Menerka Starter dan Strategi Indonesia Asuhan Alfred Riedl

Taktik

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Menerka Starter dan Strategi Indonesia Asuhan Alfred Riedl

Alfred Riedl telah mengumumkan 23 pemain yang akan berlaga pada Piala AFF 2014 beberapa waktu lalu. Komposisi yang disertakan pelatih berkebangsaan Austria ini adalah 4 pemain depan, 8 pemain tengah, 8 pemain belakang, dan tiga kiper.

Dari 23 nama tersebut, terdapat beberapa nama kejutan yang dipanggil Riedl. Nama-nama seperti Rizky Ripora, Fachruddin, Manahati Lestusen, dan tentu saja kapten timnas U-19, Evan Dimas, menarik kita tunggu kontribusinya pada timnas senior.

Ahmad Bustomi, Tony Sucipto, Irfan Bachdim, dan Hamka Hamzah yang sebelumnya memperkuat timnas pada Piala AFF 2010 asuhan Riedl, dicoret dari skuat. Irfan dan Hamka terdepak karena mengalami cedera, sedangkan Bustomi dan Toncip tak diikutsertakan karena kalah saing dengan pemain lain.

Maka dari itu, dengan skuat pilihan Riedl kali ini, akan seperti apa komposisi starting line up Indonesia pada Piala AFF 2014 nanti? Berikut akan kami ulas lini per lini.

Dengan status Dian Agus Prasetyo sebagi kiper tambahan, posisi penjaga gawang Indonesia nantinya akan diperebutkan oleh Kurnia Meiga dan I Made Wirawan. Dua pemain yang tentunya layak bermain sebagai pengawal mistar gawang Garuda Jaya.

Kualitas keduanya memang merupakan yang terbaik di Indonesia. Di Liga Super Indonesia, kemampuan keduanya tak jauh berbeda dengan kiper asing, Denis Romanovs, yang sepanjang musim bermain cemerlang bersama Pelita Bandung Raya.

Meskipun begitu, tampaknya kiper Arema Cronus, Kurnia Meiga, akan menjadi pilihan utama timnas Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari dua pertandingan uji coba terakhir Indonesia di mana Riedl selalu memainkan Meiga selama 90 menit.

Riedl bukan tanpa alasan lebih memilih Meiga ketimbang I Made yang berhasil membawa Persib juara ISL 2014. Performa Meiga menjaga gawang Arema pada musim ini, membuat kiper berusia 24 tahun ini lebih baik dari I Made.

Dari 23 penampilan, Meiga hanya kebobolan 17 gol. Sementara I Made, bermain sebanyak 27 kali, kebobolan 30 gol. Jika dipersentase kan, dalam satu pertandingan, Meiga memiliki kemungkinan kebebolan 0,74 gol per laga. Sementara I Made, 1,11 gol per laga. Dari data inilah mengapa Meiga lebih baik.

Bergeser pada posisi bek, Indonesia nantinya akan menggunakan skema empat bek. Ini artinya, Riedl harus memilih empat pemain di antara Rizki Pora, Fachruddin, M. Roby, Achmad Jufrianto, Supardi Nasir, Zulkifli Syukur, Victor Igbonefo, dan Manahati Lestusen.

Untuk posisi bek tengah, Victor Igbonefo mungkin akan menjadi pilihan utama. Pemain naturalisasi asal Nigeria ini bisa menjadi tembok kokoh di lini pertahanan Indonesia. Lini pertahanan Arema yang musim ini menjadi lini pertahanan terbaik dengan menjadi tim yang paling sedikit kebobolan, tentu saja tak lepas dari peran Igbonefo dalam mengawal lini pertahanan Arema.

Igbonefo nantinya akan berpartner dengan salah satu dari M. Roby atau Achmad Jufrianto pada starting line-up. Jufrianto atau yang akrab disapa dengan Jupe, sepertinya akan lebih dipilih Riedl untuk ditandemkan bersama Igbonefo. Penampilan cemerlangnya sepanjang musim 2014 bersama Persib Bandung sangat konsisten. Bahkan penampilannya lebih baik dibanding partnernya di Persib, Vladimir Vujovic, legiun asing asal Montenegro.

Jika Igbonefo bisa memberikan keamanan lini pertahanan dengan kekuatan fisik dan kecepatannya, Jupe akan mengamankan gawang Indonesia dengan kedisiplinannya menjaga area pertahanan. Jupe pun bisa mengimbangi Igbonefo perihal duel-duel udara.

Posisi bek sayap kanan sepertinya akan menjadi milik bek sayap Mitra Kukar, Zulkifli Syukur. Apalagi jika melihat apa yang terjadi beberapa hari menjelang pengumuman skuat resmi Indonesia, bek kanan Persib, Supardi, sempat mengalami masalah pada betisnya.

Zulkifli yang berstatus sebagai wakil kapten timnas pun menjadikan pemain berusia 30 tahun ini akan menjadi pilihan utama Riedl. Karena kapten utama timnas, Firman Utina, tampaknya akan kehilangan tempat utama pada posisi gelandang serang.

Di sisi sebelah kiri Indonesia akan ditempati oleh bek kiri Barito Putra, Rizky Ripora. Kelebihan pemain berusia 24 tahun ini adalah kemampuannya dalam penetrasi ke lini pertahanan lawan. Ini tentunya akan membuat lini sayap kanan-kiri Indonesia seimbang karena Zulkifli di sisi kanan pun akan sangat aktif membantu lini penyerangan.

Berbeda jika Lestusen yang memang dipersiapkan untuk menempati pos ini, lebih dipilih ketimbang Ripora. Lestusen yang berposisi asli sebagai gelandang bertahan tak memiliki kemampuan menyerang seperti yang dimiliki Ripora. Namun pemain Persebaya Surabaya ini memiliki keunggulan dalam memarking lawan dan covering area. Tak heran Lestusen sering ditempatkan sebagai bek tengah.

Pada dua gelandang tengah Indonesia, pilihan tampaknya akan jatuh pada duet Immanuel Wanggai dan Hariono. Wanggai dengan visi bermain dan kecepatan di milikinya, bisa mengimbangi Hariono yang secara reguler akan menjaga pintu masuk ke lini pertahanan Indonesia.

Pemilihan Wanggai yang mengakibatkan dicoretnya Ahmad Bustomi pun tak lepas dari keputusan Riedl yang nantinya akan menempatkan Boas Salossa sebagai pemain no.10, di belakang Sergio Van Dijk. Maka selain menjaga area pertahanan, Wanggai pun akan menjadi penyambung antara lini tengah ke depan.

Berbeda jika Hariono diduetkan dengan Ahmad Bustomi, lini tengah Indonesia kemungkinan akan kalah kelas jika menghadapi tim yang mengandalkan fisik. Stamina Bustomi memang terus menurun setelah gelandang Arema Cronus ini mendapatkan serangkaian cedera. Karena itulah Bustomi tak dimasukkan ke dalam skuat oleh Riedl.

Penempatan Boas sebagai gelandang serang pun telah menjadi strategi yang disiapkan oleh Riedl. Dengan Van Dijk sebagai tembok dan pemantul di lini depan, Boaz, bersama duo sayap M. Ridwan dan Zulham Zahmrun, akan dimanfaatkan kecepatannya untuk mengobrak abrik pertahanan lawan.  Hal yang tentunya tak bisa dilakukan oleh Firman Utina atau pun Evan Dimas yang juga mengincar posisi Boas ini.

Riedl memang akan kembali menggunakan skema 4-2-3-1 seperti yang ia lakukan ketika membawa timnas Indonesia ke babak final Piala AFF 2010. Permainan skuat asuhan Riedl cenderung memanfaatkan bola-bola langsung ke jantung pertahanan lawan lewat umpan lambung. Maka dari itulah ia membutuhkan pemain-pemain berkaki cepat seperti Boaz, Zulham, dan M. Ridwan yang diharapkan akan muncul dari second line, memanfaatkan pantulan dari Van Dijk atau pun Christian Gonzales.

Jika skema ini tak berhasil, Supardi dan Firman Utina bisa juga menjadi alternatif serangan bagi Indonesia. Bersama M. Ridwan, umpan segitiga ketiganya di sisi sebelah kanan telah mengantarkan Persib Bandung menjuarai liga Indonesia yang paceklik gelar selama 19 tahun. Tak heran memang, karena chemistry ketiganya sudah terjalin sejak membela Sriwijaya FC pada tahun 2010.

Evan Dimas pun bisa menjadi senjata rahasia lain Riedl pada lini penyerangan. Namun untuk memasang Evan Dimas, ia harus ditemani oleh dua gelandang lain yang memiliki kemampuan membagi bola untuk mengimbangi kelebihan Evan Dimas dalam memainkan umpan-umpan pendek cepat.

Hariono yang lebih fokus menjaga area pertahanan jelas bukan partner yang tepat bagi Evan Dimas. Pun begitu dengan Immanuel Wanggai yang lebih sering melepaskan umpan direct ke sisi sayap. Karena itu, hanya Raphael Maitimo yang bisa menjadi tandem ideal bagi Evan Dimas.

Dengan berbagai alternatif strategi yang dimiliki skuat Riedl ini, sangat menarik untuk kita nantikan bagaimana kiprah timnas Indonesia pada Piala AFF 2014 ini. Apakah Riedl bisa mengakhiri paceklik gelar timnas Indonesia? Semoga prestasi terbaik bisa dipersembahkan Riedl beserta anak asuhnya.

Komentar