Menantikan Racikan Luis Milla Pada Timnas Senior

Analisis

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Menantikan Racikan Luis Milla Pada Timnas Senior

Setelah timnas U22 kemarin berjuang dalam ajang SEA Games 2017 dengan hasil medali perunggu, sekarang Indonesia akan mulai melibatkan diri dalam masa jeda internasional dalam bentuk laga uji tanding. Lawan mereka pun sudah ditetapkan, yaitu Fiji, dengan venue di Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, pada Sabtu (2/9/2017) sore.

Timnas Indonesia sendiri sudah pernah bertemu dengan Fiji dalam laga uji tanding. Pertemuan itu terjadi pada 1981 sebanyak dua kali, dengan dua pertemuan tersebut berakhir imbang. Baru setelah beberapa tahun kemudian, Indonesia dan Fiji bertemu kembali dalam sebuah laga uji tanding.

Meski Fiji berada di bawah Indonesia dalam soal peringkat FIFA (Fiji berada di peringkat 181, sedangkan Indonesia berada di peringkat ke-175), namun Indonesia pantang meremehkan lawannya ini. Dua hasil imbang yang pernah terjadi antara keduanya, setidaknya bisa menjadi cerminan bahwa tim "Merah Putih" harus tetap waspada akan kekuatan sangara (kesebelasan negara) yang masuk zona Oseania ini.

Komposisi pemain yang tidak jauh beda dengan ajang Piala AFF 2016

Luis Milla, pelatih timnas Indonesia (ingat dia dikontrak untuk menjadi pelatih timnas U22 dan pelatih timnas senior juga), sudah menetapkan 20 nama pemain yang akan membela timnas Indonesia dalam laga uji tanding melawan Fiji. Dari ke-20 nama tersebut, rata-rats di antara mereka pernah main untuk timnas dalam ajang Piala AFF 2016, meski ada juga beberapa nama anyar macam Ahmad Jufriyanto, M. Rahmat, Slamet Nurcahyo, serta Johan Ahmad Alfarizi.

Cukup banyaknya pemain yang dipanggil sekarang yang pernah bermain di Piala AFF 2016 adalah sebuah cara tersendiri yang dilakukan oleh Luis Milla. Minimnya waktu persiapan skuat, karena Milla yang sibuk dengan ajang SEA Games 2017, membuat Milla akhirnya memanggil pemain yang rata-rata pernah bermain dalam ajang Piala AFF 2016. Dengan begitu, chemistry antar pemain ini tidak perlu dibentuk lagi sejak awal.

Di sisi lain, Fiji datang ke Indonesia berbekal skuat yang rata-rata berisikan pemain muda. Malah Fiji menyertakan Scott Wara, pemain berusia 17 tahun yang sekarang sedang menimba ilmu di Stoke City. Hanya ada empat pemain Fiji yang dibawa ke Indonesia yang sekarang berusia 30 tahun ke atas. Mereka adalah Simione Tamanisau (kiper), Samuela Kautoga (bek), Roy Krishna (penyerang), serta Osea Vakatalesau (penyerang).

Hati-hati dengan serangan balik cepat Fiji

Dalam laga uji tanding nanti, ada satu hal yang harus diwaspadai oleh Indonesia, yaitu kecepatan serangan balik Fiji. Dari beberapa laga yang sudah Fiji jalani dalam babak kualifikasi Piala Dunia zona Oseania, tampak Fiji kerap kali mencetak gol lewat serangan balik. Lewat kecepatan para pemainnya, mereka kerap menyajikan ancaman bagi lawan-lawan yang mereka hadapi.

Ketika menghadapi Kaledonia Baru di kandang mereka, Stadion Churchill Park, dalam babak kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Oseania, Fiji mampu mengejar ketertinggalan 0-2 dari Kaledonia Baru lewat dua serangan balik yang cukup mematikan. Kecepatan-kecepatan dari para pemain sayap Fiji adalah sesuatu yang harus diwaspadai oleh para bek timnas Indonesia.

Selain itu, Fiji pun cukup kuat dalam hal bola-bola atas. Dari tiga gol terakhir yang mereka cetak, dua di antaranya berasal dari sundulan kepala. Ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia, terutama bagi para defender untuk bisa menghalau umpan-umpan silang para pemain Fiji yang sebenarnya cukup akurat juga.

Indonesia bisa menang, asal. . .

Secara kemampuan individu, Indonesia sebenarnya bisa dengan mudah meraih kemenangan atas timnas Fiji. Bisa dibilang, level timnas Indonesia sedikit berada di atas Fiji, yang rata-rata pemainnya bermain di liga lokal, meski beberapa di antaranya juga ada yang bermain di Liga Selandia Baru. Indonesia malah bisa saja menang telak atas Fiji.

Tapi, selain mewaspadai serangan balik Fiji, ada satu hal lain yang juga harus dilakukan, yaitu menekan sayap-sayap Fiji. Tim berjuluk "Bula Boys" ini memang baik dalam soal serangan balik, tapi tak jarang kerap ada ruang-ruang kosong di sayap yang bisa dieksploitasi oleh para winger Indonesia yang punya kecepatan yang baik.

Rizky Pora ataupun Andik Vermansyah yang punya kecepatan dan kemampuan dribel yang baik bisa jadi kunci Indonesia dalam mengacaukan pertahanan Fiji. Sosok Lerby Eliandri atau Boaz Salossa yang bisa menjadi pemantul bola bagi para winger, sekaligus penarik perhatian bek-bek Fiji. Intinya, secara garis besar Indonesia bisa meraih kemenangan atas Fiji. Peluang untuk menaikkan peringkat di FIFA pun terbuka lebar bagi timnas Indonesia.

Komentar