Menjelang Masa Depan Cerah Dortmund Bersama Tuchel

Berita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Menjelang Masa Depan Cerah Dortmund Bersama Tuchel

Ketika Jürgen Klopp belum buka suara mengenai kesebelasan yang akan ditanganinya per musim depan, Borussia Dortmund sudah memiliki pengganti dirinya. Eks pelatih FSV Mainz 05, Thomas Tuchel, akan mengambil alih posisi Klopp. Hingga terbukti salah, masa depan Dortmund di tangan Tuchel tampaknya akan cerah.

“Pemilik delapan gelar juara Liga Jerman, Borussia Dortmund, telah menunjuk Thomas Tuchel sebagai pelatih kepala baru per 1 Juli 2015, dan sang pria berusia 41 tahun telah menandatangani kontrak berdurasi tiga tahun,” tulis Dortmund dalam pernyataan resmi yang diumumkan lewat situs resmi mereka sendiri.

“Pihak kesebelasan akan secara resmi memperkenalkan pelatih kepala baru satu pekan setelah akhir musim dan pihak klub berharap publik dapat mengerti bahwa semua pihak yang terlibat tidak akan memberi keterangan tambahan hingga hari yang ditentukan,” tambah Dortmund. Seolah para pendukung Dortmund membutuhkan keterangan tambahan. Please, kabar penunjukkan Tuchel saja sudah dapat membuat para pendukung Dortmund tidur nyenyak dan merelakan kepergian Klopp.

Seperti Klopp, Tuchel tidak sukses sebagai pemain. Karirnya selesai di usia dua puluh lima karena cedera. Tentunya bukan ini alasan yang membuat Tuchel pantas menggantikan Klopp. Bukan pula fakta bahwa Tuchel dan Klopp pernah bekerja sama di Mainz; Klopp sebagai pelatih kepala, Tuchel pelatih kesebelasan U-19. Bukan itu.

Sebelum menangani Mainz U-19, Tuchel belajar dari praktik bersama kesebelasan muda VfB Stuttgart dan Augsburg. Pengalamannya di kedua kesebelasan tersebut terbukti berguna. Di musim pertamanya menangani Mainz, Tuchel langsung membawa kesebelasan tersebut menjadi juara Jerman. Hasil kerjanya di kesebelasan muda membuat Tuchel dipercaya menjadi pelatih kepala ketika Jörn Andersen meninggalkan Mainz pada 2009.

Bersama kesebelasan utama, Tuchel tidak langsung menjadi juara. Membawa Mainz mengakhiri musim di peringkat kesembilan, bagaimanapun, terhitung cukup istimewa. Musim 2011/12, Tuchel membawa Mainz mengakhiri musim di zona Eropa; tepatnya di peringkat kelima. Mainz, karenanya, berpeluang tampil di Eropa untuk kali pertama. Sayangnya, mereka gagal ambil bagian di Europa League karena kalah dari Gaz Metan Medias pada putaran ketiga.

Selama menangani Mainz, Tuchel dikenal sebagai juru taktik yang cerdas. Ia memiliki banyak opsi untuk setiap lawan yang dihadapi. Dasar permainan Tuchel, bagaimanapun, tetap sama dan cocok untuk Dortmund: permainan menyerang yang cepat. “Saya menyukai beberapa kualitas permainan tertentu, gaya bermain yang aktif, pertahanan yang berani, dan serangan yang cepat,” ujar Tuchel.

Kualitas lain yang dimiliki Tuchel adalah kemampuan melihat potensi. Dari Real Madrid B, Tuchel membawa Ádám Szalai ke Mainz pada 2010. Di tahun yang sama, ia meminjam Lewis Holtby dari FC Schalke 04. Kedua pemain tersebut, bersama André Schürrle yang sedari awal memang sudah berada di Mainz, kemudian dikenal dengan nama Bruchweg Boys dan terbukti sangat penting bagi Mainz walau ketiganya saat itu masih sangat muda. Pemain lain yang tampak tidak berguna namun terbukti mampu menjadi pemain kunci adalah Shinji Okazaki. Kemampuan Tuchel dalam hal ini akan sangat berguna mengingat Dortmund kemungkinan besar akan ditinggal para pemain kuncinya di musim panas nanti.

Lain hal, bukan tak mungkin Tuchel langsung mampu membawa Dortmund menyudahi dominasi FC Bayern München era Pep Guardiola. Tugas yang amat berat, memang, namun tidak mustahil. “Saya mempelajari banyak hal mengenai sepakbola terutama ketika Guardiola melatih Barcelona,” aku Tuchel. Maka jika ia belajar dari Guardiola, Tuchel tentunya tahu sedikit banyak kelemahan dan cara mengalahkan Guardiola dan Bayern.

Langsung menaruh harapan besar di pundak Tuchel memang bukan hal yang bijak. Tapi siapa bilang ini tidak boleh dilakukan?

Komentar