Gelaran Piala Presiden Perlu Mendapat Evaluasi

Berita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Gelaran Piala Presiden Perlu Mendapat Evaluasi

Liga 1 Indonesia 2018 rencananya baru akan bergulir pada awal Maret mendatang. Namun aroma persaingan khas kompetisi malah sudah terasa sejak jauh-jauh hari sebelum kompetisi resmi sepakbola Indonesia itu digelar. Aroma persaingan sengit khas kompetisi itu sudah tersaji di Piala Presiden 2018, yang merupakan ajang pemanasan sebelum kompetisi resmi digelar. Setidaknya itulah yang dilihat oleh Pelatih PSM Makassar, Robert Rene Albert.

Melalui pandangannya, sejak kali pertama Piala Presiden 2018 digelar pada 16 Januari lalu banyak kesebelasan menganggap bahwa gelaran Piala Presiden merupakan ajang bergengsi, hingga tak jarang mereka tampil habis-habisan untuk mencapai target tinggi di ajang tersebut. Robert menganggap, Piala Presiden tak ubahnya kompetisi yang digelar sebelum kompetisi yang sesungguhnya dimulai.

Piala Presiden yang notabene merupakan turnamen pra-musim dipandang Robert sebagai ajang penting dan bagus bagi kesebelasan untuk mengembangkan permainan serta mengasah taktikal sebelum menghadapi kompetisi resmi nanti. Namun, apabila pra-musim dikemas layaknya pertarungan di kompetisi resmi, maka hasilnya tidak baik untuk kesiapan tim.

Baca juga: Salah Kaprah "Turnamen" Pra-Musim di Indonesia

Tingginya tensi pertandingan di Piala Presiden memang berpotensi merugikan kesebelasan yang ambil bagian di dalamnya, terlebih pada aspek kondisi kebugaran pemain. Masa pra-musim seharusnya bisa dijadikan para pemain untuk mengembalikan kembali kondisi kebugaran pasca berakhirnya kompetisi. Namun bila di masa pra-musim pemain sudah dipaksa menghadapi pertandingan tensi tinggi, maka potensi cedera pun menjadi momok yang menakutkan.

Apalagi banyak penelitian mengatakan bahwa umumnya atlet rentan mengalami cedera di masa pra-musim. Hal tersebut dikarenakan kondisi kebugaran mereka yang belum stabil pasca berakhirnya kompetisi. Dengan kondisi kebugaran yang belum stabil, tentu saja pemain akan berpotensi mengalami cedera apabila menghadapi pertandingan pra-musim dengan tensi tinggi.

“Saya melihat orang-orang lebih tertarik dengan uang hadiah maka semua bermain mati-matian di Piala Presiden. Ini seperti ada kompetisi sebelum dimulainya kompetisi yang sesungguhnya. Tentu itu bukan hal bagus bagi perkembangan sepakbola di sini. Ini hanya turnamen pra-musim, tidak perlu disikapi seperti kita berada dalam situasi hidup dan mati, ini bukan Piala Dunia, kita harus belajar menyeimbangkan setiap hal,” kata Robert.

“Kami cukup lega, karena mengakhiri turnamen ini dengan tanpa adanya pemain yang cedera, karena tingginya tensi pertandingan di Piala Presiden. Lihat Persib, di laga tadi ada pemainnya cedera dan itu pemain kunci, kami ingin hindari itu di Piala Presiden ini.”

Baca Juga: Gelar Juara di Piala Presiden itu Tidak Penting

Robert meminta adanya evaluasi terkait format penyelenggaraan Piala Presiden. Mengingat besarnya gengsi yang dimiliki Piala Presiden, Robert pun mengusulkan agar turnamen yang kali pertama bergulir pada 2015 itu dijadikan sebagai turnamen domestik yang digelar berbarengan dengan kompetisi. Pertimbangan lain Robert mengenai usulannya itu pun terkait waktu penyelenggaraan yang menurutnya sangat mepet dengan kompetisi.

“Jadi dengan segala hormat kepada Bapak Presiden, turnamen tahun depan bisa dibuat dengan waktu yang lain. Atau menjadikan Piala Presiden sebagai turnamen domestik layaknya FA Cup dan Piala Liga di Inggris yang digelar bersamaan dengan kompetisi,” tegasnya.

Rencana lanjutan pra-musim PSM

Selain Piala Presiden, di masa pra-musim ini PSM juga tampil di ajang PSM Makassar Asian Super Cup. Dua turnamen tersebut tuntas diikuti PSM, dengan pencapaian berbeda. Di PSM Asia Super Cup, PSM meraih gelar juara, sementara di Piala presiden laju mereka terhenti di fase penyisihan.

Namun bukan berarti agenda pra-musim PSM berakhir. Robert mengungkapkan bahwa dirinya telah mempersiapkan agenda pra-musim tahap dua, dengan menggelar pemusatan latihan di Bali. Kabarnya, Juku Eja akan berada di Pulau Dewata selama 20 hari.

Di Bali, Robert akan fokus membangun kekompakan timnya. Selain itu, pemahaman soal filosofi bermain yang akan ia terapkan di kompetisi nanti pun menjadi salah satu menu yang akan diberikan kepada anak asuhnya.

“Kami punya rencana di pra-musim beberapa pekan dan masih harus membangun tim seperti filosofi saya. Karena setiap pelatih itu punya filosofi yang berbeda. Kami sudah mengasah airobik dan kini mulai menyentuh soal kecepatan, kami ingin pemain lebih cepat dalam bergerak dan berpikir.”

Pemilihan Bali sebagai destinasi tujuan PSM dalam melakukan persiapan sebelum mengarungi kompetisi lebih dikarenakan minimnya fasilitas berlatih yang ada di Makassar. Menurut Robert, Bali hampir sama dengan Bandung yang memiliki banyak stadion dan lapangan mumpuni sebagai fasilitas sepakbola.

“Dan perlahan saya akan tanamkan soal mentalitas, mental untuk menang dan pemahaman soal taktik, itu yang akan saya latih di periode kedua pra-musim ini di Bali. Karena di Makassar tidak ada lapangan yang bagus, mungkin Bandung ada banyak dan stadion bagus tapi Makassar belum,” tukasnya.

Komentar