Siapa Lebih Hebat, Bailly atau Stones?

Taktik

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Siapa Lebih Hebat, Bailly atau Stones?

Duel derby Manchester kali ini memiliki banyak titel, yang terbesar memang masih perseteruan antara Jose Mourinho dan Pep Guardiola. Namun, kita juga tidak bisa melupakan dua nama pemain belakang ini yang sama-sama baru didatangkan di bursa transfer musim panas ini oleh kedua manajer, Eric Bertrand Bailly di kubu merah dan John Stones di kubu biru.

Baik Mourinho maupun Guardiola sama-sama hanya mendatangkan satu bek tengah baru yang keduanya masih berusia 22 tahun. Keduanya juga didatangkan dengan harga yang cenderung mahal.

Bailly yang sudah bermain 16 kali di tim nasional Pantai Gading didatangkan dengan harga 30 juta paun dari Villarreal. Harga ini merupakan harga yang dinilai overpriced oleh CIES Football Observatory dari Swiss.

Tapi harga ini sebenarnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan Stones yang didatangkan dengan harga 47,5 juta paun dari Everton, yang merupakan harga tertinggi untuk bek tengah. Tidak mengherankan juga, harga Stones tersebut masuk ke dalam kategori overpriced oleh CIES, sama seperti Bailly.

Sebagai bek tengah berharga mahal di dua kesebelasan besar Inggris (dan juga dunia), semua orang pastinya terus mengawal perkembangan penampilan keduanya. Tak jarang juga yang menunggu salah satu, atau keduanya, untuk melakukan kesalahan dan menghakimi mereka dengan kejamnya di era media sosial yang canggih ini.

Namun, melihat penampilan keduanya sejauh ini, sebenarnya mereka sudah menampilkan performa yang menggembirakan. Keduanya sama-sama telah memainkan empat pertandingan, yang mana tiga adalah pertandingan Liga Primer Inggris dan satu lagi adalah Community Shield untuk Bailly serta play-off Liga Champions UEFA untuk Stones.

Duel keduanya sangat dinantikan akhir pekan ini, meskipun tidak seramai Mourinho (dan Zlatan Ibrahimovic) vs Guardiola. Tapi kita sudah penasaran, siapa yang lebih baik di antara keduanya?

Awal yang baik untuk Bailly dan Stones

Saat pertama kali Bailly datang ke Manchester United, kita tidak banyak tahu mengenai dirinya. Tidak seperti Stones yang memang sudah lama diincar banyak kesebelasan besar Liga Primer.

Hanya saja di pertandingan Community Shield menghadapi Leicester City, Bailly berkali-kali mampu meredam kecepatan dan eksplosivitas Jamie Vardy. Ia mampu tampil sangat tenang di lini belakang dan pada akhirnya mendapatkan gelar man of the match pada pertandingan yang dimenangkan oleh United dengan skor 2-1 tersebut.

Vardy memang berhasil mencetak gol, tapi gol tersebut hadir lebih karena hasil blunder operan yang salah dari Marouane Fellaini alih-alih ketidakmampuan Bailly dalam bertahan.

Pemain asal Pantai Gading ini kemudian melanjutkan permainan impresifnya di pertandingan Liga Primer menghadapi AFC Bournemouth, Southampton, dan Hull City. Ia pun kembali mendapatkan gelar man of the match. Harga berbicara.

Di sisi Manchester yang lain, Stones melakukan debutnya di Liga Primer saat City berjumpa Sunderland, mengingat kesepakatan transfernya memang baru terjadi jauh setelah Bailly mendarat di Carrington. Namun, meskipun ia baru datang, Stones langsung menjadi pemain inti dan posisinya seperti terjamin secara tidak langsung di skuat Guardiola.

Selanjutnya, bek yang sudah 11 kali tampil bersama timnas senior Inggris ini bermain pada pertandingan melawan Stoke City dan West Ham United di Liga Primer, serta Steaua București di play-off Liga Champions di mana sebenarnya ia tidak terlihat terlalu kesulitan (City menang 5-0).

Membandingkan kualitas keduanya dalam bertahan

Melihat empat lawan di awal musim ini, terlalu cepat untuk menilai Bailly maupun Stones. Tapi sejauh ini Bailly sudah lebih baik secara defensif, di mana di situlah fungsi utama seorang bek, yaitu untuk membantu pertahanan timnya.

Perbandingan statistik Eric Bertrand Bailly dan John Stones musim ini dan musim lalu dalam hal aksi defensif (sumber statistik: Squawka)

Bailly lebih banyak melakukan tekel sukses dan sapuan, positifnya adalah Bailly sudah berkontribusi secara defensif, dan Mourinho pasti sangat menyukainya. Tapi negatifnya, ini menandakan bahwa United lebih banyak diserang dibandingkan City.

Sementara angka intersep yang lebih tinggi dari Bailly juga menunjukkan bahwa kecerdasannya dalam menempatkan posisi sehingga Bailly mampu 9 kali memotong aliran operan lawan, sementara Stones hanya 4 kali.

Namun, jika kita melihat musim lalu ketika Bailly masih membela Villarreal dan Stones masih membela Everton, angka aksi defensif Stones terlihat lebih impresif. Ini bisa dimengerti karena Stones lebih banyak bermain, dari jumlah pertandingan maupun dari jumlah menit.

Karena jika dirata-rata per pertandingan atau per 90 menit, Bailly tetap lebih unggul dari Stones kecuali pada angka blok dan menang duel udara (meskipun Bailly 1 cm lebih pendek daripada Stones yang memiliki tinggi badan 188 cm).

Membandingkan kualitas keduanya dalam membangun serangan

Sebenarnya Stones tidak seburuk itu juga dalam hal bertahan. Lagipula tabel di atas hanya angka-angka statistik. Tapi jika kita sudah membicarakan kemampuan dalam mengolah bola, yang mana adalah hal yang sangat penting bagi Guardiola, maka Stones lebih unggul daripada Bailly.

Perbandingan statistik Eric Bertrand Bailly dan John Stones musim ini dan musim lalu dalam hal aksi membantu penyerangan tim (sumber statistik: Squawka)

Stones sudah terkenal sebagai salah satu ball-playing defender di Liga Primer dan yang terbaik di timnas Inggris saat ini. Tidak heran, saat ia mengawali karier di Barnsley (dan sempat juga di Everton), ia juga bisa bermain sebagai bek kanan.

Jumlah operan Stones musim ini maupun musim lalu sangat jauh lebih unggul daripada Bailly, bahkan jika dirata-rata per pertandingan atau per 90 menit sekalipun. Angka akurasi operan musim ini dari Bailly memang lebih unggul, tapi kembali, jika kita melihat angka total operan, angka akurasi Bailly jadi tidak ada artinya.

Tidak heran ia langsung nyetel dengan permainan Guardiola yang mementingkan membangun serangan dari belakang. Tidak dimungkiri, kehadiran Stones sangat krusial bagi cara bermain Manchester City.

Yang perlu dicatat, terutama bagi para manajer FPL, adalah baik Bailly maupun Stones sama-sama minim berkontribusi dalam gol atau asis. Jadi untuk FPL, sebaiknya Anda tidak memilih Bailly atau Stones kecuali Anda hanya mengharapkan poin dari clean sheet (padahal belum pasti juga).

Siapa yang lebih baik?

Melihat dua perbandingan di atas, kita tahu bahwa Bailly dan Stones tidak bisa dibandingkan apple to apple. Meskipun sama-sama bermain sebagai bek tengah, dan sama-sama berharga mahal, keduanya adalah tipe bek tengah yang berbeda.

Jika sudah seperti ini, kita harus melihat rekan keduanya di kesebelasannya masing-masing. Sejauh ini Bailly selalu berduet dengan Daley Blind, yang bisa dibilang lebih bertipikal ball-playing. Sementara Stones berduet dengan Nicolas Otamendi, yang lebih bertipikal defensif (meskipun kami berpendapat nantinya rekan ideal Stones adalah Vincent Kompany).

Sesungguhnya jika diduetkan, duet Bailly dan Stones adalah duet bek yang berpotensi menjadi duet bek terbaik di Liga Primer. Sama-sama saling bisa diandalkan dalam keahlian mereka masing-masing.

Sementara jika kita membicarakan sistem permainan, Stones lebih krusial untuk City di saat yang sama Bailly juga krusial untuk United. Stones adalah bek yang lebih teknis, dan Bailly adalah bek yang lebih direct.

Keduanya adalah bek tengah muda yang potensial. Namun jika kita ingin “memukul rata” keduanya, bisa dibilang sejauh ini Eric Bertrand Bailly lebih unggul: ia kuat, cepat, cerdas dalam penempatan posisi, dan percaya diri ketika menguasai bola. Siapa yang menjadi pemenang di derby Manchester nanti tidak akan menjadi justifikasi, tapi hanya akan menjadi “bumbu”.

Komentar