Inilah Perhitungan Ranking yang Membuat Timor-Leste Melampaui Indonesia

Analisis

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Your personal football analyst. Contributor of Pandit Football Indonesia, manager of Box2Box Media Network, podcaster of Footballieur, creative writer of Tirto.ID, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach... Who cares anyway! @dexglenniza

Inilah Perhitungan Ranking yang Membuat Timor-Leste Melampaui Indonesia

Setiap bulannya, FIFA selalu merilis ranking tim nasional antara seluruh negara anggotanya yang berjumlah 209 negara. Setelah pada Maret lalu daftar yang memiliki nama resmi The FIFA/Coca-Cola World Ranking ini merilis peringkat FIFA yang sedikit agak asing, FIFA merilis peringkat terbaru pada Kamis (09/04) kemarin.

Pada daftar terbaru (April) yang bisa Anda lihat di situs resmi FIFA ini, Indonesia turun tiga peringkat, dari 156 pada Bulan Maret ke 159 pada Bulan April ini. Dan ini bukan April Mop tentunya, kecuali (bisa jadi April Mop) jika FIFA merilisnya pada tanggal 1 April.

Tim nasional Indonesia sekarang mengumpulkan 131 poin. Jika dilihat dari peringkat Benua Asia (AFC) saja, Indonesia berada di peringkat 30 dari 46 negara anggota AFC. Posisi kita masih jauh di bawah Iran (689 poin), Jepang (617), Korea Selatan (594), dan juara Asia, Australia (549).

Satu hal yang agak mengejutkan, jika kita mengerucutkan lagi ke tingkat Asia Tenggara (AFF), Indonesia berada di peringkat 7 (ingat, Australia sudah masuk ke AFF saat ini), kali ini ada di atas Singapura dan Malaysia, tapi justru berada di bawah Myanmar dan, ini yang paling mengejutkan: Timor-Leste.

Sejak bulan lalu, timnas senior Indonesia dan Timor-Leste sama-sama memainkan dua pertandingan, mengingat FIFA hanya menghitung daftar ranking berdasarkan penampilan timnas senior.

Indonesia kalah 1-0 dari Kamerun dan kemudian menang 2-1 atas Myanmar. Sedangkan Timor-Leste berhasil menang dua kali atas Mongolia, menang 4-1 di Dili, dan menang 1-0 di Ulaan-Baatar.

Kemudian jika kita melihat Myanmar, yang sebenarnya berhasil Indonesia kalahkan, bagaimana bisa-bisanya Myanmar dan juga Timor-Leste berada di atas Indonesia?

Membandingkan poin yang diperoleh Indonesia dengan Timor-Leste

Jika berbicara ranking FIFA, kita akhirnya kembali harus memahami hitung-hitungan dalam ranking FIFA.

Pertama, untuk kasus Myanmar, mereka memang berada di atas Indonesia sebelum rilis ranking FIFA Bulan Maret keluar, yaitu di peringkat 153. Setelah kekalahan atas Indonesia, peringkat mereka merosot ke 158. Selain itu, mereka juga hanya memainkan satu pertandingan saja selama satu bulan terakhir.

Sedangkan Timor-Leste yang sebelumnya berada di peringkat 185, membuat kami harus kembali mengingatkan pentingnya jenis pertandingan yang dimainkan.

Indonesia memainkan dua pertandingan persahabatan. Ketika kalah melawan Kamerun, kita tidak mendapatkan satu pun poin, tapi ketika menang melawan Myanmar, kita baru bisa mendulang poin.

Bedanya, Timor-Leste mengalahkan Mongolia, yang peringkat FIFA-nya memang jauh di bawah mereka (peringkat ke-200), pada pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2018.

Persisnya, apa perbedaan dari dua jenis pertandingan di atas?

Jelas berbeda. Menurut ketentuan perhitungan ranking FIFA yang memiliki rumus hasil pertandingan (M) dikali pentingnya pertandingan (I) dikali kekuatan lawan (T) dan dikali kekuatan konfederasi (C), pertandingan persahabatan hanya memiliki I dengan faktor pengali satu (1), sementara pertandingan kualifikasi Piala Dunia memiliki faktor pengali dua setengah (2,5).

Sebuah kemenangan (menghasilkan poin M sebanyak 3) melawan Mongolia dari konfederasi AFC (C sebanyak 0,85) di peringkat 200 (T sebanyak 50) pada pertandingan kualifikasi Piala Dunia (I sebanyak 2,5), dan kemenangan tersebut diperoleh dua kali, maka akan menghasilkan angka yang signifikan.

Kemudian angka besar tersebut harus juga mempertimbangkan hasil lainnya dalam 48 bulan terakhir, untuk kemudian diambil nilai rata-ratanya. Maka pada akhirnya Timor-Leste berhasil menghasilkan 100 poin, bandingkan dengan Indonesia yang hanya menghasilkan 2 poin.

Baca juga: Dua Kesebelasan yang Berduel dan Mimpi-mimpi yang Baru Dimulai

Perkembangan peringkat FIFA secara umum

Dalam rilis terbarunya, banyak negara yang mengejutkan. Misalnya saja Belgia yang sekarang berada di peringkat 3 dunia. Tanjung Verde (Cape Verde Islands) dan Islandia juga mengejutkan dengan berada di peringkat 37 dan 38.

Beberapa negara kecil (luas negara maupun jumlah penduduknya) yang berada di atas Indonesia antara lain adalah Antigua dan Barbuda (peringkat 106), St. Kitts dan Nevis (111), St. Vincent dan Grenadines (116), Maladewa (141), Curaçao (148), dan tentunya masih banyak lagi.

Hal ini bisa dimaklumi, lagi-lagi karena negara-negara kecil harus melaksanakan pertandingan kualifikasi Piala Dunia (2018) dari tahun ini. Sedangkan Indonesia, yang dinilai sebagai negara berkembang, baru akan mendapatkan jatah pertandingan kualifikasi Piala Dunia pada waktu yang lebih mundur.

Semakin tinggi status sebuah negara, semakin sedikit pula babak-babak dan lawan-lawan yang harus mereka hadapi dalam setiap kualifikasi, baik Piala Dunia maupun kompetisi konfederasi (Piala Asia AFC, Euro, Piala Oseania OFC, dll).

Hal ini lah yang membuat Bhutan, yang sebelumnya berada di peringkat juru kunci (209) bisa naik ke peringkat 163, dekat dengan Indonesia.

Bhutan berhasil menanjak naik setelah mereka dua kali menang melawan Sri Lanka di pertandingan kualifikasi Piala Dunia. Dua kemenangan bersejarah ini sampai membuat timnas Bhutan merayakannya di salah satu restoran cepat saji.

Kemudian, selain ada negara yang paling banyak menanjak (best mover), ada juga negara yang turun peringkat paling banyak (worst mover), yaitu Kaledonia Baru dari Benua Oseania. Mereka turun 23 peringkat, dari 143 ke 174.

Bagaimana agar Indonesia bisa naik dengan cepat?

Inti dari semua ini adalah kembali ke bagaimana kita bisa memanfaatkan, daripada mengutuk kalender jeda internasional dari FIFA. Kita tidak bisa menyalahkan bahwa Indonesia sebagai negara berkembang, maka baru harus memainkan pertandingan kualifikasi pada babak selanjutnya, tidak seperti Timor-Leste atau Bhutan.

Seharusnya kita bersyukur, karena kita bisa terus mengasah kemampuan kita agar kita benar-benar siap ketika pertandingan kualifikasi menanti di depan, dan syukur-syukur jika bisa lolos ke Piala Asia atau Piala Dunia (Aamiiin!).

Bagaimana? Dengan memanfaatkan jeda internasional melalui pertandingan persahabatan dengan sebaik-baiknya.

Melawan Kamerun kemarin adalah sebuah kemajuan besar untuk sepakbola Indonesia. Meskipun pada akhirnya kalah dan tidak berhasil mendapatkan satu pun poin, hal ini harus sering dilakukan.

Tepatnya, kita bisa memilih lawan, untuk status pertandingan persahabatan yang nilainya 1, dengan banyak pertimbangan. Secara berurutan, menurut kami adalah sebagai berikut:

Pilih lawan dari peringkat FIFA yang lebih tinggi dari Indonesia, kalau bisa yang peringkatnya tidak lebih dari 150. Karena semakin tinggi peringkatnya, akan semakin besar pula nilai faktor pengalinya.

Pilih lawan dari Amerika Selatan (CONMEBOL) atau Eropa (UEFA), alih-alih Asia (AFC), Oseania (OFC), ataupun Amerika Utara dan Tengah (CONCACAF). Karena nilai faktor pengali kedua konfederasi tersebut lebih besar, CONMEBOL 1,00 dan UEFA 0,99.

Pastikan bertanding sebaik-baiknya, agar bisa menang dan mendapatkan nilai faktor pengali 3; atau setidaknya imbang (dapat nilai faktor pengali 1).

Jika kalah, tidak akan mendapatkan satu pun poin, anggap saja untuk menambah pengalaman dan evaluasi timnas.


Jika melihat rekomendasi dari kami sambil melihat ranking FIFA, kita bisa mendapatkan lawan-lawan yang potensial. Misalnya Bolivia (peringkat 92) dari CONMEBOL atau Estonia (93), Siprus (94), Lithuania (100), Kepulauan Faroe (102), sampai Kazakhstan (133), Luksembourg (137), dan bahkan Malta (149).

Namun sayangnya, mengajak sebuah negara untuk melakukan pertandingan persahabatan tidak semudah itu. Ongkos, akomodasi, dan banyak hal lainnya harus juga dipertimbangkan.

Satu hal, kita harus mengingat bahwa Indonesia pernah berada di titik terendahnya pada ranking FIFA di peringkat 161 dua tahun yang lalu. Tapi kita juga harus ingat pada tahun 1998, kita pernah sampai ke ranking 87 yang merupakan ranking tertinggi Indonesia.

Meskipun kembali kepada masalah penjadwalan, ditambah jadwal Liga QNB Indonesia yang malah harus terhenti (semoga untuk sementara), semoga BTN dan PSSI bisa memanfaatkan kalender jeda internasional berikutnya dengan sebaik-baiknya, dan tentunya menyiapkan para pemain timnas juga dengan sebaik-baiknya pula.

Sumber gambar: bola.viva.co.id

Komentar