Tak Ada yang Menginginkan Balotelli di AC Milan

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Tak Ada yang Menginginkan Balotelli di AC Milan

Presiden AC Milan, Silvio Berlusconi, mengaku lega atas kepindahan Mario Balotelli ke Liverpool. Selain secara finansial tidak merugi, karena dijual dengan harga yang sama seperti harga beli, Balotelli pun dianggap sebagai ganjalan di tubuh Rossoneri.

Secara kasar, Berlusconi menyebut Balotelli sebagai “rotten apple” atau “apel busuk”. Penampilannya yang tidak konsisten di San Siro membuat Milan jauh lebih baik tanpa kehadirannya.

“Aku ingat, dia dibeli tanpa persetujuanku,” ujarnya pada La Gazzetta dello Sport, “Kami memiliki banyak juara: Jeremy Menez, Keisuke Honda, Stephan El Shaarawy, Fernando Torres, Nigel De Jong. Dasarnya ada di sana. Dan kami tak lagi menginginkan apel busuk di ruang ganti.”

Selain Berlusconi, Direktur Olahraga AC Milan, Umberto Gandini menyebut semua orang di jajaran manajemen senang atas kepindahan tersebut. Balotelli memiliki reputasi sebagai si pembuat onar, tapi Brendan Rodgers, manager Liverpool, memilih untuk mengambil resiko dengan membeli sang pemain.

Gandini pun menjelaskan mengapa AC Milan menjual pemain kelahiran 1990 tersebut. “Kami semua merasa dengan datang ke Italia, tempat dimana ia pernah dicintai, akan menjadi lingkungan yang ideal baginya untuk mekar menjadi pemain bintang,” kata Gandini pada Daily Star, “Namun, hal tersebut tak pernah terjadi.”

Balotelli dianggap tidak bisa memenuhi peran yang ditimpakan kepadanya di lini depan AC Milan. Tidak ada yang melarang atau beradu urat saat Balotelli pindah ke Liverpool. Semua jajaran manajemen setuju atas keputusan tersebut.

Secara taktik, Gandini pun menjelaskan bahwa Balotelli bukanlah penyerang murni. Ini masalah yang tengah dihadapi AC Milan, di mana mereka tidak memiliki penyerang yang beroperasi di dalam kotak penalti.

“Mario bukanlah pemain yang kami cari untuk membentuk tim yang lebih baik di lapangan. Di sisi lain, dia mungkin berpikir Liga Inggris adalah panggung yang tepat baginya untuk unjuk gigi, dan ia sangat menginginkan untuk kembali ke sana. Liverpool datang di saat yang tepat. Keputusan tersebut membuat semua orang bahagia,” tambah Gandiani.

Selama 18 bulan di San Siro, Balotelli bermain 43 kali dan mencetak 26 gol. Jika dilihat, rasio golnya tidak terlalu buruk yakni 0,6 gol per pertandingan. Jumlah yang masih bisa dimaklumi untuk seorang penyerang yang tidak bergerak di dalam kotak penalti.

Jadi, benarkah AC Milan tidak membutuhkan Balotelli? Atau mereka tak mampu mengelola potensi pemain kelahiran Palermo tersebut?

Sumber gambar: italianfootballdaily.com

Komentar