Sebuah Kota Ultras Bernama Krakow

Cerita

by Frasetya Vady Aditya Pilihan

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Sebuah Kota Ultras Bernama Krakow

Suzanne Rozdeba melihat gelagat aneh setelah ia membeli tiket seharga 47 zloty, mata uang Polandia. Ia mendapatkan potongan senilai 38 zloty atau hampir setengah dari harga tiket. "Itu bisa saja adab pria bagi suporter perempuan, atau aku�tengah dipikat menuju area yang berbahaya," tulis Suzanne dalam artikelnya di Krakow Post.

Sore itu, Suzanne memilih kursi di sektor dua, bersebrangan dengan lokasi Ultras Wisla Krakow. Kala itu, Wisla dijadwalkan menghadapi kesebelasan Bulgaria, PFC Litex Lovech. Seperti sejumlah ultras lainnya, Ultras Wisla pun tidak langsung datang ke stadion. Mereka berjalan melakukan long march sebelum masuk ke stadion.

Suzanne telah mendengar sejumlah cerita kekerasan dari suporter sepakbola di Polandia, termasuk persaingan dua ultras satu kota, Wisla dan Cracovia. Bahkan, dalam pertempuran yang sering disebut "Holy War" tersebut, para ultras kerap menggunakan pisau sebagai senjata di jalanan. "Perempuan tak lebih baik dari laki-laki. Terkadang, mereka malah jauh lebih buruk," tutur seorang penggemar lain saat bicara pada Suzanne.

Meskipun telah memiliki persepsi buruk, tapi Suzanne kaget setelah Peter, sepupu yang ikut bersamanya ke stadion, meminta nomor ID nya. Ternyata setiap penggemar yang masuk ke stadion mestilah didata. Nantinya, nama dan nomor ID akan tertera di tiket yang tercetak.

Bayang-bayang buruk tentang sepakbola di Polandia memang telah menghantui Suzanne. Ia ingat akan pertandingan Wisla menghadapi Parma pada 1998 di Krakow. Kala itu, seorang penggemar Wisla melemparkan pisau ke arah Dino Baggio dan mengenai tepat di kepalanya. Atas kejadian tersebut, Wisla pun dilarang bertanding di Eropa dalam setahun setelahnya. Belum lagi tingginya catatan korban jiwa maupun terluka serius saat tawuran antara Ultras Sharks dari Wisla dan Ultras Any Wisla dari Cracovia.

Stadion Miejski milik Wisla dan Stadion Cracovii milik Cracovia sebenarnya cuma dipisahkan oleh sebuah taman. Kedua suporter bisa sama-sama saling melihat stadion lawan. Ini yang membuat polisi selalu berjaga di jalanan antara dua stadion tersebut untuk mencegah konfrontasi kedua suporter. Disiagakan pula sebuah mobil water cannon di dekat pintu masuk.

Baca juga: Mafia dan Duel Rahasia Ultras Polandia

Para penggemar umumnya mengenakan kostum berwarna merah, warna tradisional klub, dengan syal yang mengikat leher mereka, maupun yang diacungkan ke udara. Di dalam stadion Suzanne duduk di tribun atas. Dua sektor di sebelah kanannya adalah tempat ultras berada. Mereka menginvasi seluruh tribun utara di belakang gawang. Tentu, jumlah tim pengamanan pun menumpuk di area tempat ultras duduk.

Saat pertandingan akan dimulai, lagu Wisla pun dinyanyikan. Para penggemar mengangkat syal mereka dan turut bernyanyi. "Chant paling favorit ada di tengah pertandingan. Aku menyaksikan penggemar mengangkat syal sembari bergemuruh �Woooo� yang ditujukan untuk menekan mental tim lawan," tulis Suzanne.

Sebagaimana penggemar sepakbola yang tidak terlibat dalam pertunjukkan, Suzanne mengaku kalau ia tidak terlalu banyak memerhatikan pertandingan itu sendiri, "Aku terpesona pada para penggemar, oleh kecintaan mereka pada pertandingan, oleh �agama� yang mereka praktikkan di pemberhentian bus, di mobil, atau berteriak di depan pemutar radio atau televisi."

Para pendukung bercampur aduk mulai dari siswa, pekerja, pebisnis, orang Inggris, Bulgaria, semua bercampur membentuk lautan merah dan putih. Mereka mendukung kesebelasan di mana cuma sepertiganya yang orang Polandia. Justru mereka mengidolai pemain israel, Maor Melikson dan pemain lain dari Honduras, Argentina, Serbia, dan Kosta Rika.

Usai pertandingan, Suzanne pun bertanya pada sepupunya apakah ia aman mengenakan kostum Wisla sepanjang perjalanan pulang. "Ya, jika kau merasa baik-baik saja jika dibacok kapak di wajah," tutur sepupunya tersebut.

"Hampir tengah malam dan aku buru-buru masuk bus. Sepuluh menit kemudian, di hadapanku, seorang perempuan cekcok dengan kekasihnya yang terus melirih ke arah belakang bus, ke sekelompok pemuda. Ia mencoba untuk bergerak menuju mereka, tetapi sang perempuan terus-terusan menariknya. Aku berharap terjadi keributan, dan menyadari kalau aku akan terlibat karena kostumku. Sebelum keributan benar-benar dimulai, aku turun dari bus dan menyadari kalau aku telah aman. Di seberan jalan, penggemar dengan kostum merah tengah berkumpul di kios kebab: Aku telah berada di wilayah Wisla sekarang," tutup Suzanne.

Apa yang terjadi pada Suzanne merupakan hal yang lumrah terjadi buat penggemar sepakbola di Indonesia. Rekan penulis, datang ke stadion salah satunya untuk menyaksikan atraktifnya suporter tim tuan rumah, mulai dari chant sampai koreografi. Hal-hal tersebutlah yang tidak bisa dirasakan oleh penonton televisi, di mana penggemar bisa merasakan terintimidasi di dalam stadion sekaligus mendapatkan energi yang meluap-luap sembari bernyanyi bersama suporter lainnya.

Yuk, nonton ke stadion!

Eropa Timur dikenal dengan agresifitas ultras yang identik dengan kekerasan. Kami sempat menuliskan kultur ultras di Eropa Timur:

Ultras Rusia yang Identik dengan Kekerasan

Tragedi MH-17, Crimea, dan Ultras Ukraina

Ultras Hungaria Demo Karena Pemain Buruk

foto: Krzysztof Porebski/Ultras Tifo

Komentar