Pakai Skema Tiga Bek, Manchester United Bukan Sekadar Ikut-ikutan

Taktik

by Dex Glenniza 90637

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Pakai Skema Tiga Bek, Manchester United Bukan Sekadar Ikut-ikutan

Manchester United memainkan formasi yang selalu berbeda dalam lima pertandingan terakhir mereka. Perubahan ini mereka lakukan setelah hasil imbang 1-1 melawan AFC Bournemouth (04/03). Salah satu perubahan yang paling terlihat yaitu José Mourinho yang memasang formasi tiga bek.

Manajer asal Portugal ini sudah lama tidak memakai formasi tiga bek yang sebenarnya bukan merupakan formasi kesukaannya. Terakhir kali ia memainkan formasi tiga bek adalah pada Mei 2011, saat ia masih membesut Real Madrid.

Pada empat pertandingan setelah melawan Bournemouth tersebut, pasukan “Setan Merah” mendapatkan satu hasil imbang, satu kekalahan, dan dua kemenangan.

Awalnya, saya mengira ia melakukan perubahan ini karena menyiapkan strategi khusus untuk melawan Chelsea di Piala FA (13/03), yang merupakan kesebelasan yang sudah terkenal piawai memainkan formasi tiga bek di Inggris.

Jika benar itu alasan Mourinho, ia sepertinya melakukannya dengan sangat terburu-buru, mengingat Chelsea akan dihadapi United pada dua pertandingan setelah Bournemouth tersebut, atau jeda sembilan hari.

Namun ternyata, Mourinho menyatakan jika ia melakukannya awalnya untuk menghindari kekalahan di kandang FC Rostov di Liga Europa UEFA (09/03). Mourinho merasa jika permukaan lapangan di Rostov sangat buruk sehingga ia harus memainkan formasi 5-4-1 yang kaku.


Baca juga: Pelatih Rostov: Ini Bukan Wembley, Mou!


“Aku pikir [skema tiga bek] itu berjalan dengan sangat baik. Bermain melawan dua penyerang, kami selalu bisa mengontrol pertandingan,” kata Mourinho setelah pertandingan yang berakhir dengan skor 1-1 tersebut.

Melawan duet penyerang Rostov, Aleksandar Bukharov dan Dmitri Poloz, United justru bisa unggul dalam jumlah pemain di lini belakang (3 vs 2).

“Mereka sangat direct, mereka tidak memakai pemain sayap ketika bola sampai ke samping, mereka hanya mau mengirimkan bola ke dalam kotak penalti. Aku pikir tiga pemain belakang kami mendapatkan pertandingan yang positif,” kata Mourinho.

Skema tiga bek untuk memenangkan second ball

Setiap manajer biasanya merasakan dilema untuk memainkan skema tiga bek. Sistem tersebut biasanya akan berjalan baik jika sebuah kesebelasan memiliki dua wing-back murni serta satu bek tengah yang memiliki kemampuan taktik di atas rata-rata.

Pada beberapa kasus, jika kesebelasan harus menghadapi lawan yang memainkan dua penyerang, hal ini juga bisa dilakukan, karena akan menciptakan surplus pada duel saat bertahan (3 vs 2).

Pada saat melawan Rostov, Mourinho melakukannya saat tandang (imbang 1-1) maupun kandang (menang 1-0). Tidak heran, saat melawan Middlesbrough (19/03), Mourinho mengulanginya lagi.

Dari awal pertandingan melawan Middlesbrough, Mourinho langsung memasang skema tiga bek. Formasi ini juga dirancang untuk merespon absennya pemain-pemain kunci, seperti Zlatan Ibrahimovic dan Ander Herrera. Pada babak pertama, United berhasil mengatasi tuan rumah Boro dan mencetak gol melalui Marouane Fellaini pada menit ke-30.

Mourinho kemudian mengubah formasi menjadi 4-1-4-1 pada babak kedua dan United berhasil mencetak gol kedua. Tapi sorotan utama kembali terjadi pada menit ke-67, saat Rudy Gestede masuk menggantikan Grant Leadbitter.

Sadar jika Middlesbrough berniat menduetkan dua target man (Gestede dan Alvaro Negredo) dan bek-bek United yang kemungkinan akan kalah berduel udara (Chris Smalling, Eric Bertrand Bailly, Phil Jones, ditambah Luis Antonio Valencia dan Ashley Young), Mourinho mengubah kembali formasi menjadi 5-4-1 yang kaku seperti saat melawan Rostov di kandang Rostov, ditambah juga ia memasukkan Marcos Rojo di menit ke-69 menggantikan Juan Manuel Mata.

Kemudian kita bisa melihat United memenangkan jumlah pemain saat duel di pertahanan mereka (3 vs 2; 3 bek United vs Gestede dan Negredo). Yang disoroti bukanlah jumlah kemenangan duel udara mereka, melainkan respon mereka saat bola terjatuh dari duel udara tersebut, alias pada second ball-nya.


Baca juga: Memahami Pentingnya "Second Balls" di Sepakbola Inggris


Mereka memang sempat kebobolan karena Smalling gagal melakukan sapuan. Tapi hal ini sebenarnya menyoroti hal lainnya, bukan karena skema tiga beknya, yaitu sorotan kepada betapa United membutuhkan sosok bek yang benar-benar bisa diandalkan.

Pada intinya, skema tiga bek akan berhasil jika ada surplus satu pemain di belakang dibandingkan lawan mereka, entah mencoba membuat situasi 3 vs 2, 4 vs 3 (salah satu wing-back turun saat melawan formasi tiga penyerang), 5 vs 4 (kedua wing-back turun saat melawan empat penyerang), dst.

Ini yang membuat manajer bisa mengubah-ubah bentuk skema pertahanan mereka, seperti yang Mourinho lakukan saat melawan Middlesbrough.

Bukan yang pertama bagi Man United

Formasi tiga bek, lima bek, atau empat bek pendulum ini sebenarnya bukan yang pertama bagi United. Jika Mourinho butuh hampir enam tahun untuk memainkannya di United, United sendiri hanya butuh menunggu sekitar dua tahun.

Bersambung ke halaman selanjutnya...

Komentar