Pelaku Ledakan di Stade de France Paris Miliki Tiket Masuk!

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Pelaku Ledakan di Stade de France Paris Miliki Tiket Masuk!

Ledakan pada menit ke-20 dalam laga Perancis menghadapi Jerman pada Jumat (13/11) malam, bisa berakhir lebih tragis dan mengerikan. Saat ledakan terjadi permainan tetap dilanjutkan. Penonton pun bersorak. Sementara itu komentator televisi mengatakan kalau bunyi ledakan tersebut mungkin saja petasan yang dinyalakan di luar stadion.

Joshua Robinson dan Inti Landauro dari The Wall Street Journal, mengungkapkan fakta mengerikan bahwa bom tersebut sejatinya adalah bom bunuh diri. Pelakunya bahkan memiliki tiket masuk ke dalam Stade de France yang berkapasitas 80 ribu orang.

Saat berita ledakan tersebar, tentu mengejutkan kalau teroris meledakkan bom (untungnya) di luar stadion. Terlebih di dalam ada Presiden Prancis, Francois Hollande serta para pejabat Federasi Sepakbola Perancis, FFF. Faktanya, teroris mencoba untuk masuk dan melakukan bom bunuh diri di dalam tribun.

Bayangkan jika hal tersebut terjadi. Sebuah bom bunuh diri dalam pertandingan persahabatan internasional yang ditayangkan secara langsung di televisi ke seluruh dunia tentu akan menguncang semua orang. Tragedi tersebut akan memberikan pesan keberhasilan buat para penyebar teror yang memberi rasa ketakutan buat semua orang.

Beruntung petugas keamanan mengidentifikasi pelaku karena mengenakan rompi dengan bahan peledak yang menempel di dalamnya. Kala itu petugas tengah melakukan pengecekan tubuh sekitar 15 menit setelah pertandingan dimulai.

“Saat mencoba mundur dari pihak keamanan, kata Zouheir (nama petugas keamanan yang dimintai keterangan), seorang penyerang menyalakan pemicu. Zouheir, yang ditempatkan di lorong pemain menyatakan dia menerima laporan tersebut dari tim penggeledah di pintu masuk,” tulis Wall Street Journal.

Seorang petugas kepolisian pun mengonfirmasi rangkaian kejadian tersebut dan menambahkan polisi mencurigai para penyerang bertujuan meledakkan dirinya di dalam stadion untuk menyebabkan kematian massal.

Tiga menit kemudian, pelaku kedua juga meledakkan dirinya di luar stadion Penyerang ketiga meledakkan dirinya di dekat kios tempat makan cepat saji. Seorang warga tewas dalam serangan tersebut.

Ledakkan pada babak pertama tersebut menghadirkan kebingungan di seantero stadion. Setidaknya dua ledakan terdengar dari dalam stadion dan juga terekam mikrofon televisi. Ledakan keras bukanlah sesuatu yang aneh karena penggemar sepakbola kerap menyalakan petasan.

Awalnya, Zouheir menyangka kalau ledakan tersebut merupakan petasan. Lalu, walkie-talkie-nya berbunyi dan dia sadar kalau Presiden Hollande tengah diantar keluar dari stadion.

“Saat saya melihat Holande dievakuasi, saya tahu kalau itu bukan petasan,” ucap Zouheir yang bisa melihat kondisi box VIP dari tempatnya berada. Presiden Hollande sendiri meninggalkan stadion usai ledakan pertama.

Presiden FFF, Noel le Graet, menyatakan informasi ledakan dan teror di Paris tidak dibertahukan kepada penggemar dan pemain agar mereka tidak panik. Kabar tentang aksi tersebut menyebar dengan sendirinya pada akhir babak kedua.

Di sisi lain, Pelatih Jerman, Joachim Loew, sadar kalau ada sesuatu yang salah dengan ledakan tersebut. “Tentu kami menyangkanya (bom). Ledakannya amat keras. Anda bisa membayangkan apa yang terjadi,” tutur Loew.

Aksi teror bom di Paris juga merupakan duka buat sepakbola. Bagaimana teroris memanfaatkan sepakbola sebagai sarana mereka menyebarkan ketakutan. Apa yang terjadi di Paris menjadi salah satu alasan mengapa benda yang rentan terbakar dan menimbulkan dampak seperti kembang api, petasan, dan suar, dilarang masuk ke stadion. Selain bisa merugikan tim, pelarangan tersebut dilakukan demi keselamatan bersama.

Dengan apa yang terjadi di Paris, semoga pengelola pertandingan bisa lebih aktif dan ketat dalam menyaring penonton yang masuk. Kita tentu tak ingin melihat bagaimana aksi teror disiarkan secara langsung di televisi dan dilihat oleh khalayak ramai. Tujuan para teroris pun tercapai: menciptakan ketakutan.

Disadur dari Wall Street Journal

foto: sbs.com

Komentar