Mengapa Huntelaar Perpanjang Kontrak di Schalke?

Berita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Mengapa Huntelaar Perpanjang Kontrak di Schalke?

FC Schalke 04 (dan para pendukungnya) tidak perlu lagi merasa khawatir kehilangan penyerang andalan mereka. Klaas-Jan Huntelaar sudah tidak bisa begitu saja didekati oleh klub lain per hari pertama di bulan Januari. Penyerang asal Belanda tersebut telah menandatangani perpanjangan kontrak selama dua tahun; kontraknya bersama Schalke – yang semula akan berakhir pada 30 Juni 2015 – telah diperpanjang hingga tanggal yang sama di tahun 2017.

“Saya selalu menegaskan bahwa saya merasa sangat bahagia di Schalke,” ujar Huntelaar kepada Sky. Namun bahagia saja tidak cukup bagi pemain berusia 31 tahun tersebut. Ia ingin menjadi juara bersama Schalke. Atau, jika itu tidak mungkin didapatkan oleh Huntelaar, ia ingin menjadi pengganggu dominasi Bayern München. Peringkat ketiga atau keempat tidak cukup memuaskan bagi Huntelaar.

Sedikit banyak, keputusan yang ia ambil untuk membubuhkan tanda tangan di atas kesepakatan perpanjangan kontrak membuat para pendukung Schalke boleh bermimpi. Karena Schalke sedang berada di peringkat kelima di tabel klasemen sementara. Hasil imbang di pertandingan terakhir melawan Hamburger SV membuat raihan poin Schalke berada di angka 27 dari 17 pertandingan. Masih lebih baik dari tiga belas tim lain yang ada di belakang mereka, namun lebih buruk dari Bayern, VfL Wolfsburg, Bayer Leverkusen, dan Borussia Mönchengladbach.

Jika apa yang diinginkan oleh Huntelaar adalah posisi terhormat di akhir musim dan ia berani memperpanjang kontraknya bersama Schalke, ada indikasi bahwa Huntelaar percaya terhadap potensi yang kini dimiliki oleh timnya. Dan kepercayaan di dunia sepakbola profesional tentunya tidak akan datang begitu saja. Nampaknya ada potensi yang dilihat oleh Huntelaar namun tidak (atau belum) disadari oleh para pendukung Schalke. Contoh paling sederhana adalah konsistensi permainan.

Musim ini permainan Schalke jauh dari kata konsisten. Naik turun performa adalah hal yang biasa. Pergantian pelatih kepala bahkan sempat mewarnai perjalanan Schalke musim ini. Jens Keller, pelatih kepala yang sudah menangani Schalke sejak tahun 2012, didepak pada 7 Oktober lalu. Posisi Keller kemudian digantikan oleh Roberto Di Matteo.

Direktur olahraga Schalke, Horst Heldt, mengatakan bahwa pencarian konsistensi adalah alasan dibalik keputusan klub untuk membebastugaskan Keller. Untuk alasan yang sama pula Schalke meneruskan tongkat estafet kepelatihan Schalke ke tangan Di Matteo; pria yang mampu mengalahkan Bayern di Allianz Arena di pertandingan final Champions League tahun 2012.

Bersama Di Matteo, Schalke memang belum benar-benar menemukan konsistensi yang mereka cari. Namun perbaikan posisi sudah terjadi. Saat Di Matteo mengambil alih posisi pelatih kepala, Schalke berada di peringkat sebelas.

Entah karena melihat potensi atau karena mengejar ambisi pribadi – untuk menjadi pencetak gol terbanyak Schalke, mengingat Huntelaar kini sedang berada di peringkat kedua di belakang Klaus Fischer – biar Huntelaar sajalah yang tahu. Yang pasti, keputusannya untuk memperpanjang masa bakti bersama Schalke selama dua tahun (dengan opsi perpanjangan selama satu tahun setelah kontrak barunya berakhir) telah membuat banyak pihak merasa tenang.

Komentar