Romansa Kroasia di Piala Dunia

Cerita

by Evans Edgar Simon

Evans Edgar Simon

Kontributor PanditFootball.com

Romansa Kroasia di Piala Dunia

Kroasia memiliki romansanya sendiri dengan Piala Dunia. Khususnya Piala Dunia 1998. Turnamen yang digelar di Perancis itu dikenal sebagai tempat lahirnya Kroasia di atas lapangan hijau.

Piala Dunia 1998 bukan turnamen internasional pertama yang diikuti Kroasia pasca memisahkan diri dari Yugoslavia pada 1992. Kroasia berpartisipasi di Piala Eropa 1996 dan berhasil melaju sampai perempat final. Langkah mereka dihentikan Jerman, yang pada akhirnya menjadi kampiun. Bagaimanapun, Piala Dunia 1998 tetap menjadi turnamen yang sangat berkesan bagi Kroasia.

Wajah Kroasia di Perancis bukan sekadar seragam biru plus kotak-kotak berwarna berwarna merah dan putih yang mencolok mata. Wajah mereka adalah permainan menyerang dengan formasi 3-5-2 andalan kepala pelatih Miroslav Blazevic. Padahal, formasi tiga pemain belakang sudah dianggap usang dan ditinggalkan oleh banyak tim kala itu. Kebanyakan menggandrungi formasi dengan empat bek. Tuan rumah Perancis sendiri mengakhiri turnamen sebagai juara berkat formasi 4-3-2-1 (atau 4-3-1-2).

Kenekatan Blazevic menerapkan formasi 3-5-2 bukannya tanpa alasan. Ia memang mengenal formasi tersebut dengan sangat baik (telah digunakan sejak Kualifikasi Piala Eropa 1996). Bahkan, salah satu mantan bek yang juga pernah menjadi pelatih Kroasia, Slaven Bilic, mengklaim bahwa Blazevic-lah yang menciptakan formasi 3-5-2 pada era 1980-an.

Tentu saja, formasi tidak akan berjalan baik jika tidak memiliki pemain-pemain yang juga mendukung. Kebetulan, seluruh pemain inti Kroasia punya gaya bermain yang cocok dengan formasi 3-5-2.

Di lini belakang, Blazevic menurunkan trio Bilic-Igor Stimac-Dario Simic (atau Zvonimir Soldo). Mereka sama-sama nyaman dalam mengontrol dan mengalirkan bola.

Posisi (bek) sayap diisi oleh Robert Jarni di kiri dan Mario Stanic di kanan. Kedua pemain ini sama baiknya dalam bertahan maupun menyerang.

Kehadiran pemain-pemain yang telah disebut di atas sangat membantu kestabilan lini tengah Kroasia, yang diisi oleh trio Zvonimir Boban-Robert Prosinecki-Aljosa Asanovic. Memainkan trio gelandang ini di saat bersamaan, menurut jurnalis sekaligus penulis buku Inverting The Pyramid Jonathan Wilson, adalah hal “melawan logika” karena mereka semua bernaluri gelandang serang kreatif.

Salah satu bukti efektivitas strategi dan pilihan pemain Blazevic terpapar jelas dalam laga perempat final melawan Jerman. Meski Prosinecki absen, lini tengah Kroasia tetap kokoh berkat kehadiran Soldo yang dipasang sebagai gelandang tengah.

Di pengujung laga, papan skor menunjukkan angka 3-0 untuk kemenangan Kroasia. Mereka sukses membalaskan dendam di Piala Eropa dua tahun sebelumnya dan melangkah ke semi final dalam partisipasi pertama di Piala Dunia.

“Saya meyakinkan para pemain saya bahwa mereka adalah yang terbaik di dunia dan mereka menerimanya. Kami sangat percaya diri. Kami menghancurkan mesin bernama Jerman dan menunjukkan cara Kroasia bermain sepakbola,” kata Blazevic sebagaimana dikutip dari These Football Times.

Pencetak gol terakhir Kroasia dalam laga kontra Jerman adalah Davor Suker. Itu merupakan gol keempat yang dicetaknya dalam lima pertandingan. Gol tersebut membuatnya berada dalam sorotan.

Penyerang yang berhasil mengantar Real Madrid menjuarai La Liga pada 1997 dan Liga Champions pada 1998 tersebut memang “hanya” mencetak satu gol ke gawang Jerman. Namun golnya memastikan sang lawan menelan kekalahan terbesar di Piala Dunia dalam 40 tahun terakhir.

Suker kembali menjadi ujung tombak andalan dalam laga semi final menghadapi Perancis. Ia bahkan sukses membuka keunggulan bagi Kroasia pada menit ke-46. Nahas, takdir lebih berpihak kepada tuan rumah yang kemudian berhasil membalikkan situasi berkat brace Lilian Thuram.

Kroasia pun gugur namun tetap pulang membawa medali perunggu. Dalam laga perebutan peringkat ketiga melawan Belanda, mereka menang 2-1. Suker (lagi-lagi) mencatatkan namanya di papan skor. Ia total mencetak enam gol sepanjang turnamen, menjadikannya pencetak gol terbanyak kejuaraan.

Permainan oportunis, inovatif, sekaligus mematikan membuat Kroasia diagung-agungkan oleh para suporter. Mereka disambut layaknya pahlawan ketika pulang ke kampung halaman, karena berhasil membuat nama Kroasia terdengar ke seluruh penjuru dunia.

“Saya memiliki banyak pemain hebat yang dipenuhi semangat patriotisme. Mereka pemain yang siap melakukan hal-hal besar untuk negaranya. Salah satu kelebihan terbesar Kroasia dalam olahraga adalah patriotisme," ucap Blazevic.

Kata-kata Blazevic seperti meludahi retorika tentang olahraga dan politik yang (katanya) tidak boleh bersatu. Salah atau benar, tergantung sudut pandang. Yang pasti: Blazevic, para pemain, dan seluruh warga Kroasia memang membawa propaganda nasionalisme ketika itu.

***

Dari total 22 pemain yang dibawa oleh Blazevic ke Perancis, terdapat satu nama yang terkait langsung dengan politik, nasionalisme, dan sepakbola: Zvonimir Boban.

Bagi fans sepakbola pada umumnya, sosok kelahiran 8 Oktober 1968 itu merupakan gelandang elegan yang mampu menciptakan gerakan dan operan kreatif. Namun, bagi warga Kroasia, Boban lebih dari sekadar pesepakbola. Ia adalah pahlawan negara.

Status tersebut diraihnya berkat sebuah tendangan di lapangan Stadion Maksimir, Zagreb, pada 13 Mei 1990.

Laga lanjutan Liga Yugoslavia antara tuan rumah Dinamo Zagreb dengan Red Star Beograd itu harus berhenti di tengah jalan karena kerusuhan antar suporter. Situasi ini memang sudah bisa diprediksi sebelumnya karena tensi politik dan ketegangan antar etnis Serbia dan Kroasia tengah meningkat. Terlebih lagi, kedua tim sama-sama memiliki kelompok suporter garis keras beraliran ultra-nasionalis.

Baca juga: Musuh Serbia adalah Diri Sendiri

“Para hooligans dari Beograd menghancurkan stadion kami. Para polisi ketika itu, yang merupakan polisi milik rezim (pemerintahan), tidak merespons sama sekali,” tutur Boban dalam sebuah dokumenter berjudul The Last Yugoslav Football Team.

Melihat salah satu suporter Dinamo dipukuli polisi, sang kapten bertindak. Ia melompat dan menendang polisi menggunakan kaki kanannya sebagai bentuk perlawanan terhadap Serbia sekaligus pembelaan terhadap Kroasia.

Laga Dinamo vs Red Star itu kemudian diklaim banyak pihak sebagai awal dari Perang Kemerdekaan Kroasia yang berlangsung dari tahun 1991 hingga 1995. New York Times menuliskan sekitar 20 ribu warga Kroasia meregang nyawa akibat perang—dua di antaranya adalah teman dekat Aljosa Asanovic.

Sesudah perang berakhir, Kroasia berusaha memperkenalkan diri kepada dunia melalui olahraga. Tim Nasional Bola Tangan Kroasia meraih medali emas di Olimpiade Atalanta 1996 dan petenis Iva Majoli merengkuh titel juara Perancis Terbuka pada 1997. Sepakbola tak ingin ketinggalan bersumbangsih.

“Kami baru keluar dari masa perang dan kami seperti tentara di atas lapangan, membuat negara kami dikenal dunia,” kenang Slaven Bilic ketika membela Kroasia di Piala Eropa 1996.

Oleh sebab itu, tak salah jika keberhasilan Kroasia menduduki peringkat ketiga di Piala Dunia 1998 merupakan hal yang amat berharga. “Negara kami berhasil meraih hasil yang sangat besar. (Kami adalah) sebuah negara kecil, (dengan) pemain-pemain besar," tutur Asanovic.

Peraih Sepatu Emas Piala Dunia 1998, Davor Suker, menyatakan bahwa sepakbola bukanlah alat politik, tetapi ia paham kekuatan yang dimiliki sepak bola. “Sebelum Piala Dunia 1998, Kroasia hanya dikenal oleh 4% penduduk dunia. Setelah itu, 45%. Luar biasa,” ucap dirinya.

Apakah pernyataan Suker benar? Belum tentu. Tetapi, patut dicatat bahwa ketika Kroasia baru diakui sebagai sebuah negara oleh FIFA pada 1992, mereka menempati peringkat ke-125 dunia. Setelah Perancis 1998, Vatreni menempati peringkat ketiga.

Perlu diakui juga bahwa nasionalismelah yang pada akhirnya membuat para pemain Kroasia melangkah dengan lebih mantap di atas lapangan hijau. Igor Stimac (bersama Suker, Boban, Robert Prosinecki, dan Robert Jarni) pernah menjadi juara Piala Dunia U-20 ketika bermain di bawah nama Yugoslavia pada 1987. Namun, “itu hanyalah olahraga, tidak lebih. Sekarang, perasaannya tidak bisa dibandingkan dengan hal apapun di dunia”.

***

Dua dekade berlalu, semangat yang diusung Kroasia ke lapangan hijau tentu berbeda. Alih-alih melangkah dalam kerangka pemikiran nasionalisme, mereka kini bisa lebih fokus dengan urusan-urusan sepakbola seperti talenta dan komposisi pemain.

Lihatlah isi skuat asuhan Kepala Pelatih Zlatko Dalic: Luka Modric, Ivan Rakitic, dan Mario Mandzukic merupakan figur penting di kesebelasan-kesebelasan ternama Eropa (masing-masing membela Real Madrid, Barcelona, dan Juventus). Mereka, bersama Vedran Corluka, telah malang-melintang di skuat Kroasia sejak Piala Eropa 2008.

Kombinasi pengalaman dan kedewasaan para pemain senior dengan pemain-pemain muda berbakat seperti Andrej Kramaric, Marko Pjaca, and Marko Rog sewajarnya menjadikan Kroasia sebagai tim yang tidak boleh dipandang sebelah mata di Rusia nanti.

Jika ada hal yang bisa menjadi batu sandungan, maka itu adalah romantika Kroasia dengan Piala Dunia sendiri. Meski tetap merupakan negara pecahan Yugoslavia dengan prestasi terbaik di bidang sepakbola, mereka tidak pernah menyamai tingkat keberhasilan seperti Perancis 1998 hingga detik ini. Bahkan, mereka tersingkir di babak penyisihan grup dalam tiga edisi Piala Dunia terakhir.

Komentar