Ironi di Balik Kekalahan Telak Gresik United di Bandung

Berita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball | plus Supporter

Ironi di Balik Kekalahan Telak Gresik United di Bandung

Melihat perjalanan Persegres Gresik United dalam kiprahnya di Liga 1 Indonesia 2017 bisa dibilang miris. Dari 20 laga yang sudah dijalani, kesebelasan berjuluk Kebo Giras itu terkesan sebagai tim bulan-bulanan lawan.

Bagaimana tidak, hanya ada satu kemenangan saja yang mereka peroleh atas Persiba Balikpapan di Stadion Petrokimia, Gresik, pada 13 Mei lalu. Selebihnya, mereka harus menelan 15 kekalahan dan empat hasil imbang. Hasil tersebut membuat mereka hanya meraup tujuh poin saja, yang kemudian membuat posisi Gresik United hampir tak pernah beranjak dari posisi juru kunci di tabel klasemen sementara kompetisi.

Permasalahan Persegres dalam mengarungi kompetisi musim ini, sebenarnya tidak hanya soal performa yang kemudian berpengaruh pada pencapaian mereka di kompetisi. Beberapa permasalahan lain yang mendera mereka juga adalah masalah klasik soal finansial. Masalah tersebut mencuat di awal putaran kedua Liga 1. Beberapa pemain mereka dikabarkan belum menerima gaji selama kurang lebih dua bulan.

Informasi tersebut kemudian diketahui oleh para suporter. Sebagai bentuk kepedulian mereka, Ultras Gresik melakukan boikot untuk tidak menyaksikan pertandingan antara Gresik United melawan Persipura Jayapura di Stadion Petrokimia, Senin (14/8) lalu.

Para suporter sebenarnya ada di area stadion, namun mereka lebih memilih berdiam di luar sambil melakukan aksi simpatik seperti menyalakan lilin, bernyanyi, dan mengumpulkan sejumlah uang yang didonasikan kepada para pemain yang tertunggak gajinya.

Saat dihubungi melalui sambungan telepon, Ketua Ultras Gresik, M Muharrom, mengungkapkan bahwa aksi boikot dilakukan bukanlah bentuk penghianatan terhadap kesebelasan yang mereka banggakan, melainkan rasa cinta yang disalurkan dengan cara berbeda karena kondisi Gresik United yang menurut mereka karut-marut. Ada harapan dari aksi boikot tersebut agar manajemen segera menyadari kondisi klubnya saat ini.

“Berawal dari informasi yang kami terima dari media dan pemain yang langsung menghubungi saya. Mereka menyatakan bahwa sudah tiga bulan belum gajian. Dari sana, kami merasa miris dan terenyuh melihat kondisi ini. Emosi kami jadi semakin meningkat, sudah kondisi tim sekarang seperti ini, manajemen juga belum ada itikad untuk mengevaluasi tim untuk lebih baik. Ditambah lagi masalah tunggakan gaji,” katanya, Selasa (15/8).

“Akhirnya, kami sepakat untuk boikot. Tapi, maksudnya bukan pengkhianatan, tapi ini tindakan kepedulian kami kepada pemain. Jadi kami sepakat untuk tetap datang ke stadion, tapi tidak masuk. Jadi, dari pada uangnya dibelikan tiket, lebih baik baik disumbangkan langsung kepada pemain,” sambungnya.

Eksodus Pemain

Sebelum munculnya kabar soal penunggakan gaji pemain yang membuat suporter mereka sendiri geram, ada permasalahan lain yang juga turut membuat mereka semakin terpuruk. Sebelum rehat kompetisi putaran pertama, mereka ditinggalkan banyak pemain memilih menanggalkan kostum Gresik United sebelum kontrak berakhir.

Beberapa pemain mundur di antaranya adalah Fitra Ridwan yang memutuskan hijrah ke Persija Jakarta, Dave Mustaine yang memilih kembali ke PSS Sleman, M Chairul Rifan, Herwin Tri Saputra, hingga Jeky Arisandi. Selain itu, dua penggawa asing mereka, Goran Ganchev dan Choi Hyun Yeon juga mengakhiri kerjasamanya sebelum kompetisi berakhir.

Beberapa pemain kemudian didatangkan, namun sepertinya belum cukup untuk mengisi kekosongan akibat eksodus pemain mereka. Namun setidaknya, ada dua pemain seperti Sasa Jesevic yang merupakan pemain baru muka lama, dan pemain asal Jepang, Yusuke Kato, yang akhirnya merapat ke Gresik United untuk menambal lubang yang ditinggalkan dua pemain tersebut.

Namun krisis pemain yang dialami Gresik sepertinya belum benar-benar teratasi, saat bertandang ke Bandung, hanya 15 pemain yang mereka boyong. Sasa dan Yasuke Kato masih belum bisa dimainkan saat menghadap Persib Bandung di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, Minggu (20/8). Komposisi tersebut sangatlah pas-pasan, karena setelah tiga pergantian, praktis hanya menyisakan satu pemain cadangan saja di bench pemain.

Semakin Telak di Bandung

Dengan skuat pas-pasan, Gresik United tetap berjuang memberikan perlawanan kepada Persib Bandung dalam laga tersebut. Namun upaya mereka untuk bisa meredam keagresifitasan Maung Bandung di Stadion Si Jalak Harupat gagal total.

Persib membantai habis Kebo Giras enam gol tanpa balas. Masing-masing gol tim asuhan Herrie Setyawan itu diciptakan oleh Raphael Maitimo yang mencetak hatrick, Fulgensius Billy Paji Keraf, dan Ezechiel N’Douassel. Sementara satu gol lainnya diciptakan melalui gol bunuh diri Andre Putro.

Meski memang kerap menderita kekalahan di Liga 1, namun hasil minor yang Gresik United dapatkan dari Persib Bandung menjadi kekalahan dengan marjin skor terbesar mereka di kompetisi. Selain itu, kekalahan dari Maung Bandung juga membuat mereka harus mengalami gawangnya kebobolan 14 gol dalam tiga pertandingan terakhir.

Sebelum menghadapi Persib, mereka kebobolan empat gol dari Semen Padang di Stadion Haji Agus Salim, Padang. Saat itu mereka takluk dengan skor 1-4. Sementara empat gol lain yang bersarang di gawang mereka didapatkan saat Kebo Giras ditumbangkan Persipura Jayapura di Stadion Petrokimia, Gresik. Saat itu mereka takluk dengan skor 0-4.

Kekalahan yang diderita Gresik United kemudian membuat mereka semakin terpuruk di dasar klasemen. Masih ada kesempatan sebenarnya bagi Kebo Giras untuk keluar dari jerat degradasi, dengan catatan segera memperbaiki penampilan untuk meraih kemenangan demi kemenangan. Namun kalau tidak, rasanya akan sulit bagi mereka bisa lepas dari posisi degradasi.

“Saya rasa jauh sekali (keluar dari ancaman degradasi) itu saja, rasanya jauh aja,” terang pelatih Gresik United, Hanafi seusai pertandingan.

Sebenarnya Gresik bisa menyulitkan Persib di menit-menit awal babak pertama. Perlawanan mereka berikan dengan beberapa kali menggempur pertahanan Maung Bandung. Sayang, tak ada gol yang berhasil mereka ciptakan. Malahan, enam gol diberondong ke gawang mereka.

"Permainan luar biasa pada menit pertama dari 10 sampai 15 menit awal kami masih ada perlawanan, tapi babak kedua mulai berkurang. Kemungkinan anak-anak kurang pengalaman, contoh Arsyad punya peluang tapi tendangannya gagal. Padahal, dia masih bisa kasih umpan ke Patrick. Faktor pengalaman mungkin seperti ini pemain 17 tahun, seharusnya dia bisa memanfaatkan tapi gak muncul," terangnya.

Komentar