Mason Greenwood Masih Solskjaer Tapi Siap Jadi Rooney

Analisis

by Adrianus Eduard Johanes

Adrianus Eduard Johanes

"Losing my religion to football"

Mason Greenwood Masih Solskjaer Tapi Siap Jadi Rooney

Mason Greenwood resmi menjadi poster utama generasi muda Manchester United. Sejak diasuh Ole Gunnar Solskjaer, Manchester United memang tengah membentuk generasi baru. Angel Gomes, Scott McTominay, James Garner, hingga Tahith Chong, diberikan menit bermain oleh nakhoda asal Norwegia itu. Namun, tidak ada yang lebih bersinar dibandingkan Greenwood. Pemain asal Kota Bradford itu terlibat dalam tujuh gol di sembilan laga terakhirnya bersama The Red Devils. Padahal dirinya hanya mendapatkan 411 dari 810 menit yang tersedia.

Efektivitas Greenwood di atas lapangan mirip dengan Solskjaer. Sosok manajer Manchester United itu dijuluki sebagai The Baby Face Assassin saat masih aktif bermain. Wajahnya yang terlihat awet muda seakan menipu pertahanan lawan. Sir Alex Ferguson sebagai sosok yang memboyong Solskjaer ke Old Trafford lebih sering menjadikan Ole--sapaan Solskjaer--senjata pamungkas. Ia masuk sebagai pengganti pada tengah pertandingan dengan tugas mengubah situasi di atas lapangan.

Menetap di Kota Manchester selama 11 tahun (1996-2007), Ole bermain 365 kali untuk The Red Devils. Namun dirinya hanya mendapatkan waktu 20.354 menit di atas lapangan. Dari 365 pertandingan yang ia jalani, Solskjaer hanya 124 kali bermain penuh. Sisanya, dia selalu masuk sebagai pemain pengganti atau digantikan di tengah pertandingan.

Meski peran Greenwood di musim 2019/2020 hanyalah sebagai pelapis Marcus Rashford dan Anthony Martial, talentanya sudah diakui sejak muda. “Saya ingat saat melihat Greenwood membela Idle Junior melawan Telegraph & Argus. Laga berakhir 16-1 untuk kemenangan Idle Junior. Greenwood mencetak semua gol mereka,” aku Mark Senior, pelatih akademi Manchester United di kawasan Yorkshire kepada The Athletic.

“Saya pernah bermain dengan Alan Smith (mantan pemain Leeds dan Manchester United), Greenwood mirip dengan dirinya. Ia memiliki kepercayaan diri, tapi tidak arogan. Ketika itu saya belum mengenal dia secara personal. Tapi itu adalah impresi pertama saya saat melihat dia bermain,” lanjutnya.

“Dari situlah saya mengajak Greenwood ikut tes masuk. Kami meloloskan enam sampai tujuh pemain, ia adalah salah satu pemain itu. Biasanya, mereka yang lolos akan sombong, menghina pemain lain. Namun, Greenwood sangat sopan,” puji Senior.

Teman-teman masa kecil Greenwood pun menceritakan hal serupa pada The Athletic, bagaimana talenta Greenwood sudah terlihat sejak dulu. “Saya tidak terlalu dekat dengan Mason [Greenwood]. Namun, urusan sepakbola, itu hal yang berbeda. Kami selalu bersama-sama bermain sepakbola. Dirinya dapat mencetak gol dari segala sudut,” kata rekan sepergaulan Greenwood, Oliver Arundele.

“Dulu semua anak saling bergantian menjadi penjaga gawang. Mason menolak ada di bawah mistar. Dia ingin cetak gol. Tangan saya bahkan seperti mau patah berusaha menahan tendangannya. Untuk anak seusianya, kaki kanan Mason luar biasa,” aku Arundale.

“Kami pernah main menggunakan tiga penjaga penjaga gawang. Tapi Mason tetap berhasil membobol gawang kami. Ia menghabisi kami semua,” ingat Joe Ockerby yang pernah satu akademi dengan Greenwod di Appleton.

Kemampuan Greenwood yang telah terlihat sejak kanak-anak semakin membuat dirinya mirip dengan Ole. Ketika masih sekolah, pria asal Norwegia itu juga sudah memperlihatkan kemampuannya di atas lapangan. “Saya mengajar Solskjaer dari 1980 hingga 1986. Kami hanya memiliki 13 anak saat itu dan saya harus membuat peraturan khusus untuk Solskjaer karena dia terlalu hebat,” aku Guru Olahraga Solskjaer di Sekolah Dasar Yngve Johansen.

Memulai karier di Clausenengen, Solskjaer juga sudah menggila. Ia mencetak 109 gol dari 115 laga untuk kesebelasan itu. Talenta Solskjaer pun menarik minat Molde sebelum akhirnya mendarat di Manchester United. “Kami sangat bangga saat dia pindah ke Molde. Kebanggan itu semakin besar saat dirinya dilirik Manchester United,” kata Presiden Clausenengen John Marius Dybvik.

Namun, Solskjaer hanya berstatus sebagai pemain pengganti di Manchester United, sekalipun dilabeli "super-sub". Ia selalu tertutup oleh sinar Andy Cole, Eric Cantona, Ruud van Nistelrooy, Wayne Rooney, dan lain-lain. Banyak pihak tidak menginginkan hal itu terjadi kepada Greenwood.

Mereka lebih melihat Greenwood sebagai penerus Rooney dibandingkan Solskjaer. Bahkan, Solskjaer sendiri melihat kemiripan antara Greenwood dengan Rooney. “Dia adalah pesepakbola alami. Tak ada yang spesial dari performa dia. Hari ini dia mencetak gol, besok dirinya akan kembali ke latihan seperti tidak ada apa-apa. Berdasarkan pengalaman saya, hanya sedikit pemain muda seperti dia. Nama yang saya ingat adalah Wazza–panggilan Rooney,” kata Solskjaer.

Greenwood juga melihat Rooney sebagai panutan utamanya. “Rooney adalah pencetak gol luar biasa. Saya ingin menjadi seperti dirinya. Rooney dan Ronaldo [Nazario] adalah panutan saya. Dulu saya suka melihat cuplikan Ronaldo karena ayah sering memutarnya. Mereka adalah penyerang kelas dunia,” kata Greenwood.

Namun selama 13 tahun membela Manchester United, Rooney adalah pilihan utama. Ia bukan penghangat bangku cadangan! Ia bahkan sempat mengalami perubahan posisi agar tetap berada di susunan utama. Hal itu mungkin belum bisa dinikmati Greenwood. Dirinya masih harus duduk menunggu Rashford atau Martial keluar dari lapangan. Akan tetapi, Solskjaer sudah menjamin masa depan pemain top skorer Liga Primer U18 2017/2018 itu di Old Trafford.

“Greenwood tidak akan pergi ke mana-mana. Hal itu sudah diputuskan musim lalu (2018/2019), menjadi pemain pinjaman pun tidak,” kata Solskjaer.

Saat baru berlatih bersama tim senior, Greenwood sempat membuat Alexis Sanchez geram karena melakukan jegalan keras ke mantan pemain Barcelona tesebut. Tapi Manchester United lebih memilih Greenwood dibandingkan Sanchez. Hasilnya pun mulai terlihat di musim 2019/2020.

Komentar