Charlie Austin, Aset Inggris yang Tak Menarik

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Charlie Austin, Aset Inggris yang Tak Menarik

Ada suasana berbeda pada Premier League musim lalu. Tiga penyerang asli Inggris berada di peringkat 10 teratas pencetak gol terbanyak. Hal ini tentu menjadi  angin segar bagi penggemar sepakbola Inggris yang merindukan penyerang timnas yang tajam.

Dari tiga orang tersebut, Harry Kane (21 gol) dan Saido Berahino (14 gol) sudah mantap di klubnya masing-masing. Sementara Charlie Austin (18 gol) harus rela bermain di Divisi Championship karena Queens Park Rangers yang ia bela selama dua musim mesti terdegradasi.

Austin bukannya tak mau pindah. Ia berulang kali menyatakan keinginannya untuk hengkang dari QPR dan bermain di kompetisi teratas Liga Inggris. Namun, cuma Leicester City yang secara resmi mengajukan tawaran. Sejumlah kesebelasan papan tengah lain macam Crystal Palace tak sanggup mengeluarkan kocek 15 juta pounds untuk meminangnya dari Loftus Road.

Jika hitung-hitungannya adalah capaian gol—mengecualikan cara bermain Austin dan kebutuhan klub—kesebelasan besar macam Manchester United dan Liverpool adalah pilihan yang tepat. Tak ada penyerang dua kesebelasan tersebut yang mencetak lebih dari 13 gol pada musim lalu. Namun, Manchester United dikabarkan sudah menyiapkan Adnan Januzaj di lini serang sebagai pelapis Wayne Rooney, selain itu Memphis Depay, Javier Hernandez, dan James Wilson bisa menjadi amunisi yang mengejutkan di lini depan. Pun dengan Liverpool yang sepertinya tak kekurangan penyerang—bahkan mungkin berlebihan. Mereka sudah kadung mengeluarkan kcoek 32 juta pounds untuk mendatangkan Christian Benteke dari Aston Villa.

Dikutip dari Whoscored, selama dua musim membela QPR, Austin masing-masing mencetak 18 dan 19 gol selama semusim. Pun saat membela Burnley yang sejak musim 2011/2012, ia berhasil mencetak 16 dan 25 gol. Melihat capaian ini, agak mustahil bagi Austin untuk melanjutkan karirnya di Divisi Championship bersama QPR. Dengan catatan gol seperti itu, mungkinkah tidak ada kesebelasan tingkat pertama yang mau mendapatkan Austin? Belum lagi penurunan gaji yang menjadi hanya 25 ribu pounds per pekan, tentu menjadikan Austin sebagai lima pencetak gol terbanyak Liga Inggris musim lalu dengan gaji paling rendah.

Baca juga: Charlie Austin, Pilihan Striker Baru untuk Inggris

Punya Riwayat Cedera

Meski baru berusia 26, tapi Austin punya sejarah cedera panjang. Selepas membela Inggris menghadapi Slovenia—meskipun ia tidak main—Austin dikabarkan akan segera pindah dari Loftus Road. Ia pun meminta perpanjangan masa libur yang tak lain untuk pemulihan cedera.  Austin dikabarkan memiliki cedera bawaan yang terletak pada tulang rawan lututnya.

Pada musim lalu ia bermain 35 kali untuk QPR atau hanya melewatkan tiga pertandingan saja. Artinya, Austin, jika tidak ada hal-hal buruk yang terjadi, masih bisa mengikuti musim kompetisi yang ketat. Hanya saja dengan cedera bawaan tersebut, akan sulit baginya untuk melewati tes medis di kesebelasan barunya.

Ini yang membuat Austin gagal bergabung dengan Hull City pada 2013. Saat kedua belah pihak mencapai kesepakatan, sayangnya Austin gagal melewati tes medis.

Tingginya Nilai Transfer

Dikuti Dailymail, pemilik QPR, Tony Fernandes, membanderol Austin senilai 15 juta pounds. Angka ini terbilang layak melihat capaian prestasi pemain kelahiran 1989 tersebut selama membela QPR.

Hal ini ditegaskan Direktur Olahraga QPR, Les Ferdinand, yang menyatkaan tak akan menerima pinangan di bawah 15 juta pounds. “Charlie diminati banyak klub karena dia tampil profesional dan mencetak gol. Banderolnya masih 15 juta pounds dan satu-satunya tawaran yang kami terima dari Leicester,” ungka Ferdinand dikutip dari Goal.

Newcastle United sebenarnya tertarik untuk mendatangkan Austin. Namun mereka ngotot pada angka 12 juta pounds. Manajemen Newcastle beralasan kalau angka tersebut sudah melalui tahap perhitungan mengingat Austin yang masih punya riwayat cedera bahu.

Tim papan tengah yang juga meminati Austin adalah Crystal Palace. Sayangnya, Palace sudah keburu mengeluarkan 8 juta pounds untuk pembelian Connor Wickham.

Ke Mana Charlie Austin?

Keinginan Austin untuk pindah sebenarnya didukung oleh manajer QPR yang memang berniat melepasnya. Manajer QPR, Chris Ramsey, sadar benar kalau ada sejumlah pemain yang tidak senang dengan kondisi QPR yang sekarang. Terlebih mereka harus merasakan penurunan nilai gaji akibat degradasi QPR.

Selain Austin, Leroy Fer pun menjadi pemain yang ingin dilepas QPR. Meski diminati Sunderland dan PSV Eindhoven, tapi Fer tak kemana-mana. Awal Agustus silam, ia gagal melewati tes medis di Sunderland. Ini seperti tahun-tahun sebelumnya di mana Fer pun gagal melewati tes medis di Everton.

Akan menjadi hal yang mengejutkan tentu melihat Austin berlaga di Divisi Championship. Usianya baru 26 dan ia merupakan salah satu aset Inggris di lini serang. Bisa jadi akan ada penurunan kualitas saat Austin berlaga di kompetisi tingkat kedua, dan aset Inggris tersebut akan menghilang sia-sia.

Arsene Wenger berpendapat kalau apa yang terjadi pada Austin--dengan merangkak dari kompetisi tingkat rendah hingga ke Premier League--adalah bukti bahwa bahkan di Inggris saja masih banyak pemain yang tidak mendapatkan cukup perhatian walaupun mereka memiliki cukup kualitas untuk berlaga di Premier League.

Ya, meskipun Inggris masih punya Harry Kane.

Baca juga: Charlie Austin dan Cerita Perjuangan Suporter QPR

Komentar