Tak Boleh Ada Muslim di Beitar Jerusalem

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi 45886 Pilihan

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Tak Boleh Ada Muslim di Beitar Jerusalem

Suporter akan selalu menganggap momen ketika kesebelasan kesayangannya mencetak gol sebagai puncak kesenangan dan kebahagiaan. Segala dukungan dan nyanyian akan semakin keras dikumandangkan agar kesebelasan yang didukung semakin termotivasi hingga akhirnya keluar sebagai pemenang di akhir pertandingan. Tapi hal itu tidak terjadi bagi suporter Beitar Jerusalem.

Pada 3 Maret 2013 lalu, ketika Beitar Jerusalem menjamu Maccabi Netanyal, Zaur Sadaev mencetak gol yang membuat tuan rumah unggul 1-0, seisi Stadion Teddy langsung bergema menyambut gol yang diciptakan penyerang asal Rusia tersebut.

Namun beberapa detik setelah gol itu dirayakan, suasana berubah menjadi menegangkan. Para pendukung Beitar semakin keras menyiuli para pemainnya sendiri. Bahkan tak lama berselang, pendukung Beitar yang tak senang atas gol tersebut membubarkan diri satu demi satu.

Loh? Bukankah gol yang diciptakan oleh kesebelasan yang didukung harusnya menjadi kesenangan? Mengapa para pendukung Beitar malah membubarkan diri setelah gol yang diciptakan Zadaev?

Jawabannya ternyata karena Zadaev seorang muslim, dan pendukung Beitar, yang menamakan diri mereka La Familia, merupakan suporter garis keras Beitar yang sangat anti-muslim.

***

"Lieberman, bagaimana bisa kamu mendukungnya!?" teriak seorang suporter Beitar pada Avigdor Lieberman, Menteri Luar Negeri Israel, yang ikut bersukacita atas gol Sadaev tersebut. "Lieberman, di mana pendirianmu!?" sahut pendukung Beitar lainnya.

Saat itu memang menjadi salah satu momen bersejarah. Untuk pertama kalinya, seorang muslim mencetak gol bagi Beitar yang sebelumnya terkenal sangat anti-Arab. Karenanya begitu juga dengan para pendukung Beitar, khususnya La Familia, yang begitu intoleran pada muslim.

Baca juga: Kejutan Maccabi Tel Aviv, Politik, dan Dua Tal ben Haim

Lieberman sendiri sadar betul bahwa Beitar Jerusalem adalah salah satu kesebelasan yang menganut ideologi sayap kanan. Hal ini merepresentasikan warga Kota Jerusalem yang benar-benar teguh pada pendiriannya sebagai bangsa Yahudi.

"Beitar tanpa diragukan lagi merupakan garis keras dari pergerakan nasional dari sayap kanan. Mereka mencintai negara ini, mereka mencintai orang-orang Israel. Beitar merupakan kesebelasan semua orang dan akan selalu menjadi yang terdepan jika ada yang melawan pendirian mereka," ujar Lieberman ketika diwawancarai Guardian sebelum laga tersebut.

Namun Lieberman tampaknya tetap menghargai keputusan manajemen Beitar yang pada akhirnya merekrut, atau lebih tepatnya meminjam, dua pemain muslim (Dzhabrail Kadiev dan Zaur Sadaev) pada Januari 2013. Manajemen sendiri saat itu mengesampingkan "ideologi" mereka karena perekrutan tersebut berdasarkan kebutuhan tim.

"Konferensi pers kali ini untuk memperkenalkan dua pemain baru kami yang berasal dari Republik Chechnya. Hal ini menjadi persoalan besar di luaran sana meskipun begitu ini hanyalah bagian transfer pamain sepakbola," ujar Itzik Korenfine, Presiden Klub Beitar, saat memperkenalkan dua pemain muslim pertama dalam sejarah Beitar pada 2013 lalu.

Meski manajemen telah berkata demikian, nyatanya La Familia tetap tak menerima kesebelasan yang mereka agungkan tersebut dibela oleh muslim. Saat keduanya pertama kali menjalani sesi latihan, puluhan anggota La Familia mengelilingi tempat latihan Beitar. Mereka lantas menyiuli keduanya dan menyanyikan lagu kebangsaan Israel yang begitu kental dengan keinginan bangsa Yahudi menguasai Israel sepenuhnya. Bahkan terdengar pula umpatan-umpatan pada Sadaev dan Kadeiv yang salah satunya berbunyi, "Kalian mendatangkan dua orang muslim, bukan pemain sepakbola!".

La Familia secara terang-terangan mengakui bahwa mereka sangat anti-muslim. Oleh karena itu, mereka merasa harusnya tak boleh ada tempat bagi muslim di Beitar Jerusalem. Apalagi sejak berdiri tahun 1936, ideologi tersebut dipegang teguh oleh klub, tentunya sebelum kedatangan Sadaev dan Kadiev.

"Masalahnya hanya pada muslim. Tak ada masalah dengan nasrani," ujar Ofir Kriaf, gelandang Beitar. "Bahkan hingga saat ini, kami selalu bermain dengan (pemain) nasrani."

Ketidakbebasan muslim di kota Jerusalem membuat Kadiev harus shalat di dalam bus (via: guardian.com) Ketidakbebasan muslim di kota Jerusalem membuat Kadiev harus shalat di dalam bus (via: guardian.com)


"Tentu semua orang tahu bahwa tak semua orang Arab adalah teroris. Tapi janganlah membawa mereka (pemain muslim) ke dalam kesebelasan kami," tutur Oshri, salah satu pendukung Beitar.

Itzik yang mengambil keputusan untuk merekrut dua pemain muslim tentunya mendapatkan protes keras dari pendukung Beitar, khususnya La Familia. Itzik diminta mundur dari jabatannya bahkan dengan ancaman pembunuhan. Hanya saja manajemen mendukungnya dan ia tetap menjadi presiden Beitar.

Pelatih Beitar, Eli Cohen, pernah juga mendapatkan ancaman terkait kehadiran Sadaev dan Kadiev. Jelang Beitar Jerusalem menghadapi sebuah laga, ia mendapatkan pesan pendek dari nomor tak dikenal dengan isi: "Eli, kami semua datang untuk mendukungmu, semua tiket sudah terjual. Tapi semuanya akan menjadi buruk jika kamu memainkan no.13 [Sadaev]. Pilihan ada di tanganmu."

Akhirnya kedua pemain ini memang jarang dimainkan. Keduanya hanya bertahan selama enam bulan sebelum dikembalikan ke Terek Grozny. Sadaev hanya bermain sebanyak enam kali, sementara Kadiev hanya satu kali.

Kebencian terhadap muslim secara khusus, dan Arab secara umum, membuat siapapun pemain muslim atau keturunan Arab milik lawan yang bermain menghadapi Beitar akan mendapatkan umpatan dan menjadi sasaran hinaan. Karenanya pada salah satu chant mereka, mereka tak ragu dan dengan lantang menyebut diri mereka sendiri sebagai kesebelasan paling rasis di Israel, "Here we are, the most racist football team in the country!".

Bahkan tak peduli pula jika pemain muslim atau Arab tersebut merupakan bagian dari pemain timnas Israel. Hal itu pernah dialami Abbas Suan, pemain timnas Israel yang memiliki keturunan Arab. Pada 2005, ketika dirinya mencetak gol yang membuat Israel menjaga asa lolos ke Piala Dunia, ia tetap tak mendapatkan respek, bahkan malah mendapatkan ancaman pembunuhan.

"Setiap saat mereka selalu mengatakan hal yang buruk terhadap (Nabi) Muhammad. Saya malu mendengar hal tersebut. Dan saya tak mau bertanding melawan kesebelasan mereka [Beitar]," ujar Suan ketika diwawancarai ESPN. "Mereka selalu berusaha membunuh saya. Pada suatu ketika mereka merusak mobil saya. Jika saya berada di sana, yang terjadi pasti hal yang sangat buruk."

Asosiasi Sepakbola Israel (IFA) pun mengakui bahwa mereka tak berdaya menghadapi perilaku pendukung Beitar, khususnya La Familia, yang melakukan rasis pada semua pemain muslim dan Arab. IFA pun telah berulang kali menghukum Beitar dengan denda dan pengurangan poin. Namun hal tersebut tak membuat La Familia jera.

SARA Israel

"Tidak mungkin mengubah pandangan ideologi sebuah klub yang telah bertahan selama hampir 100 tahun," ujar Ori Shilo, CEO IFA. "Sebelumnya, tidak ada dari manajemen Beitar yang berani merekrut pemain muslim."

Lantas mengapa La Familia begitu membenci muslim dan keturunan Arab? "Kami tak membenci orang Arab karena mereka orang Arab. Kami membenci orang Arab karena mereka ingin membunuh kami. Mereka musuh kami," ujar Guy Israeli, ketua La Familia.

Hingga saat ini, muslim dan keturunan Arab tak bisa hidup tenang di Israel. Menurut ESPN, pada Oktober lalu terdapat serangkaian serangan yang dilakukan oleh orang-orang Israel pada warga-warga yang dicurigai orang Arab. Pada beberapa video, mereka menyerang orang Arab dengan sadis, termasuk menabrak seseorang di jalan raya menggunakan mobilnya.

Sikap La Familia, hingga batas tertentu, mencerminkan pandangan negara Israel. Negara Israel oleh banyak orang disebut mempraktikkan sistem semacam apartheid yang meneguhkan supremasi ras tertentu, dalam hal ini Yahudi, di atas yang lain. Israel sangat ketat mempraktikkan kategorisasi rasial semacam itu.

Banyak orang yang tentu saja mencibir sikap La Familia sebagai kedegilan rasialis yang tak bisa ditolerir. Tapi agaknya penting untuk memahami sikap mereka sebagai manifestasi perasaan "tidak aman": Israel dikepung oleh bangsa Arab yang membencinya, Israel dan Yahudi banyak mengalami kekerasan dan diskriminasi yang berlangsung puluhan abad di Eropa, termasuk kekerasan mengerikan yang dilakukan NAZI. Kebencian terhadap Israel, alias anti-semitisme masih eksis, bukan hanya di kalangan Muslim, tapi juga banyak orang Eropa.

Ledekan di berbagai stasion kepada pemain-pemain berdarah Yahudi masih saja terdengar. Beberapa suporter kadang meledek kesebelasan atau pemain Yahudi dengan bunyi desisan yang menyerupai suara gas di dalam kamar gas tempat pembantaian Yahudi di era Hitler. Sebuah ledekan yang tentu menjengkelkan bagi orang-orang Israel karena membangkitkan ingatan terhadap tragedi Holocaust.

Pendirian dan ideologi kelompok, tentu saja, tidak lahir dari ruang kosong. Ia muncul sebagai hasil tempaan pengalaman hidup dalam sejarah yang panjang. Tak terkecuali hasil pengaruh ingatan kolektif yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Sebagaimana DNA, kebencian kadang memang bisa diturunkan kepada anak cucu. Hal itu yang membuat La Familia memegang teguh pendirian mereka bahwa tak boleh ada muslim di Beitar Jerusalem.



foto: ynetnews/Oz Mualem

Komentar