Mikel Arteta adalah Penerus Arsene Wenger yang Sebenarnya

Analisis

by Adrianus Eduard Johanes

Adrianus Eduard Johanes

"Losing my religion to football"

Mikel Arteta adalah Penerus Arsene Wenger yang Sebenarnya

Meninggalkan Arsenal di akhir musim 2015/2016, Mikel Arteta dikenal sebagai salah satu pemain terbaik The Gunners pasca Stadion Highbury. Sebelumnya, gelandang kebangsaan Spanyol itu selalu dipandang sebelah mata. Gagal menembus tim senior FC Barcelona, tak pernah membela kesebelasan papan atas, bahkan tidak sekalipun mendapatkan kesempatan di Tim Nasional Spanyol.

Keputusan Arsene Wenger memboyong Arteta pada musim panas 2011 menjadi lembaran baru baginya. Wenger selalu memberikan kepercayaan lebih kepada Arteta. Bahkan, ia ditunjuk sebagai kapten Arsenal di musim 2014/2015. Membela Arsenal selama lima tahun, Arteta mengoleksi 150 penampilan dan dua kali masuk dalam daftar lima pemain terbaik versi suporter.

Tidak butuh waktu lama untuk Arteta kembali terlibat di dunia sepakbola. Sejak masih aktif bermain, ia telah mempersiapkan diri untuk menjadi pelatih. Memulai kursus kepelatihan di 2015, ia pernah membantu Arsenal U13 dan Wales U16 sebelum ditunjuk sebagai tangan kanan Pep Guardiola di Manchester City.

“Saat tak bermain sekalipun, Arteta sangat berpengaruh di dalam tim. Ia adalah sosok yang sangat teliti. Selalu siap dua jam sebelum latihan dimulai, fokus, dan selalu membuat semuanya jadi lebih tertata di dalam tim. Dirinya akan menjadi manajer suatu hari nanti. Saat Anda melatih, pasti ada pemain-pemain yang ingin dilihat mengambil posisi manajerial di masa depan. Mengajarkan ke generasi muda apa yang telah ia pelajari selama ini,” aku Wenger.

Mempelajari dunia kepelatihan dengan ikut dalam program Asosiasi Sepakbola Wales (FAW), Arteta mungkin tidak didukung rekor-rekor seniornya. Thierry Henry, Tim Sherwood, dan Darren Ferguson, bukan nama-nama yang memiliki pencapaian positif di dunia manajerial. Namun, FAW juga menjadi pihak yang bertanggung jawab atas kelahiran Tony Pulis, Roberto Martinez, dan Gary Monk. Meskipun mereka belum dan mungkin tidak akan menangani kesebelasan populer seperti Arsenal, semua adalah nama-nama yang dihormati di dunia manajerial.

Arteta sendiri sudah disiapkan untuk menjadi pengganti Wenger sejak 2016. Akan tetapi, direksi klub akhirnya memilih mantan nakhoda Sevilla, Unai Emery, sebagai penerus Sang Profesor. Awalnya, Emery sesuai dengan standar The Gunners. Ia mengakhiri musim pertamanya di peringkat kelima klasemen Liga Primer Inggris, hanya terpaut satu poin dari Tottenham Hotspur. Emery juga membawa Arsenal ke final Liga Europa 2018/2019 meski kalah 1-4 dari Chelsea di partai puncak.

Namun, setelah menghabiskan lebih dari 137 juta Paun di musim panas 2019, Emery hanya bisa meraih delapan kemenangan dan tujuh hasil imbang dari 20 pertandingan. Arsenal terlempar ke posisi kedelapan dan ditekuk Eintracht Frankfurt di kandang sendiri. Emery pun didepak dari Stadion Emirates. Freddie Ljungberg diminta mengasuh tim untuk sementara. Sementara direksi klub kembali mendekati Arteta.

“Saya merasa terhormat mendapat kesempatan untuk menangani Arsenal. Namun pihak direksi harus segera membuat keputusan,” kata Ljungberg setelah menelan kekalahan telak 0-3 dari Manchester City yang dipegang oleh Guardiola dan Arteta.

Saat itu, Arteta memang berperan sebagai asisten Guardiola, tapi setelah pertandingan, dukungan untuk mantan pemain Everton segera ke Stadion Emirates semakin banyak. Bahkan dukungan tersebut keluar langsung dari kubu Manchester City.

“Mengunci jasanya sebelum klub lain adalah kepintaran kami [Manchester City],” buka Guardiola.

“Saya yakin Arteta akan bisa berbuat banyak dengan Arsenal. Jika dia mau pindah, saya tidak akan melarang. Tapi jika ia memilih bertahan, saya akan sangat senang,” aku Guardiola. “Saya tidak meragukan Arteta. Arsenal adalah salah satu tim terbaik dalam 20 tahun terakhir."

“Jika Arteta mendapatkan peluang menjadi manajer, tidak ada alasan untuk Manchester City berusaha menghalangi dia. Sebagai klub, Anda pasti ingin melihat bagian dari tim menjadi sosok yang lebih baik lagi. Ini adalah kesempatan Arteta,” tambah Kevin De Bruyne.

Legenda Arsenal Paul Merson meragukan kemampuan Arteta, mengingat mantan pemain Paris Saint-Germain (PSG) itu belum pernah menjabat sebagai manajer sebelumnya. “Saya tak yakin dengan Arteta. Anda akan hanya bisa sebagus pemain yang ada. Jika melihat skuad Arsenal saat ini, sulit untuk dirinya mencoba filosofi Guardiola di Arsenal,” kata Merson.

Keraguan itu adalah hal yang wajar. Meskipun Arteta sebenarnya pernah berperan sebagai kepala pelatih di Manchester City, menggunakan pemain-pemain yang sama dengan Guardiola, hasil yang didapat juga negatif. Manchester City asuhan Arteta ditekuk Olympique Lyon 1-2 di Liga Champions. “Kenyataannya, kami kalah saat Pep absen. Saya juga sebenarnya tidak tahu apakah jika ada Pep kami bisa menang. Mungkin kita kalah 0-3. Mungkin juga kita menang 5-0,” kata Arteta setelah laga itu.

Namun, satu pertandingan itu tidak mencerminkan kualitas Arteta sebagai manajer. Guardiola juga tak menjadi inspirasi utamanya dalam melatih. Arteta lebih melihat Arsene Wenger sebagai panutan utama. “Saya pernah bermain dengan Pochettino di PSG. Dia kapten saya di Paris. Saya selalu tahu dirinya akan menjadi manajer hebat,” aku Arteta.

“Pochettino terinspirasi oleh Bielsa. Bielsa adalah guru Pochettino, dan ia menerapkan permainan agresif yang tidak takut mengambil risiko. Saya selalu kagum dengan dia. Saya pun tidak jauh berbeda dengan Pochettino. Belajar dari apa yang pernah saya dapat, mempersiapkannya untuk masa depan, dan melihat hasilnya sebelum melakukan evaluasi,” jelas Arteta.

“Saya bukan sosok yang bisa membentuk tim sesuai dengan gaya permainan lawan. Tim asuhan saya harus mengekspresikan diri mereka di atas lapangan, bermain menghibur, dan menguasai permainan. Itulah filosofi permainan saya,” katanya.

Terdengar familiar, fans Arsenal?

Arteta jelas belajar banyak dari Guardiola. Namun, begitu juga sebaliknya. Dalam buku “Pep’s City: The Making of a Superteam” karya Pol Ballus and Lu Martin, peran Arteta disebut sangat krusial dalam transformasi Manchester City. Ballus dan Martin bahkan percaya bahwa Arteta lebih dekat dengan Pep dibandingkan Pere Guardiola, saudara kandung sekaligus agen dari mantan kepala pelatih FC Barcelona tersebut.

“Arteta sangat krusial di dalam Manchester City. Dirinya merupakan alasan utama saya bertahan di sini. Dirinya tahu kemampuan saya dan selalu memberikan peran yang sesuai di atas lapangan. Saya mungkin adalah sosok yang paling berisik memintanya untuk tidak pergi dari sini. Namun, saya tahu dirinya akan jadi manajer hebat,” aku Fabian Delph.

Arteta mungkin masih minim pengalaman. Tapi kemampuannya sebagai pelatih sudah diakui berbagai pihak. Beda dengan saat ia masih bermain, Arteta di pinggir lapangan dilihat sebagai salah satu sosok dengan masa depan besar.

Andaikan Arsenal bisa memenangkan Arteta, jelas akan ada kesegeran di ruang ganti The Gunners. Pierre-Emerick Aubameyang dan kawan-kawan bisa fokus dengan diri mereka sendiri dan tidak lagi menghabiskan waktu menonton tayang ulang seperti saat dilatih Emery. Namun, mereka harus bisa memenangkan hati Arteta yang juga sedang disiapkan Guardiola untuk menjadi penerusnya di Stadion Etihad.

Komentar