Mengasuh Atlet Difabel itu Butuh Kesabaran

Berita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Mengasuh Atlet Difabel itu Butuh Kesabaran

Orang-orang difabel bukanlah orang-orang yang harus dijauhi karena ketidakmampuan mereka. Orang-orang difabel (seperti kata dasar dari difabel sendiri, dari kata differ yang artinya berbeda) hanya orang-orang yang berbeda. Karena berbeda itulah, mereka membutuhkan pendampingan yang lebih khusus, tidak seperti orang-orang kebanyakan.

Hal itulah yang diyakini Nurdin Lubis, pelatih tim sepakbola Jawa Timur dalam ajang PEPARNAS XV Jawa Barat ini. Ditemui di Lapangan Progresif, Bandung, ia berujar bahwa mengurus atlet difabel itu butuh kesabaran yang lebih daripada mengurus atlet yang tidak berkebutuhan khusus.

“Kalau mengasuh pemain difabel memang harus sabar karena pemain difabel butuh pendampingan yang lebih. Saya saja melatih mereka mulai dari dasar-dasar bermain bola, seperti cara passing maupun cara kontrol bola. Itu karena dunia yang dihadapi lain dari dunia kita,” ujarnya.

“Melatih pemain berkebutuhan khusus perlu kesabaran lebih. Begitu juga dalam hal komunikasi, tidak boleh disertai emosi. Saya pernah menangani pemain yang emosi, lalu saya redakan emosinya itu. Bahaya kalau sampai kita juga terbawa emosi karena nanti pemain seperti ini akan lebih emosi lagi,” tambahnya.

Melatih pemain yang berkebutuhan khusus, bagi pelatih yang juga berasal dari Sidoarjo ini, adalah pengalaman tersendiri baginya. Ia mengakui kalau ini adalah yang pertama kali, dan ia merasa puas atas apa yang sudah ditunjukkan oleh anak asuhnya, apalagi tim Jawa Timur sendiri meraih kemenangan 2-0 dalam pertandingan melawan Riau.

“Saya senang karena anak-anak asuh saya dapat menerima instruksi saya sebaik mungkin. Strategi yang saya terapkan kepada mereka berjalan lancar meskipun suara saya sampai mau habis karena teriak-teriak di pinggir lapangan supaya instruksi saya bisa didengar,” ungkapnya.

“Melatih tim seperti ini (tim dengan para pemain difabel) adalah yang pertama kali bagi saya. Saya lebih sering melatih pemain di lapangan besar (pemain sepakbola pada umumnya).”

Ditemani oleh asisten pelatih yang juga pernah bermain untuk Jatim dalam ajang PEPARNAS XIV Riau 2012, Teguh Santoso, ia yakin bahwa Jatim mampu bermain baik, dan ia percaya juga bahwa tim Jatim dapat meraih kemenangan dalam pertandingan selanjutnya.

“Dalam turnamen ini saya dibantu oleh Pak Teguh (asisten pelatih) karena beliau pernah bermain dalam ajang PEPARNAS di Riau 2012 lalu. Sebagai pelatih, saya menjagokan tim saya sendiri, Jatim. Tapi tim lain pun tidak kalah tangguh, seperti Jawa Tengah dan Kalimantan Selatan. Saya sudah menyiapkan strategi khusus untuk melawan mereka,” paparnya.

Komentar