Cara Allegri Kalahkan Taktik Inzaghi

Analisis

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Cara Allegri Kalahkan Taktik Inzaghi

Filippo Inzaghi akhirnya merasakan kekalahan pertamanya bersama AC Milan. Menjamu Juventus di San Siro, AC Milan tumbang lewat gol tunggal yang diciptakan Carlos Tevez pada menit ke-71.

Skuat yang diturunkan Milan dini hari tadi (21/9) tak jauh berbeda dengan komposisi skuat yang berlaga saat mengalahkan Lazio dengan skor 3-1 di laga perdana Serie A. Hanya Alex yang tak ada dalam daftar starting line-up. Pemain asal Brasil ini menderita cedera sehingga posisinya harus digantikan Adil Rami. Ya, Inzaghi kembali memasang trio Stephan El Sharaawy, Jeremy Menez, dan Keisuke Honda pada formasi 4-3-3 andalannya.

Di kubu lawan, Juventus kembali menerapkan pola 3-5-2. Posisi Andrea Barzagli yang tak bisa berlaga karena masih dalam pemulihan, digantikan Martin Caceres. Sedangkan Roberto Pereyra mengisi lini tengah menggantikan Arturo Vidal yang belum fit 100%.

Keberhasilan Juve mengalahkan Milan pada laga ini adalah berkat kejelian sang allenatore, Massimilliano Allegri, dalam mematikan serangan balik yang menjadi andalan AC Milan. Serangan balik AC Milan yang telah menghasilkan delapan gol dalam dua laga itu tak mempan kala menghadapi lini pertahanan Juve.

Allegri yang pernah melatih Milan selama tiga setengah musim  ini menginstruksikan tiga bek tengah Juve untuk terus memberikan tekanan pada trio penyerang Milan yang dihuni Menez-Sharaawy-Honda. Hal ini dilakukan agar tridente Milan tak leluasa ketika menguasai bola. Maka tak heran Giorgio Chiellini, Leonardo Bonucci, dan Martin Caceres (yang kemudian digantikan Angelo Ogbonna) sering naik hingga ke area milik Milan.

Taktik seperti ini sejatinya menyimpan resiko besar. Pasalnya, naiknya pemain belakang akan menciptakan ruang kosong di area pertahanan. Jika pemain lawan berhasil menembusnya, maka pemain tersebut akan dengan mudah berhadapan langsung dengan kiper. Contohnya ketika Chiellini salah mengantisipasi bola yang di arahkan pada Menez. Menez kemudian mampu menggiring bola hingga ke kotak penalti pertahanan Juve. Untungnya tendangan Menez masih bisa digagalkan Gianluigi Buffon.

Juve pun kemudian menguasai jalannya pertandingan. Milan yang tak melakukan pressing ketika mendapat serangan dimanfaatkan oleh para pemain Juve untuk memainkan bola di area milik Milan.

Meskipun begitu, pertahanan Milan ini terbilang solid. Milan tercatat melakukan 36 intersep dan 21 clearance. Juve tetap kesulitan untuk masuk ke area final third milik Milan. Hampir serangan berbahay Juve hanya dihasilkan lewat tendangan dari luar kotak penalti.

Juve sendiri memprioritaskan serangan lewat tengah. Caludio Marchisio yang menggantikan peran Pirlo sebagai playmaker lebih sering berusaha mengeksploitasi lini tengah Milan. Jika berhasil dipatahkan, para pemain tengah Juve pun harus berani mengeluarkan aksi individunya untuk melewati pemain lawan yang menghadangnya.

Skema umpan silang jarang diperagakan pada laga ini. Lichtsteiner dan Asamoah yang biasanya rajin memanjakan Llorente lebih bermain aman di sisi sayap. Keduanya lebih difungsikan sebagai pemain yang menghadang laju duo fullback  Milan, Abate dan De Sciglio, yang rajin membantu serangan.

Maka dari itu, Licht dan Asamoah hanya sesekali melakukan manuver-manuver ke kotak penalti atau mengirimkan umpan silang. Keduanya lebih sering mengembalikan bola ke tengah di mana sebagai pusat serangan Juve.

Serangan tengah baru memetik hasilnya pada menit ke-71. Carlos Tevez mencetak setelah melakukan umpan satu-dua dengan Pogba. Tevez terlebih dulu mundur hingga ke luar kotak penalti, lalu memberikan umpan pada Pogba. Lalu dengan cantik Pogba mengirimkan umpan terobosan pada Tevez yang dalam hitungan detik sudah berada di kotak penalti. Tevez yang memiliki peluang terbuka pun tak menyia-nyiakan peluang ini, tendangannya tak mampu dibendung kiper Milan, Christian Abbiati.

Setelah tertinggal, Milan sempat mengubah formasinya menjadi 4-2-3-1 dengan memasukkan Giacomo Bonaventura dan Fernando Torres yang menggantikan El Sharaawy dan Andrea Poli. Masih tak efektif, formasi kembali berubah dengan masuknya Giampaolo Pazzini yang menggantikan Honda pada menit ke-83.

Namun Juve yang meresponnya dengan memasukkan Arturo Vidal dan Romulo untuk menggantikan Pereyra dan Lichtsteiner, mampu mempertahankan keunggulan. Skor 1-0 pun berhasil diamankan sang tamu.

Kemenangan ini membuktikan bahwa Allegri mampu menjadi penerus Antonio Conte. Karena selain berarti tiga poin, kemenangan ini pun merupakan kemenangan keempat Juve yang diraih dengan tanpa sekalipun kebobolan.

Itu artinya, Allegri telah membuktikan bahwa dirinya bukan pelatih sembarangan. Karena ia bisa mengalahkan Milan yang tengah on-fire dengan menggunakan strategi yang tepat, dengan mematikan serangan balik. Milan pun tak berkutik sepanjang pertandingan.

Analisa lengkapnya cek di sini

Komentar