Lotito dan Inzaghi, Kesuksesan yang Tak Diinginkan Suporter Lazio

Analisis

by Adrianus Eduard Johanes

Adrianus Eduard Johanes

"Losing my religion to football"

Lotito dan Inzaghi, Kesuksesan yang Tak Diinginkan Suporter Lazio

Juli 2016 tepatnya tanggal 16, sekitar lima ribu suporter Lazio melakukan protes di jalanan. Mereka meminta Presiden I Biancocelesti Claudio Lotito mundur dengan tuntutan melepas klub ke tangan yang lebih ambisius, memiliki rasa tanggung jawab, dan membawa Lazio kembali ke habitat mereka sebagai salah satu tim yang diperhitungkan di Italia, bahkan dunia.

Sejak Lotito mengambil alih Lazio dari Sergio Cragnotti pada 2004, I Biancocelesti memang tidak seperti dulu. Klub asal Ibu kota Italia itu kehilangan pemain-pemain andalan mereka. Stefano Fiore pergi dari Italia untuk membela Valencia CF di Spanyol, Lucas Castroman dipulangkan ke Argentina, bahkan Jaap Stam direlakan membela sesama anggota ‘Sette Sorelle’ atau ‘The Magnificent Seven’ AC Milan. Padahal sebelumnya, Lazio adalah kesebelasan bertabur bintang di bawah kepemilikan Cragnotti.

Hernán Crespo, Alessandro Nesta, Juan Sebastián Verón, Pavel Nedved, Marcelo Salas, Christian Vieri, Roberto Di Matteo, bahkan Paul Gascoigne didaratkan Cragnotti ke Olimpico. Nama terakhir, Gazza –julukan Gascoigne- bisa disebut sebagai salah satu faktor keberhasilan Serie-A di periode 90-an.

Sejak diangkut Biancocelesti dari Tottenham Hotspur, Serie-A mendapatkan tempat di salah satu stasiun televisi Inggris, Channel 4. Sekalipun nasib Gazza di Negeri Pizza tidak terlalu baik, Lazio berhasil menarik lebih banyak mata ke divisi tertinggi sepakbola Italia tersebut.

Akan tetapi di era kepemilikan Lotito, semua pemain ternama itu pergi meninggalkan Olimpico. Diganti dengan pemain-pemain muda tak terkenal seperti Goran Pandev, Valon Behrami (20 tahun), Fernando Muslera, Stefan Radu, dan Mauro Zarate (21). Sebenarnya banyak pemain hebat yang berhasil dikunci Lotito untuk Lazio. Akan tetapi sedikit yang bertahan lama di Olimpico. Behrami pun hanya tiga musim mengenakan seragam biru langit sebelum dilepas ke West Ham United.

Dikuasai oleh Lotito lebih dari satu dekade dan hanya empat kali masuk lima besar Serie-A membuat suporter Lazio gerah. Apalagi menjelang kampanye 2016/17, Keita Balde dan Felipe Anderson yang menjadi favorit para suporter absen selama pra-musim. Marcelo Bielsa yang awalnya diplot sebagai pengganti Stefano Pioli mundur dari jabatannya tanpa pernah menangani Biancocelesti.

https://twitter.com/Adz77/status/442979540558565376">

Ini bukan pertama kali suporter Lazio memprotes Lotito, dua tahun sebelumnya mereka juga pernah memboikot pertandingan Biancocelesti. Membiarkan Senad Lulic dan kawan-kawan bermain tanpa dukungan. Mereka hanya meninggalkan sebuah spanduk berisikan pesan kepada para pemain dan petinggi klub lainnya. “Pilihannya adalah dia (Lotito) atau kami. Lazio adalah milik kami dan akan menjadi warisan untuk anak-anak di masa depan,” tulis pihak suporter.

Keputusan Bielsa untuk mundur tanpa pernah memimpin Lazio juga berkaitan dengan Lotito. “Kami sepakat untuk membeli salah satu dari tujuh pemain yang saya ajukan sebelum 5 Juli 2016. Namun, tidak satupun pemain tersebut dikejar. Padahal untuk menerapkan gaya permainan saya, pemain-pemain tersebut sangat dibutuhkan. Tidak ada alternatif lain. Padahal Lotito sebelumnya sepakat bahkan sangat mendukung program saya,” jelas Bielsa.

Tanpa Bielsa, kursi kepala pelatih Lazio kembali diberikan kepada Simone Inzaghi. Mantan penyerang Biancocelesti itu sebelumnya mengambil alih kendali dari Pioli menjelang akhir musim 2015/2016. Dari tujuh pertandingan yang ia lalui, Lazio berhasil meraih empat kemenangan. Namun tiga sisanya semua berakhir dengan kekalahan. Termasuk di pertandingan terakhir melawan Fiorentina.

Tidak ada yang berpikir bahwa Inzaghi bisa membawa Lazio kembali ke masa-masa kejayaan mereka seperti saat diasuh Sven-Goran Eriksson. Apalagi dengan Lotito sebagai pemilik klub. Dulu, saat Lazio diasuh Eriksson, mereka memiliki pemain-pemain ternama seperti Nesta, Salas, dan Roberto Mancini.

Eriksson sendiri sudah terbukti sebagai juru taktik berkualitas dengan pengalamannya membawa AS Roma menjadi juara Coppa Italia dan menduduki peringkat dua klasemen akhir Serie-A 1985/1986. Ia bahkan berhasil membuat Sampdoria mengakhiri musim 1993/94 di peringkat tiga, posisi tertinggi kedua dalam sejarah klub hingga 2019. Hanya Vujadin Boskov yang lebih sukses dengan memberikan gelar Serie-A kepada La Samp.

Sementara Inzaghi tidak memiliki pengalaman menangani tim senior sebelumnya. Dia sudah terlibat dengan tim muda Lazio sejak gantung sepatu di 2010. Memiliki tiga piala bersama Primavera Lazio, tapi belum berpengalaman di Serie-A atau divisi sepakbola top Eropa lainnya. Rekor buruk kakaknya, Filippo sebagai nakhoda AC Milan juga semakin membuat publik ragu bahwa Inzaghi bisa menjalankan tugasnya di Olimpico.

Simone Inzaghi memang tidak pernah mencapai level yang sama dengan Pippo sebagai pemain. Namun dia tetaplah salah satu pemain yang diidolai oleh publik Olimpico. Tampil lebih dari 200 kali selama 11 tahun di Kota Roma, Inzaghi mencetak lebih banyak gol dibandingkan Marcelo Salas yang sempat dua kali tercatat sebagai pemain paling produktif Biancocelesti (1998-2000). Mungkin para suporter Lazio tak ingin memori baik mereka tentang Inzaghi rusak dengan kegagalannya di kursi pelatih.

Akan tetapi, semua sebenarnya merupakan bagian dari proyek jangka panjang Lotito. Ketika mengambil alih kepemilikan Lazio, dia harus membayar banyak hutang yang ditinggalkan Cragnotti. Lotito tahu Lazio harus mencari cara lain untuk menjadi kuat. Tidak bisa lagi menghambur-hamburkan uang.

Oleh karena itulah ia lebih banyak mendatangkan pemain-pemain muda yang belum banyak dikenal. Lotito juga memantau pemain-pemain senior Lazio dan mempercayakan mereka untuk manajemen tim. Igli Tare mendarat di Olimpico ketika sudah berusia 31 tahun. Dia hanya digunakan sebagai pelapis Tommaso Rocchi dan Goran Pandev oleh Delio Rossi. Tapi sebelum Tare resmi gantung sepatu, Lotito memberikan kontrak baru. Bukan sebagai pemain, melainkan direktur olahraga.

“Tidak ada yang mempercayai keputusan saya saat itu. Bahkan Tare sendiri terkejut dengan keputusan saya. Dia ragu karena tidak punya lisensi. Namun, saya berhasil meyakinkannya dengan mengatakan bahwa lisensi bukan sesuatu yang harus ia pikirkan,” aku Lotito. Sejak Tare jadi direktur olahraga Biancocelsti, Lotito mulai berani mengeluarkan uang. Nama-nama yang kini identik dengan Lazio seperti Zarate, Radu, Matuzalém, dan Hernanes adalah hasil kerja Tare.

“Inzaghi juga sama, saya menyodorkan kontrak lima tahun untuknya. Saat itu tawaran saya adalah gaji 5,3 juta Euro selama lima tahun. Agen Simo –sapaan Inzaghi- sempat terkejut, mengira uang itu adalah gaji tahunan kliennya. Saat saya menjelaskan bahwa itu adalah dana keseluruhan, Simo meminta agennya pergi,” lanjut Lotito.

“Walter Sabatini (mantan direktur olahraga Lazio) beberapa kali meminta saya untuk lepas Simo saat dia masih bermain. Tapi saya sengaja mempertahankannya karena tahu dia bisa menjadi pelatih di masa depan,” tutup pemilik Biancocelesti tersebut.

Terlepas dari keraguan yang dimiliki oleh para suporter, keputusan Lotito akhirnya berbuah hasil. Lazio kembali ke lima besar Serie-A dan lolos ke final Coppa Italia di musim pertama Inzaghi sebagai nakhoda tim. Untuk pertama kalinya sejak Hernan Crespo (2000/01), Lazio memiliki penyerang dengan raihan 20 gol per musim dalam diri Ciro Immobile. Padahal Immobile datang ke Olimpico dengan status pemain gagal di Borussia Dortmund.

“Inzaghi sangat berpengaruh untuk Lazio. Ia memiliki banyak pengetahuan, mempersiapkan diri dengan sangat baik, dan tahu cara mengasuh kami yang tergolong tim muda. Kami ingin berkembang bersama-sama. Itu adalah rahasia dari kesuksesan Lazio di bawah Inzaghi,” kata Immobile pada Juni 2017. “Jika Bielsa yang menangani tim ini, mungkin saya tidak akan seperti sekarang,” akunya.

Immobile datang ke Olimpico bersama dengan tandemnya di lini depan, Luis Alberto. Sama seperti Immobile, Alberto datang dengan cap kegagalan di Liverpool. Namun, Inzaghi berhasil mengubah mereka berdua sebagai duet yang ditakuti di Italia. Lepas dari skema 4-3-3 dan variasinya yang biasa digunakan Pioli, Inzaghi menerapkan pola 3-5-2 kepada Lazio.

Inzaghi mengubah sistem permainan Lazio

Inzaghi mengubah sistem permainan Lazio, mengeksploitasi sayap sebagai jebakan untuk tim lawan - Foto: Football Bloody Hell.

Dengan variasi 3-1-4-1-1, 3-5-1-1, 3-4-2-1, Inzaghi memperhatikan keseimbangan tim. Semua pemain selain Immobile diminta untuk naik-turun, terutama dua gelandang yang menempati sisi lapangan di formasi tersebut. Lazio arahan Inzaghi bisa main pelan, membangun serangan dengan sabar ataupun menerapkan satu-dua sentuhan cepat, langsung menusuk pertahanan lawan.

Kehadiran Sergej Milinkovic-Savic membuat mereka tidak terlalu bergantung dengan sisi lapangan untuk membangun serangan. Sisi lapangan tetap dieksploitasi oleh Lazio. Namun lebih untuk menarik perhatian lawan, agar saat mereka kehilangan kendali bola, mudah untuk mendapatkannya kembali.

Milinkovic-Savic menjalankan peran sebagai penyeimbang di lini tengah. Motor serangan sekaligus tembok pertama mereka saat diserang dari tengah. Terutama saat kedatangan bola-bola udara. Ia memiliki keleluasaan membangun serangan saat Lazio menyerang. Mengingat Lucas Leiva ataupun Marco Parolo siap menjaga kestabilan tim.

Sejak 2016/2017, gaya permainan Lazio di bawah Inzaghi tidak mengalami perubahan. Mungkin hanya ada satu-dua pemain yang menjalankan tugas berbeda. Luis Alberto misalnya, pada 2019/2020 ia tidak lagi berperan sebagai penyerang bayangan. Mungkin sesekali, tapi lebih sering membantu Milinkovic-Savic mengalirkan bola ke depan. Mendistribusikan bola tersebut kepada Joaquin Correa dan Immobile. Tidak melakukan banyak mengalami perubahan personel setiap tahunnya membuat Lazio arahan Inzaghi semakin solid.

Urusan produktivitas, Immobile dan kawan-kawan tak perlu diragukan lagi. Hingga pekan ke-16 Serie-A 2019/2020, Lazio sudah mencetak 38 gol. Kesebelasan paling produktif di Serie-A bersama Atalanta. Ini bukan pertama kalinya Lazio asuhan Inzaghi mencetak lebih dari 30 gol dari 16 laga. Musim 2017/2018 mereka berhasil mencetak 39 gol dalam periode yang sama.

Bedanya, ketika itu Lazio lebih banyak mengandalkan eksekusi bola mati untuk mencetak gol. Sepanjang musim 2017/2018, Lazio mencetak 89 gol. Tapi hanya 60 terlahir dari permainan terbuka (67,4%). Tapi, sejak 2018/2019, Inzaghi sudah melepas ketergantungan mereka terhadap bola mati. Musim lalu, hanya sembilan dari 56 gol Lazio yang tercipta dari bola mati. Alias 83,9% lahir dari permainan terbuka.

Hingga 22 Desember 2019, Lazio telah menciptakan 27 gol dari permainan terbuka. Lebih dari 70% total gol mereka. Menurut data Opta yang disajikan melalui FOTMOB, Lazio juga tercatat sebagai kesebelasan dengan jumlah tembakan terbanyak kedua di Serie-A (6,6/laga). Hanya Atalanta yang punya angka lebih tinggi dibandingkan Biancocelesti (7,7). Lebih jarang membuang-buang peluang (25) daripada Juventus, Inter Milan (27), AS Roma (28), dan Atalanta (48), membuat Lazio menjadi tim paling efektif di Serie-A. Setidaknya hingga pekan ke-16.

Sejak menerapkan 3-5-2 ala Inzaghi, Lazio memang memiliki rekor pertahanan yang buruk. Mereka baru lima kali mengakhiri pertandingan tanpa kebobolan. Akan tetapi, hal itu bukanlah masalah saat peserta Serie-A lainnya memiliki pertahanan yang lebih buruk. Hanya Inter Milan yang punya pertahanan lebih baik dari Lazio. Kebobolan paling sedikit di Serie-A (14x/16 laga) dan enam kali mengakhiri pertandingan dengan catatan nirbobol.

Butuh 15 tahun untuk Claudio Lotito menjawab keraguan publik. Tapi kerja sama Inzaghi dan Tare, dua sosok pilihannya, membuahkan hasil juga. Bahkan Lazio tidak lagi harus menjual pemain terbaik mereka ke kesebelasan lain.

Milinkovic-Savic sudah menjalani musim kelima bersama Biancocelesti. Immobile dan Alberto sudah empat musim bermain bersama. Nama mereka mungkin ada di daftar banyak klub Eropa. Tapi semua bertahan di Lazio. Bahkan Stefan Radu sudah 12 tahun bermain untuk Lazio dan dia masih berperan krusial di tim asuhan Inzaghi.

Menurut Transfermarkt, selama 15 tahun menguasai klub, Lotito tak pernah mengeluarkan uang sampai 50 juta Euro untuk berbelanja pemain. Mereka bahkan hanya mengeluarkan dana sekitar 39 juta Euro untuk mendatangkan 12 nama baru di musim panas 2019. Sembilan dari 12 nama itu juga pemain muda, di bawah 23 tahun. Mayoritas belum memiliki peran untuk tim.

Akan tetapi, Lazio mengakhiri 2019 sebagai salah satu pesaing scudetto. Hanya terpaut enam poin dari Inter Milan dan Juventus (36:42), dengan memiliki satu pertandingan lebih sedikit dibanding dua klub tersebut.

Sementara AC Milan yang menghabiskan lebih dari 100 juta Euro, ada di papan tengah. Napoli sebagai peserta Serie-A paling boros kedua setelah Juventus di musim panas 2019, terpaut tujuh poin dari Atalanta yang sementara menduduki zona Eropa terakhir liga. Mereka bahkan sudah memecat Carlo Ancelotti dan menggantikannya dengan Gennaro Gattuso.

Butuh waktu lama, namun janji Lotito saat pertama mengambil alih Lazio akhirnya terpenuhi. “Teori yang mengatakan siapa yang paling banyak mengeluarkan uang akan menang sudah usang. Pemenang adalah mereka yang punya tujuan jelas dan mempertimbangkan berbagai nilai yang ada”.

Komentar