Saat Taulant dan Granit Bertemu Sebagai Lawan

Berita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Saat Taulant dan Granit Bertemu Sebagai Lawan

Pertandingan sepakbola memang menarik. Berbagai aroma dapat tersaji dalam satu waktu di dalamnya. Entah itu drama percintaan, dendam, atau drama yang melibatkan persaudaraan. Jerome dan Kevin-Prince, yang memiliki nama akhir sama-sama Boateng, pernah mengalaminya saat Jerman dan Ghana bertemu dalam Piala Dunia 2010 dan 2014.

Hal yang sama juga akan terjadi dalam laga yang mempertemukan antara Albania dan Swiss, yang akan digelar pada Sabtu (11/6) malam di Lens, Prancis. Akan ada saudara yang saling bentrok di tubuh Albania dan Swiss. Sosok yang akan beradu itu berada dalam tubuh Granit dan Taulant. Dua-duanya memiliki nama belakang yang sama , Xhaka.

Dua-duanya berasal dari orang tua yang sama, yaitu Ragip dan Elmaze yang berdarah Albania-Kosovo. Mereka juga dilahirkan di tempat yang sama, yaitu Basel. Mereka juga sama-sama pernah membela Swiss youth team dan besar di tim muda FC Basel. Segalanya menjadi berbeda setelah 2011.

Granit yang sempat mengutarakan keinginannya membela timnas Albania merasa bahwa federasi sepakbola Albania tidak begitu serius ingin menggunakan jasanya dalam membela timnas. Oleh karenanya, berdasarkan prinsip ius soli, Granit memutuskan untuk membela negara tempat ia dilahirkan. Dalam hal ini, Swiss. Ia mengucapkan ikrar ini pada 2011.

Sementara saudaranya, Taulant, tidak terlalu bernafsu ingin membela timnas. Ia menantikan waktu yang tepat sembari memilah apakah ia akan menjalankan prinsip ius soli atau ius sanguinis. Akhirnya, pada 2013, ia sampai pada keputusannya. Ia memilih untuk membela timnas Albania. Ia pun melakukan debutnya bersama Albania pada September 2014 dalam pertandingan melawan Portugal, yang dimenangkan Albania dengan skor 1-0.

Taulant dan Granit Xhaka yang akan saling bertemu dalam laga Swiss vs Albania (foto: espnfc.com)

Pertarungan antar saudara nanti pun bukannya tidak disertai bumbu-bumbu kasih sayang. Granit mengutarakan kepada ESPN FC, bahwa dirinya merasakan hal yang aneh saat akan bertanding dengan kakaknya. Apalagi, ia sempat mengutarakan bahwa keluarga adalah hal yang terpenting baginya.

"Keluarga adalah hal yang terpenting bagi saya. Terutama kakak saya, Taulant. Kami sering membicarakan banyak hal bersama-sama," ujarnya.

"Saat drawing selesai dan Swiss bertemu Albania, kami awalnya merasa canggung. Tapi, sekarang kami sudah merasa biasa saja dan siap untuk bertarung," tambahnya.

Konflik yang sempat terjadi di Eropa, utamanya di wilayah Balkan sempat membuat banyak pemain akhirnya memiliki dua kewarganegaraan, berdasarkan prinsip ius soli dan ius sanguinis tadi. Xherdan Shaqiri, Valon Behrami, dan Blerim Dzemaili adalah pemain-pemain yang memiliki darah Albania namun akhirnya membela Swiss karena mereka dilahirkan di Swiss, hal sama yang juga terjadi pada seorang Granit dan Taulant Xhaka.

Sekarang, Granit dan Taulant akan berada di dapur mesin tim Swiss dan Albania dan siap untuk bertarung dan mengantarkan tim yang mereka bela menuju kemenangan. Mereka akan mengesampingkan untuk sementara rasa persaudaraan mereka dan bertarung dengan sepenuh hati di lapangan.

Komentar