Komentar Mourinho Soal Status Spesialis Musim Kedua

Berita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Komentar Mourinho Soal Status Spesialis Musim Kedua

Jose Mourinho menjadi salah satu manajer kenamaan di sepakbola Eropa maupun dunia. Namanya melambung sebagai salah satu juru taktik terbaik karena rekam jejaknya yang pernah menukangi tim-tim besar Eropa seperti FC Porto, Chelsea, Real Madrid, dan Internazionale Milan. Mourinho kini tercatat sebagai pelatih Manchester United.

Rekam jejak menawan yang dimiliki Mourinho tentu tak lepas dari ukiran prestasi yang dibuatnya, sejak tahun 2002 hingga 2017, Mourinho sudah melatih lima kesebelasan dari kompetisi berbeda. Dari jumlah tersebut, ia selalu membawa tim yang diarsitekinya meraih gelar juara. Hal tersebut juga berlaku saat ia kini menukangi Man United, tercatat di musim pertamanya bersama "Setan Merah", tiga gelar di ajang Community Shield, Piala Liga Inggris, dan Liga Europa berhasil ia berikan.

Meski begitu, tetap saja masih ada yang kurang. Kembali mengacu pada karier kepelatihannya sejak tahun 2002, FC Porto, Chelsea, Inter Milan, dan Real Madrid selalu berhasil dibawa pelatih asal Portugal itu meraih gelar juara di kompetisi domestik. Bahkan ketika menukangi Porto, Chelsea (periode awal musim 2004 -2007), dan Inter Milan, gelar kompetisi domestik selalu berhasil diberikan di tahun pertamanya.

Namun kecenderungan tersebut berubah saat ia mengarsiteki Real Madrid pada musim 2010/2011 lalu. Musim pertamanya di Santiago Bernabeu berjalan kurang mulus. Ia gagal meruntuhkan dominasi Barcelona untuk meraih gelar juara di La Liga. Meski begitu pada tahun pertamanya membesut Real Madrid, Mourinho sukses membawa klub berjulukan Los Blancos itu meraih gelar juara di ajang Copa Del Rey.

Tuah Mourinho untuk membawa tim yang diasuhnya memenangkan gelar di kompetisi domestik akhirnya berbuah di musim keduanya bersama Real Madrid. Mourinho sukses membawa Los Blancos meraih titel di La Liga, namun setelah itu prestasi Real Madrid mengalami kemerosotan, yang membuatnya terdepak pada musim 2013.

Mourinho kemudian kembali ke Chelsea. Namun gelar juara Liga Primer Inggris gagal ia raih di musim pertamanya bersama The Blues. Baru pada musim 2014/2015 ia mampu membawa klub asal kota London itu berjaya di kompetisi domestik.

Dari sana kemudian Mourinho dikenal sebagai pelatih yang memiliki kecenderungan untuk membawa tim yang diasuhnya memenangkan gelar di kompetisi domestik pada musim keduanya. Ketika memutuskan pindah ke United pada tahun 2015, musim pertamanya gagal berbuah gelar di Liga Primer Inggris.

Meski begitu, melihat kecenderungannya sejak melatih Madrid hingga akhirnya Chelsea, para pendukung "Setan Merah" pun menaruh harapan besar kepada The Special One untuk memberikan gelar juara Liga Primer Inggris di musim keduanya bersama United.

Kendati demikian, Mourinho enggan terlalu menasbihkan dirinya sebagai pelatih spesialis musim keduanya. Dalam sebuah wawancara bersama Soccer Saturday, Mourinho mengatakan bahwa ia tidak terlalu memahami hal tersebut, sebab dalam perjalanan kariernya sebagai manajer ia pun pernah memenangkan gelar di musim pertama bahkan ketiga.

"Saya tidak tahu mengapa orang berbicara tentang musim kedua karena saya menang di musim pertama dan saya menang di musim ketiga. Saya tidak terlalu memahaminya,” katanya.

Meski begitu, mantan asisten pelatih Barcelona itu mengungkapkan bahwa pada musim kedua memang peluang untuk meraih gelar, khususnya di kompetisi domestik lebih terbuka lebar. Ia bercerita bahwa seorang manajer akan menemui masalah klasik di musim pertamanya menangani kesebelasan.

Masalah yang paling sering terjadi adalah kesulitan untuk mengatur program di masa pra-musim. Selain itu, tak jarang juga manajer mendapat masalah minimnya keleluasaan dalam menentukan komposisi tim, apalagi bila manajer tersebut datang di tenggat akhir jendela transfer.

"Saya hanya berpikir bahwa musim kedua adalah musim yang baik dalam kaitannya dengan musim pertama karena di musim pertama Anda tiba dan kadang-kadang, seperti dalam kasus saya, saya bahkan tidak mampu mengatur program terbaik di pra-musim,” terangnya.

"Selain itu, ketika saya tiba di musim pertama, umumnya klub sudah memiliki investasi pada pembelian pemain. Anda tidak bisa memiliki kesempatan mengatur skuat, menjual pemain, atau membeli pemain,” sambungnya.

Mourinho melanjutkan bahwa pada musim kedua, masalah-masalah yang dihadapi sebelumnya akan lebih mudah teratasi. Hal itu terjadi karena ia sudah tahu kekurangan yang harus diatasi menuju musim berikutnya. Keleluasaan tentu akan didapatkan dalam hal apapun, itulah kondisi yang sangat ideal untuk merevolusi tim setelah gagal di musim pertamanya. Meski begitu, hal tersebut pun tak menjadi jaminan bahwa ia bisa lebih sukses dari musim pertama karena berbagai faktor pendorong.

"Di musim kedua, Anda memiliki pengaruh pada tingkat itu, Anda memiliki kondisi yang lebih baik untuk bekerja dan mendapatkan hasil tersebut. Tapi Anda bermain melawan tim lain yang manajernya berada di musim ketiga atau kedua atau keempat atau kelima. Jadi musim kedua mungkin tidak jadi keuntungan besar," ungkap Mourinho.

Potensi juara musim kedua Mourinho bersama Manchester United

Kendati demikian, tidak ada pilihan lain bagi Mourinho untuk mempertahankan kecenderungan kesuksesan meraih gelar juara kompetisi domestik di musim keduanya bersama United. Setelah pada musim pertama Mourinho gagal total di Liga Primer karena hanya mampu membawa "Setan Merah" duduk di peringkat enam klasemen akhir, kesempatan Mourinho ada di musim keduanya.

Peluangnya sangat terbuka lebar, karena saat ini United berada di jalur yang benar dengan menduduki posisi puncak hingga menjelang bergulirnya pekan kelima. Selain itu, dari empat pertandingan yang sudah dilakoni, United mencatatkan tiga kemenangan dan satu hasil imbang. Namun Mourinho enggan besar kepala, menurutnya kompetisi masih panjang dan masih banyak hal yang akan terjadi ke depannya.

"Di klasemen kami berada di posisi puncak dengan 10 poin. Tapi, ada Manchester City juga yang punya 10 poin. Chelsea punya sembilan poin, Tottenham mungkin tujuh, Liverpool tujuh, jadi apa bedanya? Satu poin, dua poin, tiga poin, satu akhir pekan, dua akhir pekan, mereka juga memiliki manajer dengan sejarah gelar. Tidak semua di Liga Primer tapi di negara lain. Semua orang memiliki sejarah kesuksesan,” tegasnya.

Foto: Mirror, Sports Yahoo

Komentar