Gremio dan Tradisi Juara Kesebelasan Brasil di Piala Dunia Antarklub 2017

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball

Gremio dan Tradisi Juara Kesebelasan Brasil di Piala Dunia Antarklub 2017

Gremio menuntaskan penantian panjang untuk kembali meraih gelar juara di ajang Copa Libertadores. Klub berjuluk Immortal Tricolor itu memastikan gelar juara Copa Libertadores musim 2016/2017 setelah mengalahkan Lanus di partai puncak.

Bagi Gremio gelar di ajang tersebut menjadi yang ketiga dalam sejarah perjalanan klub, namun kali terakhir mereka menjadi jawara di kompetisi Antarklub Amerika Selatan itu adalah tahun 1995. Artinya Gremio harus menunggu selama 22 tahun lamanya untuk kembali mengangkat trofi Copa Libertadores.

Keberhasilan Gremio meraih gelar juara di Copa Libertadores musim lalu turut mengantar mereka tampil di Piala Dunia Antarklub 2017 untuk kali pertama. Berstatus sebagai juara Copa Libertadores, membuat Gremio mendapat privilege memulai turnamen dari babak semifinal. Keuntungan tersebut juga didapatkan Real Madrid yang menjadi kontestan lain di Piala Dunia Antarklub 2017 sebagai juara Liga Champions Eropa musim lalu.

Pada babak semifinal Gremio ditantang Juara Liga Champions Concacaf, Pachuca, di Zayed Sports City Stadium, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA) pada 13 Desember lalu, mereka berhasil menang dengan skor 1-0. Kemenangan tersebut membuat Luan Vieira dan kolega melangkah mulus ke babak final.

Tantangan yang jauh lebih berat didapat pada laga puncak, Immortal Tricolor harus berhadapan melawan Real Madrid yang pada pertandingan semifinal lainnya mengalahkan tuan rumah Al Jazira FC dengan skor tipis 2-1.

Di atas kertas, Gremio tak terlalu diunggulkan meraih kemenangan atas Real Madrid dalam perebutan gelar juara Piala Dunia Antarklub 2017. Faktor dominan yang membuat Gremio tak terlalu diunggulkan dalam pertandingan final menghadapi Madrid di Zayed Sports City Stadium, Minggu (17/12) dini hari WIB terletak pada ketimpangan komposisi pemain yang dimiliki kedua kesebelasan.

Madrid memiliki komposisi pemain bertabur bintang, nama-nama seperti Cristiano Ronaldo, Gareth Bale, hingga Sergio Ramos adalah pilar penting klub berjulukan Los Blancos itu. Sementara Gremio, sebenarnya memiliki pemain-pemain bertalenta seperti Arthur Melo hingga Luan Vieira. Tapi klub yang berdiri pada 1903 itu harus tampil tanpa sejumlah pilar utama karena badai cedera, termasuk Arthur Melo.

Satu hal lain yang bisa membuat Gremio silau adalah prestasi yang yang diukir Madrid di kancah sepakbola Eropa pada tahun ini. Selain Liga Champions, Los Blancos telah memenangkan gelar La Liga Spanyol, Piala Super Eropa, dan Piala Super Spanyol. Meski gelar Piala Dunia Antarklub prestise-nya masih kalah dari Liga Champions atau La Liga, Madrid enggan begitu saja melepas peluang menambah deretan trofi di lemari prestasi mereka.

Bila mampu menjuarai Piala Dunia Antarklub 2017, Madrid bukan hanya menjadi kesebelasan pertama yang meraih gelar juara dalam dua penyelenggaraan beruntun, selain itu Los Blancos pun akan mendeklarasikan diri sebagai kesebelasan pertama yang meraih lima trofi dalam satu tahun.

Manajer Madrid, Zinedine Zidane menegaskan bahwa mereka ingin pulang ke Spanyol dengan meraih gelar juara. Pelatih asal Prancis itu mengungkapkan bahwa Madrid merupakan kesebelasan pemburu gelar. “Piala Dunia Antarklub adalah kompetisi di mana ada trofi yang dipertaruhkan dan kami ingin membawanya pulang bersama kami,” terang Zidane seperti dilansir dari halaman resmi klub.

Gremio berada dalam posisi sulit, apalagi sejarah mencatat bahwa kesebelasan asal Amerika Selatan selalu kesulitan mengalahkan wakil Eropa di final Piala Dunia Antarklub. Sejak tahun 2000, gelar juara di ajang tersebut sebenarnya dimonopoli oleh tim asal Eropa dan Amerika Selatan. Namun kesebelasan Eropa lebih dominan dengan meraih sembilan gelar juara dalam 13 penyelenggaraan terakhir.

Dari sembilan trofi yang diraih wakil Eropa di ajang tersebut, enam di antaranya didapat setelah mengalahkan tim asal Amerika Selatan di partai final. Kali terakhir tim Amerika Selatan koyak di final Piala Dunia Antarklub saat jumpa wakil Eropa terjadi pada 2015. Saat itu River Plate takluk tiga gol tanpa balas dari Barcelona.

Gremio Bisa Berkaca Pada Sao Paolo, Internacional, dan Corintians

Sejarah memang tidak berpihak kepada tim asal Amerika Selatan untuk meraih gelar juara di ajang Piala Dunia Antarklub 2017. Namun hal tersebut tak perlu membuat Gremio itu ciut nyali. Tim asuhan Renato Portaluppi bisa menjadikan Sao Paolo, Internacional, dan Corintians sebagai acuan menambah kepercayaan diri mereka menghadapi Madrid.

Sao Paolo, Internacional, dan Corintians merupakan tiga kesebelasan asal Brasil yang mampu meraih gelar juara Piala Dunia Antarklub setelah mengalahkan wakil Eropa di babak final. Sao Paolo pada 2005 berhasil mengalahkan Liverpool dengan skor tipis 1-0.

Jejak Sao Paolo berhasil diikuti Internacional setahun kemudian, tak tanggung-tanggung pada penyelenggaraan tahun 2006, Intenacional memastikan gelar juara setelah mengandaskan Barcelona juga dengan skor 1-0.

Setelah Internacional, dominasi gelar juara Piala Antarklub di monopoli oleh wakil Eropa. Namun pada 2005, Corintians hadir sebagai perusak dominasi tersebut. Menghadapi Chelsea di partai puncak, klub berjulukan Todo Poderoso itu berhasil menumbangkan The Blues dengan skor 1-0.

Melihat kecenderungan yang ada, sebenarnya wakil Eropa di Piala Dunia Antarklub selalu kesulitan saat menghadapi kesebelasan asal Brasil di partai puncak. Sejak tahun 2000 ada empat pertandingan final Piala Dunia Antarklub yang mempertemukan antara wakil Eropa menghadapi tim Amerika Selatan yang diwakili oleh kesebelasan asal Brasil.

Dari empat pertandingan tersebut, hanya satu kali wakil Eropa berhasil meraih kemenangan sementara tiga lainnya berakhir dengan kekalahan. Satu-satunya kemenangan yang diraih wakil Eropa saat menghadapi tim asal Brasil di partai puncak Piala Dunia Antarklub terjadi pada 2011 lalu, saat Barcelona berhasil mengalahkan Santos dengan skor empat gol tanpa balas.

Melalui catatan tersebut, Gremio setidaknya bisa lebih percaya diri saat menghadapi Madrid di partai puncak, meski tidak banyak pihak yang menjagokan mereka. Dalam pertandingan nanti Gremio kemungkinan bakal tampil lebih bertahan.

Selain karena banyaknya pilar andalan yang absen karena cedera, faktor lain yang akan membuat Gremio bakal tampil lebih memfokuskan permaian di sektor pertahanan tentunya kapasitas lini serang Madrid yang kemungkinan bakal digalang Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, dan Gareth Bale sebagai trio lini serang.

Fokus menjaga pertahanan sangat memungkinkan bagi para pemain Madrid kesulitan dalam mencetak gol, yang berpotensi membuat mereka merasa frustasi. Saat para pemain Madrid terlalu asyik menyerang, Gremio bisa melancarkan serangan balik cepat untuk balik mencecar jantung pertahanan Los Blancos untuk menciptakan peluang atau bahkan gol.

Komentar