Emery Harus Bisa Redam Ego Para Pemain Bintangnya

Berita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball | plus Supporter

Emery Harus Bisa Redam Ego Para Pemain Bintangnya

Pada musim 2016/2017, karier kepelatihan Unai Emery melonjak tajam setelah menerima pinangan Paris Saint Germain (PSG). Kemajuan bagi karier Emery setelah menduduki kursi kepelatihan di klub asal Paris itu.

Melihat rekam jejaknya sebelum membesut PSG, pelatih asal Spanyol itu banyak menukangi tim-tim dengan status biasa saja. Hanya Valencia dan Sevilla yang bisa dibilang punya reputasi yang cukup baik (tapi belum masuk tim yang luar biasa), sementara sisanya adalah tim-tim medioker macam Almeria, Lorca Deportivo, hingga Spartak Moscow (medioker di kompetisi Eropa).

Melihat kiprah Emery, langkah besar nan berani dilakukan PSG saat menunjuk pelatih berusia 45 tahun itu sebagai pengganti Laurent Blanc. Emery tidak punya banyak pengalaman dalam menukangi tim berlabel raksasa. Sementara PSG, seperti kita ketahui telah menjadi kesebelasan besar di Perancis dan Eropa, yang disokong dengan pemain-pemain berkualitas berlabel bintang di dalamnya.

Namun bukan tanpa alasan para petinggi PSG merekrut Emery sebagai arsitek tim kala itu. Meski memang pengalamannya menukangi tim berlabel raksasa sangat minim, tapi Emery tetaplah pelatih berkualitas. Paling menonjol tentunya saat berhasil membawa Sevilla menjadi raja di panggung Liga Europa dalam tiga musim berturut-turut (2013/2014, 2014/2015, dan 2015/2016). Menariknya tiga gelar tersebut berhasil diraih Emery dengan skuat yang bisa dibilang tak bertabur bintang.

Prestasi tersebut yang menjadi inti dari ketertarikan PSG untuk memboyong Emery. PSG telah bertransformasi menjadi salah satu kekuatan besar di pentas sepakbola Eropa sejak tahun 2011, atau saat kepemilikan tim di ambil alih oleh taipan kaya asal Qatar, Nasser Al-Khelaifi, yang membuat mereka mampu untuk menghadirkan pemain-pemain bintang ke Paris.

Para pemain bintang seperti Zlatan Ibrahimovic, Ezequiel Lavezzi, hingga Angel Di Maria berhasil di datangkan dalam periode berbeda. Hasilnya cukup signifikan karena PSG mampu menjadi raja di kompetisi Perancis. Namun ketika tampil di kompetisi Eropa mereka seolah silau dengan ketangguhan tim-tim macam Real Madrid, Barcelona, atau bahkan Bayern Muenchen. Sejak tahun 2011, Raja sepakbola Perancis itu pun hanya mampu menapaki babak perempat final sebagai prestasi tertinggi mereka di Liga Champions.

Emery punya modal yang kuat karena ia tercatat sebagai salah satu pelatih terbaik di pentas Eropa, meski hanya di ajang Liga Europa. Mungkin manajemen PSG saat itu berpikir bahwa dengan skuat yang tergolong biasa saja, Emery mampu mengantar Sevilla hingga tiga kali juara di Liga Europa, apalagi dengan sokongan pemain bertabur bintang maka mungkin ia bisa membawa PSG menjadi jawara di Liga Champions.

Sah-sah saja pemikiran tersebut dimiliki PSG, secara logika pun tidak ada yang salah dengan pemikiran tersebut. Tapi di musim pertamanya bersama PSG, Emery bisa dibilang gagal total meski ia berhasil membawa PSG juara di ajang Coupe de France dan Coupe de la Ligue. Namun Emery gagal membawa PSG juara di Liga Champions, bahkan trofi Ligue 1 musim 2016/2017 pun lepas ke tangan AS Monaco.

Meski begitu, Emery tetap dipertahankan. Namun ambisi kesebelasan tak begitu padam. Musim 2017/2018, PSG melakukan manuver gila-gilaan di bursa transfer musim panas ini. Empat pemain di datangkan, dengan dua di antaranya berstatus superstar dalam diri Neymar dan Kylian Mbappe. Kehadiran Neymar, Mbappe, hingga Dabi Alves kemudian melengkapi skuat bintang PSG yang sebelumnya sudah memiliki Edinson Cavani, Julian Draxler, Angel Di Maria, hingga Marco Verratti.

Dengan skuat seperti ini, Emery seperti berada di surga, dengan pemain-pemain berkualitas yang dimilikinya, di atas kertas Emery bersama PSG bisa melakukan apapun dan menggenggam apapun yang mereka inginkan. Namun yang perlu digarisbawahi, itu adalah prediksi di atas kertas, karena pada kenyataannya menukangi tim dengan komposisi pemain bertabur bintang malah bisa menjadi bumerang bagi pelatih itu sendiri.

Satu pekerjaan rumah yang biasanya dihadapi pelatih dengan tim bertabur bintang adalah meredam ego dari masing-masing pemain itu sendiri. Pemain bintang umumnya punya ego yang lebih tinggi, mereka selalu ingin menjadi yang paling menonjol dan menjadi yang terbaik di dalam tim. Wajar saja, mereka punya nama besar yang didukung dengan skill yang mumpuni.

Dalam hal meredam ego pemain bintang, itu menjadi tantangan sesungguhnya bagi Emery pada musim ini. Celakanya, kemampuan Emery dalam meredam ego tersebut saat ini tengah disoroti. Bagaimana tidak, saat ini kondisi internal PSG tengah bergejolak. Penyebabnya perseteruan antara Neymar dan Edinson Cavani yang masing-masing seolah enggan berbagi.

Ada dua kasus di mana Neymar dan Cavani berebut untuk mengeksekusi tendangan penalti. Pertama saat PSG mengalahkan Saint Etienne tiga gol tanpa balas di Parc des Princes, pada 25 Agustus lalu. Insiden yang sama kembali terulang pada akhir pekan lalu, saat PSG mengalahkan Olypique Lyon 2-0. Bahkan di laga melawan Lyon Dani Alves turut menjadi cameo dari insisden yang terjadi antara Neymar dan Cavani yang berebut ekseskusi bola mati.

Kabar terakhir menyebutkan bahwa Neymar sampai meng-unfollow akun Instagram Cavani. Agak konyol memang, namun dari sikap tersebut membuktikan bahwa adanya perselisihan yang terjadi di ruang ganti PSG dengan melibatkan Cavani dan Neymar.

Dalam kasus ini, dibutuhkan sosok Emery sebagai penengah. Sebab tugasnya bukan hanya menyiapkan taktik dan strategi bermain, lebih dari pada itu ia juga harus bisa menjaga harmonisasi di dalam tim.

Emery dituntut bisa menyelesaikan persoalan tersebut, apapun caranya. Sebab bila tidak ada jalan keluar, tidak menutup kemungkinan masalah akan semakin berlarut-larut. Bahkan berpotensi juga merembet kepada performa tim. Imbasnya bisa mengancam karier Emery di PSG.

Mau tidak mau, Emery harus bisa bersikap tegas, tentu ini bukan hanya soal insiden Neymar dan Cavani saja, namun secara keseluruhan Emery juga harus bisa meredam ego semua pemain, karena tidak menutup kemungkinan insiden serupa juga melibatkan pemain lainnya.

Foto: Soccermania

Komentar