-nya, tapi itu tentunya akan merugikan klub karena harus terus menggaji pemain tersebut, tapi mereka tak bisa memainkan pemain tersebut.

Lalu apa yang dimaksud dengan pemain homegrown? Pemain homegrown atau bisa disebut juga pemain lokal adalah pemain yang usianya 21 tahun atau lebih yang telah menghabiskan tiga musim di satu negara saat pemain tersebut berusia 16-21 tahun. Atau bisa dibilang pemain tersebut merupakan pemain lulusan akademi negara itu sendiri.

Banyak yang menyebut non-homegrown identik dengan sebutan pemain asing. Namun nyatanya, status pemain homegrown tak memedulikan dari mana asal negara pemain tersebut. Cesc Fabregas adalah salah satu contoh pemain homegrown yang bukan berkewarganegaraan Inggris. Status tersebut Fabregas dapatkan karena pada usia antara 16-21, Fabregas menghabiskan tiga musimnya bersama Arsenal.

Tiga musim yang dihabiskan para pemain untuk mendapatkan status homegrown di sebuah negara tak harus menetap dalam satu klub. Selama pemain muda tersebut bermain di liga/negara yang sama, maka pemain tersebut bisa mendapatkan status pemain homegrown. Jika seorang pemain tersebut dipinjamkan ke liga luar, maka penghitungan tiga musim tersebut akan mulai kembali dari nol.

Untuk pemain yang berusia di bawah 21 tahun, tak perlu dimasukkan ke dalam 25 nama yang didaftarkan setiap tim untuk Premier League. Tapi tak jarang pula ada pemain berusia di bawah 21 tahun yang didaftarkan ke dalam 25 pemain untuk Premier League hanya untuk memenuhi kuota delapan pemain homegrown.

Maka beruntunglah bagi klub yang memiliki pemain muda berkualitas. Karena tim tersebut bisa memiliki lebih dari 25 pemain yang siap berkompetisi di Premier League.

Regulasi ini tak membatasi setiap klub untuk memasang standarisasi berapa pemain homegrown yang harus bermain dalam sebuah pertandingan. Bahkan setiap klub diperbolehkan untuk memasang 11 pemain non-homegrown sekaligus dalam sebuah pertandingan. Maka tak heran jika Manchester City atau pun Newcastle United sering memasang banyak pemain non-homegrown dalam starting line up-nya.

Peraturan ini diadaptasi dari peraturan UEFA yang lebih dulu memberlakukan sistem ini pada 2008-2009. Setiap tim yang berlaga di Liga Champions maupun di Europa League pun harus mendaftarkan minimal delapan pemain lokal dari 25 pemain dari total yang didaftarkannya. Peraturan ini diberlakukan untuk mengantisipasi agar klub-klub kaya memiliki batasan tertentu dalam perekrutan pemain.

Selain itu, aturan ini pun bertujuan untuk mendorong tim-tim di Eropa agar lebih mengembangkan pemain lokalnya. Karena jika aturan ini tak diberlakukan, tak menutup kemungkinan akan banyak tim Eropa yang merekrut banyak pemain asing untuk memperkuat skuatnya. Tentunya ini akan mengancam identitas lokal klub itu sendiri.

foto: flickr.com

Komentar