Berusaha Memahami Keputusan Napoli Memilih Gennaro Gattuso

Analisis

by Adrianus Eduard Johanes

Adrianus Eduard Johanes

"Losing my religion to football"

Berusaha Memahami Keputusan Napoli Memilih Gennaro Gattuso

Mulai dari Mauricio Pochettino, Massimiliano Allegri, Laurent Blanc, Niko Kovac, hingga Juande Ramos, banyak pelatih kepala yang sedang menganggur. Dari sekian banyak nama yang tersedia, Napoli memilih Gennaro Gattuso sebagai pengganti Carlo Ancelotti. Sebuah keputusan aneh dari I Partenopei. Performa Kalidou Koulibaly dan kawan-kawan di bawah asuhan Don Carlo memang ada di bawah standard Napoli. Mereka hanya mengoleksi 21 poin dari 15 pertandingan Serie-A 2019/2020. Duduk di peringkat ke-tujuh klasemen sementara divisi tertinggi Italia, terpaut delapan poin dari zona Liga Champions UEFA.

Sejak 2016/2017, Napoli memang tidak pernah absen dari kompetisi paling prestisius di Benua Biru. Don Carlo bahkan berhasil membawa Partenopei lolos ke fase 16 besar Liga Champions 2019/2020 sebelum ditendang dari San Paolo. Bantai KRC Genk empat gol tanpa balas, I Partenopei mewakili Grup E sebagai peringkat dua, satu poin di bawah pemuncak klasemen sekaligus juara bertahan, Liverpool. Bukan diberi waktu tambahan untuk memanfaatkan momentum itu ke performa liga, Ancelotti justru dipecat.

“Napoli memutuskan untuk mencabut Carlo Ancelotti dari jabatan sebagai kepala pelatih. Relasi dan rasa hormat kami kepada Ancelotti masih terjaga, begitu juga sebaliknya,” tulis Napoli mengumumkan kepergian Don Carlo. Presiden Napoli Aurelio De Laurentiis mengaku sedih harus mengambil keputusan ini. Namun dirinya merasa semuanya akan berjalan lebih baik jika Napoli dan Ancelotti berpisah. “Saya sedih semuanya harus berakhir seperti ini. Namun kami memiliki mimpi yang tiba-tiba terbangun. Saya rasa ini adalah yang terbaik,” kata De Laurentiis.

VIDEO: Latihan pertama Napoli bersama Gattuso



Mimpi Napoli tetap sama sejak memboyong Raul Albiol, Gonzalo Higuain, dan Jose Callejon dari Real Madrid pada 2013. Mereka ingin kembali menjadi kesebelasan yang ditakuti di Italia. Bersaing untuk meraih scudetto. Sudah enam tahun berlalu, I Partenopei selalu gagal mencapai target tersebut. Hanya satu gelar Coppa Italia yang berhasil diraih. Kedatangan Ancelotti awalnya dilihat sebagai langkah yang pas untuk Napoli. Selama ini mereka selalu memiliki pemain-pemain berkualitas, namun tidak didukung oleh nakhoda yang berpengalaman di Italia.

Ancelotti sebagai pemenang Serie-A 2003/2004 adalah pilihan tepat. Namun kenyataannya, performa Napoli justru di bawah standard. Wajar jika akhirnya Don Carlo tidak dipertahankan oleh De Laurentiis. Akan tetapi mengganti Ancelotti dengan Gattuso juga patut dipertanyakan. Rino –panggilan Gattuso- bukanlah sosok yang memiliki catatan melatih mentereng.

Memulai karier di dunia manajerial sejak 2013, Gattuso sudah menangani lima kesebelasan berbeda; FC Sion, Palermo, OFI Crete, AC Pisa, dan AC Milan. Menurut Transfermarkt, rataan poin per pertandingan yang diraih Gattuso bersama lima kesebelasan itu tidak pernah mencapai angka dua. Tertinggi hanyalah 1,88 saat mengasuh Pisa di Serie-C. Gattuso juga tidak pernah bertahan di satu kesebelasan lebih dari satu tahun, kecuali saat menangani AC Milan. Ia bertahan selama 547 hari di San Siro sebelum diganti dengan Marco Giampaolo.

Datang ke San Paolo, Gattuso tahu tantangan yang harus ia lewati. “Memalukan melihat kondisi Napoli saat ini. Target utama kami adalah kembali ke zona Liga Champions UEFA. Semua pemain ada di dalam rancangan saya dan kami sadar bahwa Napoli sebagai klub harus bisa mengembalikan rasa antusias di kota ini,” kata Gattuso.

Gattuso sadar bahwa kemampuannya masih di bawah Ancelotti. Namun ia yakin bahwa dirinya tahu apa yang harus dilakukan untuk membawa Napoli kembali ditakuti. “Saya tidak suka bermain dengan empat gelandang. Saya tahu apa yang diinginkan dari para pemain. Saya tahu harus bermain seperti apa. Tugas pertama saya adalah untuk memperbaiki pertahanan tim,” jelas mantan anak asuh Ancelotti itu. “Carlo [Ancelotti] sudah seperti ayah untuk saya. Dia telah memenangkan segalanya. Saya masih dalam masa pembuktian. Tapi melihat kondisi saat ini sangatlah memalukan,” lanjutnya.

Menurut Football Italia, Ancelotti sebenarnya sempat meminta untuk tetap dipertahankan oleh Napoli. Namun keputusan De Laurentiis sudah bulat. Ancelotti pun hanya bisa menitipkan tim kepada Gatusso. “Saya sudah berbicara dengan Carlo. Menjelaskan keputusan saya menerima pekerjaan ini. Ia juga telah memberi saya restu. Mengatakan bahwa tim ini masih bisa lebih baik lagi,” kata Gatusso.

Melihat semua kondisi ini, besar peluang bahwa Gatusso dipilih atas dasar rekomendasi Napoli. Relasi Ancelotti dan Napoli tidak rusak meski keinginannya untuk bertahan ditolak. Ia juga sudah bicara dengan Gattuso dan percaya bahwa Napoli bisa menjadi lebih baik lagi. Perubahan suasana mungkin menjadi hal yang paling dibutuhkan Partenopei saat ini. Don Carlo sendiri merupakan sosok yang sangat mengagumi Gattuso. “Anda adalah ksatria sejati yang tak pernah menyerah di atas lapangan. Saya selalu kagum kepada Anda,” tulis Ancelotti ke Gattuso ketika mantan gelandang AC Milan itu merayakan ulang tahun ke-40 (Januari 2018).

Semua jadi terlihat lebih masuk akal. Terlepas dari prestasi Ancelotti dan Gattuso di dunia manajerial sangatlah berbeda, Rino merupakan salah satu murid terbaik Don Carlo. Sekalipun rekornya sebagai pelatih tak mentereng, perlu diingat juga bahwa Gattuso diakui sebagai pelatih berkualitas oleh mantan nakhoda Tim Nasional Italia, Marcelo Lippi. “Dia belajar menjadi bijaksana dari Ancelotti,” kata Lippi.

Napoli tidak mengumumkan berapa lama Gattuso diikat. Jika hanya hingga musim 2019/2020 berakhir, Gattuso mungkin jadi pilihan terbaik yang Napoli miliki. Sekalipun banyak nama yang lebih berprestasi sedang menganggur. “Anda tidak perlu tahu berapa lama saya di sini [Napoli], sekalipun hanya setengah musim juga tidak masalah. Ini adalah peluang besar untuk saya,” kata Gatusso.

Komentar