Prediksi Chelsea vs Liverpool: Upaya Mengakhiri Horor

Analisis

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Your personal football analyst. Contributor of Pandit Football Indonesia, manager of Box2Box Media Network, podcaster of Footballieur, creative writer of Tirto.ID, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach... Who cares anyway! @dexglenniza

Prediksi Chelsea vs Liverpool: Upaya Mengakhiri Horor

Liverpool akan mengunjungi Stamford Bridge, stadion Chelsea, pada Sabtu akhir pekan ini (31/10/2015). Kedua manajer sama-sama sedang disorot media. Jose Mourinho yang penuh kontroversi sedang pusing-pusingnya karena baru merasakan satu kemenangan dari tujuh pertandingan terakhirnya, termasuk tersingkir oleh Stoke City dari Piala Liga Inggris tengah pekan kemarin. Sementara Juergen Klopp juga masih dianggap belum benar-benar klop untuk The Kop. Kemenangan pertamanya baru ia raih di pertandingan keempatnya bersama Liverpool saat mereka menyingkirkan AFC Bournemouth di Piala Liga.

Malam nanti akan menjadi malam yang pas bagi kedua kesebelasan yang sejauh ini dianggap belum bermain dengan memuaskan. Bertepatan dengan Hari Halloween, baik Chelsea maupun Liverpool pasti ingin mengakhiri horor mereka masing-masing.

Dari kedua kesebelasan, dibanding sang juara bertahan, Liverpool lebih memiliki aura positif sejak datangnya Klopp. Beberapa pertandingan awal yang dinilai buruk saat Brendan Rodgers masih menjabat sebagai manajer seolah terlupakan. Namun, sejujurnya Liverpool di bawah Klopp masih jauh dari kondisi ideal.

Dengan masih cederanya Daniel Sturridge dan Danny Ings, Liverpool masih harus menemukan ketajaman di lini depan mereka yang sayangnya tidak atau belum bisa terjawab oleh Divock Origi yang rasanya sejauh ini kurang efektif.

Di awal era Klopp ini, The Reds jarang sekali mengancam gawang lawan. Gegenpressing yang menjadi andalan Klopp, pada akhirnya hanya mengenai apa yang harus mereka lakukan ketika lawan sedang memegang penguasan bola; yaitu pengorganisasian saat bertahan dan dengan merebut kembali penguasaan bola secepat mungkin dan sedekat mungkin dari gawang lawan.

Grafik ball recovery dari Liverpool saat menghadapi Tottenham Hotspur dan Southampton, menunjukkan efektivitas pressing mereka - sumber: FourFourTwo Stats Zone
Grafik ball recovery dari Liverpool saat menghadapi Tottenham Hotspur dan Southampton, menunjukkan efektivitas pressing mereka - sumber: FourFourTwo Stats Zone

Sebagai teori di atas kertas, ini adalah hal yang baik-baik saja. Begitu juga di atas lapangan, Liverpool mampu menekan lawan mereka dengan maksimal (seperti yang bisa kita lihat dari grafik ball recovery di atas). Tapi masalah yang Liverpool hadapi adalah saat mereka sudah menguasai bola.

Melawan Tottenham Hotspur, Rubin Kazan, dan Southampton, Liverpool lebih banyak menguasai bola tetapi tidak banyak mengancam gawang lawan. Mereka seperti kehilangan ide dalam menyerang.

Percobaan tendangan ke gawang dari Liverpool saat menghadapi Southampton yang sering terbuang percuma - sumber: FourFourTwo Stats Zone
Percobaan tendangan ke gawang dari Liverpool saat menghadapi Southampton yang sering terbuang percuma - sumber: FourFourTwo Stats Zone

Philippe Coutinho sebagai kreator serangan sudah bermain di bawah rata-rata sepanjang musim ini, begitu juga dengan absennya penyerang-penyerang andalan mereka. Beruntung mereka memiliki Christian Benteke yang berhasil memecah kebuntuan, salah satunya saat menghadapi Southampton.

Kabar baiknya untuk Liverpool, Klopp menyatakan bahwa Benteke sudah cukup fit untuk bermain melawan Chelsea. Tapi tetap saja, mereka butuh kreativitas ketika menyerang, apalagi jika menghadapi lawan yang tak panik jika ditekan.

Sedangkan jika kita menyeberang ke kubu tuan rumah, kesebelasan asuhan Mourinho bisa dibilang sedang mengalami krisis yang besar. Mereka terlihat rentan di belakang (lihat grafik operan di defensive third Chelsea di bawah ini) termasuk juga penjaga gawang mereka, tidak meyakinkan di lini tengah (grafik take on), dan tidak konsisten ketika menyerang.

Grafik operan West Ham United di defensive third Chelsea dan take on Chelsea saat menghadapi West Ham yang sering gagal - sumber: FourFourTwo Stats Zone
Grafik operan West Ham United di defensive third Chelsea dan take on Chelsea saat menghadapi West Ham yang sering gagal - sumber: FourFourTwo Stats Zone

Meskipun begitu, kita bisa menyebut dewi fortuna belum berpihak pada Chelsea. Lihat saja Kurt Zouma yang sundulannya hampir melewati sepenuhnya dari garis gawang West Ham United, gol Cesc Fabregas juga yang status offside-nya bisa diperdebatkan, dan belum lagi ditambah klaim penalti yang tidak digubris wasit.

Ini memang tidak ada hubungannya dengan “teori konspirasi” yang “tidak memihak” kepada Chelsea, atau wasit yang dianggap “takut” untuk memberikan keuntungan bagi The Blues. Sejujurnya dari segi kualitas, sikap, dan mental para pemain (dan juga manajer serta staf pelatih) di atas lapangan, itu semua sedang tidak mencerminkan Chelsea sebagai juara bertahan Liga Primer Inggris.

Sama seperti Liverpool, Chelsea juga sedang kehilangan banyak amunisinya, salah satunya adalah Diego Costa yang menderita cedera saat menghadapi Stoke. Kabar baik (atau kabar buruk, jika kita melihat performanya akhir-akhir ini) adalah Branislav Ivanovic yang kembali fit untuk bermain. Ramires yang baru memperpanjang kontrak juga bisa dimainkan dari awal.

“Tahun lalu Anda tahu permainan Chelsea – sangat baik dalam bertahan, tim yang terstruktur, dan juga kualitas ketika menyelesaikan peluang di depan. Situasi bola mati mereka juga sangat berbahaya dengan John Terry dan (Gary) Cahill. Akan sangat sulit menghadapi Chelsea,” kata Klopp sebelum pertandingan ini.

Sejauh ini, Klopp dan Mourinho sudah bertemu empat kali ketika masing-masing dari mereka masih menangani Borussia Dortmund dan Real Madrid. Klopp memenangkan dua di antaranya. The Special One melawan The Normal One, siapa kali ini yang akan unggul?






Kami mau bagi-bagi tshirt nih, caranya gampang kok:1. Like halaman Pandit Football Indonesia lalu share / bagikan...

Posted by Pandit Football Indonesia on Saturday, October 31, 2015



Komentar