Ketika Joachim Loew Contek Strategi Conte

Analisis

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Juru Taktik Amatir
ardynshufi@gmail.com

Ketika Joachim Loew Contek Strategi Conte

Adu strategi tersaji pada laga Jerman menghadapi Italia yang berlangsung pada Minggu (3/7) dini hari WIB. Waktu 120 menit tak cukup bagi kedua kesebelasan untuk menentukan pemenang. Jerman sendiri akhirnya mampu menyingkirkan Italia setelah menang adu penalti, 6-5.

Yang paling menjadi sorotan pada laga ini adalah bagaimana pelatih Jerman, Joachim Loew, menyikapi skema tiga bek yang menjadi andalan Italia. Loew dengan berani mencadangkan Julian Draxler yang tengah on fire dengan mamasukkan Benedict Hoewedes pada daftar susunan pemain utama. Jerman bermain dengan formasi dasar 3-5-2.

Sempat beradaptasi pada awal-awal laga, di mana Jerman baru mendapatkan peluang mencetak gol pada menit ke-40, Jerman kemudian mengambil alih pertandingan. Italia tampak tertekan khususnya pada babak kedua dan babak tambahan waktu.

Kedua kesebelasan sebenarnya sama-sama mencetak 12 peluang. Namun pada laga ini, Jerman bermain lebih dominan dan tampil begitu percaya diri. Italia tak berdaya menghadapi penguasaan bola yang dipraktikkan Jerman.

Jerman sebenarnya tampak meniru strategi Antonio Conte, pelatih Italia, dengan skema tiga beknya. Pressing sejak pemain belakang Italia menguasai bola dilakukan untuk mengganggu terbangunnya serangan Italia dari belakang. Sementara ketika bola melewati tengah lapangan, transisi dengan cepat dilakukan dengan membentuk pola 5-3-2.

Jarak antar pemain pun begitu diutamakan bagi lini pertahanan Jerman. Pada gambar di atas terlihat bagaimana jarak antar pemain Jerman begitu dekat. Jalur operan pada Graziano Pelle dan Citadin Eder yang biasanya jadi pemantul pun tertutup.

Lima pemain membentuk garis pertahanan terakhir. Di depannya terdapat tiga gelandang yang menjadi tembok pertama. Sementara itu dua penyerang mengganggu setiap pemain lawan yang menguasai bola.

Skema ini sedikit banyak mirip seperti yang digunakan Italia. Italia setelah pressing di lini pertahanan lawan gagal merebut bola, akan bertransisi menjadi 5-3-2. Jarak antar pemain pun begitu rapat untuk menutup jalur operan.

Yang membedakan dari strategi 3-5-2 Loew adalah cara menyerang. Jika Italia mengandalkan serangan balik cepat, Jerman tetap mengandalkan possession football. Tak heran Jerman pun unggul penguasaan bola dengan 61% berbanding 39%. Jerman sendiri saat ini merupakan kesebelasan dengan rataan penguasaan bola tertinggi di Piala Eropa kali ini (64% per pertandingan).

Keberhasilan Jerman membongkar pertahanan Italia adalah dengan terus mengeksploitasi sayap. Bahkan Mats Hummels dan Benedict Hoewedes ikut naik hingga area pertahanan Italia untuk bisa menekan sayap Italia.

Gol pun lahir melalui skema yang tercipta lewat sayap. Mario Gomez yang jarang mendapatkan suplai bola bermain melebar untuk masuk ke sepertiga akhir Italia, berkombinasi dengan Thomas Mueller. Pergerakan melebar Gomez berhasil memancing dua pemain Italia, di mana kemudian bola disodorkan pada Jonas Hector yang melakukan overlap. Serangan ini diakhiri oleh Hector yang melepaskan umpan cutback pada Mesut Oezil.

Apa yang dilakukan Gomez ini tak dilakukan oleh salah satu penyerang Italia, Eder ataupun Pelle. Eder dan Pelle terus konstan bermain area depan kotak penalti. Keduanya memang lebih diplot sebagai pemantul.

Dengan penuhnya area depan kotak penalti, Italia pun terpaksa menyerang lewat sayap. Skema ini juga yang melahirkan penalti untuk Italia ketika umpan silang Alessandro Florenzi mengenai tangan Jerome Boateng. Hanya saja skema ini bukan skema utama Italia sehingga membuat Italia tak bermain seimpresif laga-laga sebelumnya.

Namun strategi Italia tak bisa dibilang buruk. Selain gol Oezil dan peluang Mario Gomez, lini pertahanan Italia terbukti cukup solid dan hanya kebobolan satu gol. Skor imbang 1-1 pun bahkan harus berakhir hingga 120 menit.

Hanya saja adu penalti bisa jadi memberikan keuntungan bagi Jerman. Di kubu Italia, selain tak ada spesial algojo bola mati, dihuni oleh pemain-pemain yang masih minim pengalaman bermain. Mental tentunya akan berpengaruh pada adu penalti.

Karenanya tak heran para pemain seperti Graziano Pelle, Simone Zaza, Leonardo Bonucci, dan Matteo Darmian gagal menaklukkan Manuel Neuer di babak adu penalti. Keempatnya bukanlah pemain yang terbiasa menendang penalti. Ditambah tekanan yang hebat, fokus mereka bisa terganggu di mana kemudian gagal memberikan gol bagi Italia.

Komentar