Kuasa PSG Masih Tertancap di Prancis

Berita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Kuasa PSG Masih Tertancap di Prancis

AS Monaco menggeliat. Harapan akan Ligue 1 yang lebih kompetitif dan retaknya tembok Paris-Saint Germain (PSG) yang sulit tertembus dalam empat musim terakhir di Ligue 1 akhirnya terwujud. Kamis (18/5/2017) dini hari, Monaco memastikan diri menjuarai Ligue 1 2016/2017. Tapi, kuasa Paris belum sepenuhnya lenyap dari sepakbola Prancis.

Pada awal musim 2016/2017, dominasi PSG yang tidak teruntuhkan dalam empat tahun terakhir di sepakbola Prancis membuat banyak pihak mempertanyakan tingkat ke-kompetitif-an Ligue 1 dan juga turnamen-turnamen lain macam Coupe de France maupun Coupe de la Ligue.

Salah satu tulisan di France 24 bahkan menyebut hegemoni PSG ini, jika kembali berlangsung, akan membawa dampak buruk bagi keberlangsungan kompetisi di Prancis. Faktor uang berlimpah yang dimiliki PSG membuat tim ini dapat bersaing dengan kekuatan tradisional sepakbola Prancis macam Olympique Lyon, Olympique Marseille, maupun AS Monaco.

"Di atas kertas, Paris (PSG) sama sekali tidak tersentuh," ujar Bruno Genesio, pelatih Lyon pada suatu waktu.

Namun, memasuki musim 2016/2017, banyak tim yang mulai menggeliat dan menggoyahkan dominasi Paris-Saint Germain di Ligue 1. Bahkan AS Monaco, tim yang dipenuhi pemain muda dan baru saja promosi ke Ligue 1 dalam beberapa tahun ke belakang, mampu menggulingkan dominasi tersebut di Ligue 1.

Semangat Pemain Muda AS Monaco

Pada awalnya, Monaco pun sama seperti PSG. Ketika masih berada di Ligue 2, kepemilikan mereka diambil alih oleh salah seorang miliuner dari Rusia, Dmitry Ryobolovlev. Kucuran dana yang banyak membuat AS Monaco mampu membeli beberapa pemain berkualitas, macam Joao Moutinho, Dimitar Berbatov, maupun Radamel Falcao.

Namun prestasi yang tak kunjung datang membuat Ryobolovlev akhirnya sadar, bahwa bintang besar tak selamanya berbanding lurus dengan prestasi yang didapat. Maka pada 2014 silam, seiring dengan merekrut Leonardo Jardim, Ryobolovlev mengubah kebijakan transfernya dengan lebih mengedepankan perekrutan anak muda (dengan mengandalkan insting Jardim) dan mempromosikan pemain dari akademi. Hasilnya, sejak Jardim menangani skuat, mulai banyak nama-nama pemain muda di tim Monaco.

Nama-nama macam Bernardo Silva, Fabinho, Thomas Lemar, Benjamin Mendy, Tiemoue Bakayoko, serta Kylian Mbappe yang usianya masih di bawah 23 tahun mulai menjadi tulang punggung skuat Monaco musim ini. Banyaknya pemain muda di tim Monaco pun akhirnya mengubah permainan Monaco menjadi penuh gairah dan semangat khas anak muda.

Selain babak semifinal Liga Champions 2016/2017, AS Monaco mampu menggusur dominasi PSG di Ligue 1 dengan menjadi juara di kompetisi level tertinggi sepakbola Prancis yang terakhir kali mereka juarai pada 1999/2000 silam. Semangat anak muda, ditambah dengan pelatih yang mampu mengasuh anak-anak muda tersebut, membuat Monaco akhirnya mampu meruntuhkan tembok tebal PSG yang sulit tertembus dalam empat tahun terakhir di Ligue 1.

"Ini adalah salah satu trofi (Ligue 1) yang cukup berkesan dalam karier saya sebagai pelatih. Kami sudah bekerja keras selama 11 bulan, dan hal terbaik yang kami dapat adalah trofi ini (trofi Ligue 1). Monaco juara, dan gelar ini jauh lebih berharga dari empat gelar yang diraih PSG di tahun-tahun sebelumnya," ujar Jardim seperti disitat ESPN FC.

Kuasa PSG yang Masih Ada

Monaco boleh saja berbangga dengan raihan gelar Ligue 1 yang mereka dapat setelah berhasil menggusur dominasi PSG. Tapi mereka harus menyadari banyak hal. Selain berpeluang ditinggal para pemain mudanya yang bermain cukup baik pada musim 2016/2017 ini, mereka juga harus sadar bahwa kuasa PSG belum sepenuhnya lepas dari sepakbola Prancis.

PSG adalah pemegang gelar juara Coupe de la Ligue 2016/2017 setelah mampu menaklukkan Monaco 1-4 di final. Pada 27 Mei nanti, mereka juga akan berhadapan dengan Angers di babak final Coupe de France. Kemungkinan PSG untuk menjuarai turnamen tersebut masih ada. Jika hal itu terjadi, maka PSG memenangkan dua trofi pada musim ini.

Gelar Ligue 1 memang masih cukup prestisius, dan seperti yang Jardim ungkapkan, nilai trofi yang Monaco raih bahkan lebih berharga dari empat trofi Ligue 1 yang PSG raih sebelumnya. Tapi kuasa PSG, dengan raihan trofi Coupe de la Ligue dan juga Coupe de France yang kemungkinan besar bisa mereka raih, menunjukkan bahwa sisa-sisa kekuatan PSG di Prancis masihlah ada dan belum pudar sepenuhnya.

foto: @PSG_English

Komentar