Perlukah Morata Pulang ke Madrid?

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Perlukah Morata Pulang ke Madrid?

Alvaro Morata hanya berlari ke pinggir lapangan, dengan kepala yang ditekuk ke bawah. Tak ada sama sekali raut antusias di wajahnya. Emosi di wajahnya sulit untuk dijelaskan. Raut wajahnya terlihat lebih mirip seorang anak yang malas karena diminta belanja ke warung oleh ibunya, ketimbang sebagai seorang pesepakbola yang mencetak gol krusial.

Bagaimanapun apa yang dilakukan oleh Morata—dengan tidak melakukan perayaan gol—memberinya peluang besar untuk pulang ke Madrid; ya, setidaknya ia tidak dibenci-benci amat oleh suporter, walaupun sukses menghapuskan peluang terbesar Madrid untuk meraih gelar pada musim ini.

Hal yang paling mengganjal tentu ada di jajaran manajemen Real Madrid. Kabarnya, kepindahan Morata ke Juventus diiringi dengan buy-back clause senilai 22 juta pounds untuk musim pertama, dan 26 juta pounds untuk musim kedua. Uang sebesar itu, jelas bukan masalah bagi kesebelasan sebesar Madrid. Mereka rela kok, mengeluarkan lebih dari 80 juta pounds untuk seorang Gareth Bale.

Permasalahannya ada pada gengsi yang melekat di hati. Keputusan menjual Morata ke Juventus nyatanya diiringi dengan peminjaman Javier Hernandez dari Manchester United. Apa kata orang saat Real menjual pemain binaan, tapi malah meminjam pemain dari “luar”?

Namun, lewat buy-back clause segala yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin. Klausul tersebut merupakan langkah cerdas manajemen Real Madrid untuk bisa kembali mendapatkan bakat Morata. Hal yang tidak bisa dilakukan Madrid adalah menjaga Morata agar mendapatkan menit bermain. Kegagalan ini yang membuat bakat Morata terpendam begitu saja di bangku cadangan.

Apalagi, keinginan tersebut dibarengi dengan keputusan Morata yang tidak merayakan gol. Dalam beberapa perspektif hal tersebut menyiratkan masih adanya rasa hormat terhadap kesebelasan maupun elemen-elemennya.

Awalnya, Real Madrid pun memasukan klausul yang melarang Morata bermain saat menghadai Madrid di kompetisi Eropa, tapi Juventus menolak klausul tersebut. Lagipula, pada musim lalu, Thibaut Courtois juga bisa tampil menghadapi Chelsea, kesebelasan “pemilik-nya”.

Morata dijual ke Juventus pada awal musim ini dengan nilai transfer 16 juta pounds. Berdasarkan Whoscored, Morata bermain selama 1800 menit di Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions. Ia mencetak 13 gol dan empat assist.

Pemain kelahiran 1992 tersebut menyatakan ia bahagia di Italia dan tidak ingin kembali. Penampilan impresif Morata membuatnya berhasil menyingkirkan rekan sekaligus mentornya, Fernando Llorente di lini serang Juventus.

Sejumlah penggemar Madrid menyalahkan manajemen dan menyamakan Morata dengan Morientes. Kala itu, Morientes yang tidak masuk dalam rencana “Galactico” Madrid, dipinjamkan ke AS Monaco. Di kesebelasan Liga Prancis tersebut, Morientes berhasil mengantarkan AS Monaco hingga partai final Liga Champions, persis seperti yang terjadi pada Morata saat ini.

Namun, menilik kebutuhan tim, agaknya kehadiran Morata memang tidak begitu diperlukan. Madrid sudah memiliki Karim Benzema yang secara permainan di atas lapangan, mampu memainkan sejumlah peran dan bukan sekadar penyerang. Benzema mampu menjadi tembok, ujung tombak, maupun penyerang yang bermain melebar. Selain itu, jika Benzema tak bisa dimainkan, masih ada Bale dan Ronaldo yang bisa dipasangkan sebagai penyerang.

Hal yang tidak dimiliki Madrid hanyalah momentum mencetak gol. Dari materi pemain, sulit untuk dipahami megapa Real Madrid kesulitan mencetak gol—gol Ronaldo yang dicetak semalam merupakan tendangan penalti. Apakah ini karena harmoni di lini depan yang sudah tak akur lagi? Atau Gareth Bale butuh seorang “penantang” baru yang bisa melepaskan statusnya sebagai pemain kunci Madrid? Yang jelas, Morata sukses menghayati romantisme Del Piero di Santiago Bernabeu semalam.

Bagaimana menurut Anda?

Sumber gambar: dailymail.co.uk

Komentar