Pertahanan Liverpool Masih Memerlukan Perbaikan

Analisis

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Pertahanan Liverpool Masih Memerlukan Perbaikan

Liverpool memang luar biasa. Pertandingan perdana Liga Primer Inggris musim 2016/2017 melawan Arsenal pada Minggu (14/8) malam berhasil mereka menangkan. Skornya pun tidak tanggung-tanggung; 3-4. Sektor penyerangan mereka begitu menyeramkan. Nama-nama seperti Phillipe Coutinho, Roberto Firmino, Georginio Wijnaldum, Adam Lallana, dan Sadio Mane, bergantian memberikan ancaman berarti bagi pertahanan Arsenal.

Bahkan, berdasarkan catatan dari Whoscored, total tembakan mereka pun terhitung banyak, 16 tembakan berbanding sembilan milik Arsenal, dengan 13 diantaranya dicetak melalui proses open play, dan tiga yang berasal dari set-piece, yang salah satunya berbuah gol lewat tendangan bebas Phillipe Coutinho. Melihat catatan seperti ini, tidak usah diragukan lagi kalau penyerangan The Reds memang cukup menjanjikan untuk musim 2016/2017.

Namun, bukan berarti The Reds tanpa cacat. Memang benar bahwa Liverpool mampu memanfaatkan absennya Gabriel Paulista, Laurent Koscielny (yang hanya menonton dari tribun stadion Emirates), dan Per Mertesacker dengan melakukan serangan cepat mengandalkan kecepatan dari Mane, Coutinho, Lallana, Firmino, dan Wijnaldum. Liverpool pun perlu waspada. Pertahanan mereka masih ada cela.

Baca Juga: Lini Tengah Arsenal Oke, Lini Belakang dan Depan Perlu Amunisi Baru

Alberto Moreno, Kelemahan Sisi Kiri Liverpool

Dalam pertandingan semalam, Arsenal sebenarnya unggul terlebih dahulu melalui Theo Walcott. Pemain ini menjadi ancaman serius bagi pertahanan Liverpool dan merepotkan Alberto Moreno, yang sempat melanggar dirinya dan menghadiahkan sebuah penalti untuk The Gunners. Beruntung, Walcott gagal mengeksekusi penalti tersebut.

Tapi, kesalahan ini langsung dibayar tuntas. Lagi-lagi lewat kesalahan Moreno yang telat kembali usai Liverpool melakukan serangan, Walcott mengeksploitasi sisi tersebut, menerima umpan dari Alex Iwobi, dan akhirnya berhasil menaklukkan kiper asal Belgia, Simon Mignolet. Walcott berhasil membawa Arsenal unggul terlebih dahulu.

Kesalahan Moreno saat menjaga wilayah operasinya di sisi kiri ini seakan mengulangi apa yang pernah ia lakukan dalam babak final Europa League musim lalu. Terlalu asyik menyerang dan lupa untuk melakukan trackback adalah salah satu penyakit akut dari fullback kiri asal Spanyol ini. Saat melawan Sevilla dalam babak final Europa League, para pemain Los Rojiblancos berhasil mengeksploitasi kelemahan ini sehingga mampu berbalik unggul setelah tertinggal terlebih dahulu.

Bukan tidak mungkin, dalam beberapa pertandingan ke depan, kebiasaan buruk Moreno ini akan menjadi petaka bagi Liverpool, apalagi jika The Reds bersua tim-tim yang lebih pandai secara strategi dan juga memiliki winger atau pemain sayap yang mampu memanfaatkan kebiasaan buruk dari pemain yang besar bersama Sevilla ini.

Nathaniel Clyne dan Simon Mignolet, Perlu Lebih Fokus

Nathaniel Clyne sebenarnya bermain baik dalam pertandingan melawan Arsenal, dengan memberikan satu asis untuk gol Coutinho. Ia bersama dengan Adam Lallana dan Sadio Mane menjadi konstan menghadirkan ancaman dari sisi kiri pertahanan The Gunners, dan membuat Nacho Monreal harus bekerja keras. Mereka jugalah yang menjadi aktor dari total 40% serangan The Reds yang berasal dari sisi kanan.

Tapi, momen saat Arsenal berhasil mencetak gol balasan lewat Alex-Oxlade Chamberlain, menunjukkan bahwa Clyne pun mesti lebih fokus dalam menjaga pertahanan. Ia gagal menjaga pergerakan liar dari Chamberlain di sisi kiri penyerangan Arsenal sehingga membuat pemain kelahiran Portsmouth ini mampu mencetak gol balasan untuk Arsenal.

Selain kesalahan dari Clyne, Mignolet pun menjadi pemain yang harus bertanggung jawab atas kebobolan gol Chamberlain ini. Kesalahan antisipasi yang ia lakukan membuat bola malah mengalir masuk ke gawang Liverpool. Meski berhasil mengagalkan tendangan penalti Walcott, ia juga masih perlu membuktikan diri sebagai kiper utama The Reds dengan menunjukkan refleks dan antisipasi yang baik sehingga mampu memberikan rasa aman bagi pertahanan The Reds sendiri.

Kelemahan dalam Set-Piece

Sama halnya seperti Liverpool, Arsenal mencetak tiga peluang melalui set-piece, yang salah satunya berbuah menjadi gol lewat sundulan Calum Chambers. Di sini terlihat bahwa The Reds pun masih memiliki pekerjaan rumah dalam mengantisipasi set-piece, dan ini adalah tugas dari seorang Ragnar Klavan.

Ketika proses set-piece yang dilakukan oleh Santi Cazorla pada menit ke-75, bek asal Estonia ini berada dalam posisi yang salah. Ia malah berada di belakang seorang Chambers sehingga ia kalah melompat dan membuat bek berusia 21 tahun ini mampu membelokkan bola ke arah gawang.

***

Masih ada waktu bagi Klopp untuk melakukan di sisi pertahanan Liverpool, karena bursa transfer masih terbuka sampai tanggal 31 Agustus nanti, juga liga yang masih panjang. Manajer asal Jerman ini masih bisa belanja pemain baru atau mencari formula yang pas untuk lini pertahanan Liverpool. Jangan sampai, suara boo yang terdengar di Emirates kemarin berpindah ke Anfield karena pertahanan The Reds yang tak kunjung membaik.

Komentar