Kisruh Penggunaan Rumput Buatan pada Piala Dunia Perempuan 2015

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Kisruh Penggunaan Rumput Buatan pada Piala Dunia Perempuan 2015

Asosiasi Sepakbola Kanada, CSA, menganggap ungkapan “diskriminasi gender” pada penggunaan rumput buatan di Piala Duia Perempuan 2015 adalah hal yang “hiperbola” dan “misinformation”.

Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Presiden CSA, Victor Montagliani. “Ini adalah bentuk terbesar dari kesalahan informasi yang pernah saya dengar sepanjang hidup saya.”

Montaglini melanjutkan, bahwa gugatan terhadap penggunaan rumput tersebut tak berdasar. Ini karena ia menganggap Kanada sebagai satu-satunya federasi yang menginvestasikan dana di sepakbola perempuan jauh lebih besar ketimbang sepakbola pria.

CSA membelanjakan 4 juta dollar setiap tahunnya untuk program sepakbola perempuan. Sementara untuk sepakbola pria hanya sekitar 2 juta dollar per tahun.

Pernyataan tersebut merupakan tanggapan pertama setelah pada awal Agustus lalu 40 pesepakbola menggugat CSA agar menggunakan rumput alami pada Piala Dunia Perempuan (WWC). Saat ini, semua (enam) stadion yang akan digunakan telah menggunakan rumput buatan.

Sebelumnya, sejumlah pemain telah mengirim surat yang ditujukan kepada FIFA  dan CSA terkait rumput yang digunakan pada WWC. Penggunaan “rumput kelas dua” tersebut dianggap sebagai bentuk diskriminasi gender yang melanggar hukum dan hak asasi manusia.

Sementara itu, kelompok penggugat turut menyertakan hasil survei pada 2013 dalam surat yang ditujukan pada FIFA. Mereka mengklaim FIFA telah menyesatkan para pemain bahwa WWC 2015 akan dimainkan di atas rumput asli, jika ada yang menentang penggunaan rumput buatan.

Hasil dari survei tersebut memperlihatkan 77 persen dari 190 pemain “setuju” dan “sangat setuju” bahwa pertandingan mesti dilangsungkan di atas rumput asli.

Firma Hukum Boies, Schiller & Flexner yang menjadi kuasa hukum penggugat, tengah melakukan investigasi tentang laporan adanya pemain yang mendapatkan intimidasi. Perwakilan firma tersebut, Hampton Dellinger, mengirimkan surat ke enam konfederasi sebagai bentuk pencegahan adanya intimidasi terhadap pemain.

Juru Bicara FIFA sendiri membantah telah terjadi pembelokan fakta.

“Tujuan dari survei ini adalah untuk mengumpulkan informasi dari pesepakbola perempuan mengenai pendapat dan pandangan mereka mengenai permukaan lapangan. Hasilnya akan digunakan sebagai panduan untuk penelitian di masa depan, dan pengempangan permukaan lapangan,” ujar perwakilan tersebut pada The Equalizer.

Dellinger mengungkapkan FIFA tidak menepati janji mereka.

“FIFA mengklaim survei pada 2013 sepenuhnya untuk kebutuhan riset dan pengembangan,” sesal Dellinger. Padahal, awalnya FIFA berjanji bahwa pandangan pemain akan turut dipertimbangkan dalam perencanaan turnamen di masa mendatang

Hasil pertemuan komite eksekutif FIFA pada Maret 2013, menyatakan bahwa rumput stadion dan tempat latihan mesti memiliki kualitas yang sama dengan standar FIFA. Dan FIFA sudah menyatakan bahwa rumput buatan sebagai rumput yang standar.

Sebenarnya, masalah bukan ada pada standar atau tidak standar. Namun, sepakbola adalah permainan di atas rumput. Jika bermain di atas rumput sintetis, apa bedanya dengan bermain futsal dengan lapangan yang lebih luas?

Bermain di rumput sintetis biasanya membuat pemain tak leluasa. Lapangan jauh lebih licin dan keseimbangan menjadi berkurang dari biasanya. Pemain pun harus menyesuaikan sepatu yang mereka gunakan sehingga cocok dipakai di atas permukaan rumput sintetis.

Selain itu, resiko cedera pun lebih tinggi.

Montagliani mungkin menganggap gugatan tersebut sebagai “typical hyperbolic”. Namun sesungguhnya jika dipikirkan lebih lanjut, bagaimana jadinya jika FIFA mewajibkan semua lapangan menggunakan rumput buatan? Akan jadi seperti apa permainan sepakbola nantinya?

Ia sepertinya tak tahu bagaimana rasanya bermain di atas rumput sintetis. Maka, wajar jika banyak yang menyebut penggunaan rumput sintetis hanya di ajang sepakbola perempuan ini sebagai bentuk diskriminasi gender.

Sumber gambar: washingtonpost.com

Komentar