Teerasil Dangda yang (Berhasil) Menipu Kita

PanditSharing

by Pandit Sharing 34503

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Teerasil Dangda yang (Berhasil) Menipu Kita

Artikel #AyoIndonesia karya Angga Septiawan Putra

Sebagai seseorang yang lahir di Indonesia dan berdarah asli Indonesia, wajar rasanya jika orang tersebut akan mengidolai para pesepakbola Indonesia macam Ponaryo Astaman, Elie Aiboy, dan tentu saja Bambang Pamungkas. Akan aneh rasanya jika ada seseorang yang tanpa sebab-musabab mengidolakan pemain dari negara rival, seperti pemain dari Malaysia atau Thailand.

Selama saya menghuni bumi ini, saya pernah melihat dan bercakap langsung dengan orang-orang seperti itu. Teman SMA saya, misalnya. Sejak Piala AFF 2008, katanya pada suatu kesempatan, ia sudah mengidolakan Alexandre Durich, striker naturalisasi asal Singapura. Ia tak memberikan penjelasan konkret soal pernyataannya tersebut. Ia hanya suka. Begitu saja.

Entah harus disyukuri atau merasa sial, saya juga termasuk orang yang aneh itu. Tanpa sebab tertentu, saya menjadikan pemain depan timnas Thailand bernama Teerasil Dangda sebagai idola. Teerasil Dangda, ya. Bukan Terasi Dangda.

Saya mengidolakan dia bukan karena kepiawaiannya mengolah si kulit bundar atau apa, seperti teman saya tadi, saya menyukai Dangda ya karena saya suka. Itu saja. Aneh kan? Iya, aneh. Da saya memang begitu.

Sudah, sudah. Kesampingkan dulu persoalan saya yang tanpa sebab menjadikan Teerasil Dangda sebagai idola ini. Di sini, saya hanya ingin ngomongin Teerasil Dangda. Bukan mau ghibah atau apa nih, ya. Seperti saya dan teman saya yang tanpa sebab mengidolakan Dangda sendiri, saya juga menulis ini tanpa sebab yang begitu jelas. Ya, intinya saya ingin menulis soal Dangda. Itu saja.

***

Jika membicarakan pesepak bola hebat dan berbakat dari tiap negara di Asia Tenggara, besar kemungkinan orang akan menyebut nama Teerasil Dangda untuk mewakili Thailand. Tidak seperti saya, hal ini tentu memiliki alasan yang jelas.

Pencapaiannya memang tidak terlalu fenomenal. Di level klub, ia ‘hanya’ pernah meraih empat gelar Liga Utama Thailand (2009, 2010, 2012, dan 2016), satu gelar juara Piala Raja Thailand (2010), satu gelar juara Piala Liga, serta sekali meraih gelar top skor Liga Thailand. Namun, meski pencapaiannya yang tidak begitu mentereng, rasanya tak akan ada salahnya jika menyebut Dangda sebagai salah satu pemain terbaik Thailand saat ini.

Dangda adalah satu dari banyak pemain Thailand yang sudah mencuat sejak usia muda dan tetap stabil hingga di usianya sekarang. Membela timnas Thailand u-17 dan mencetak 7 gol dari 11 pertandingan dilanjutkan dengan prestasi-prestasi lain di level senior. Gelar demi gelar terus merangkak menuju padanya seiring bertambahnya usia.

Di level tim nasional, Dangda pernah menjadi top skor Piala AFF 2008 dan Piala AFF 2012. Ia pun menjadi salah satu pencetak gol terbanyak Thailand sepanjang masa dengan 34 gol.

Dengan fakta tersebut, agaknya wajar apabila para pemain dari negara lain begitu mewaspadai ancaman yang secara tak langsung ditebar dengan ganas oleh Teerasil Dangda.

Simak bagaimana Hassan Sunny mewaspadai pemain dengan nomor punggung 10 ini. “Thailand akan jadi tim yang ingin dikalahkan tim lain di Manila. Mereka punya banyak pemain yang secara individu cukup bagus. Tapi buat saya, Teerasil tetap jadi pemain yang wajib mendapatkan atensi lebih. Saya pernah menghadapinya baik di level klub maupun timnas. Dia akan bisa sangat mematikan bila kami hanya terfokus pada Chanathip dan Mongkol Tossakrai," tuturnya.

Pernyataan tersebut semakin menegaskan bahwa Dangda memang merupakan salah satu pemain paling mematikan di Asia Tenggara. Thailand beruntung memiliki pemain sepertinya. Ia bisa menjadi sumber gol utama untuk tim Gajah Putih. Bahkan di pertandingan terakhir, Dangda mencetak dua gol pada pertandingan Kualifikasi Piala Dunia menghadapi Australia yang berakhir imbang 2-2.

Sebagai seorang pemain depan, ia memiliki hampir semua aspek individu yang diinginkan para pemain lain. Ia memiliki kecepatan dan kemampuan dribel yang aduhai. Penempatan posisi dan tembakannya pun juga tak bisa dipandang sebelah mata. Jelas sudah kenapa para pemain belakang negara lain begitu mewaspadai pemain satu ini.

Sepak bola memang permainan kolektif. Seperti kata Hassan Sunny sebelumnya, Thailand pun memiliki banyak pemain berbahaya lain macam Tristan Do, Chanatip Songkrasin, atau Mongkol Tossakrai. Namun, dari kesemuanya itu, tak bisa dimungkiri Dangda adalah yang paling berbahaya. Siapapun yang menghadapi Thailand, harus memberikan atensi lebih terhadap pemain yang sempat membela Almeria ini. Australia saja bisa dijebol dua kali, lha apalagi tim-tim yang berlaga di kompetisi di Piala AFF ini: kompetisi para negara cupu.

Tahun ini, tepat di akhir 2016 sebelum gelaran Piala AFF, saya baru sadar. Ternyata, ada beberapa hal dalam diri Dangda yang menipu saya dan mungkin pula menipu Anda. Kurang ajar betul orang ini.

Penipuan Soal Usia

Waktu terasa begitu cepat. Hal ini benar-benar saya rasakan. Rasanya, baru kemarin saya menyaksikan Bambang pamungkas, Firman Utina, dan Ponaryo Astaman bermain bersama di tim nasional. Rasanya, baru kemarin Boaz Solossa menjadi pemain termuda Indonesia pada Piala AFF 2004. Tapi, agaknya itu seolah tidak berlaku bagi Teerasil Dangda.

Waktu, sepertinya tak begitu berefek bagi pemain yang telah mencetak 76 gol dari 160 penampilan bersama Muangthong United ini.

Sejak 2008, saya sudah menyaksikan permainan Dangda. Tepatnya di Piala AFF di tahun itu. Saat itu, saya tidak begitu peduli soal usia seorang pemain bola. Pun dengan usia Teerasil Dangda. Yang saya tahu soal dirinya saat itu adalah pemain sepak bola asal Thailand yang meraih gelar top skor di Piala AFF 2008.

Waktu berlalu begitu cepat. Piala AFF demi Piala AFF telah saya saksikan dan ikuti. Piala AFF 2010, 2012, 2014, hingga sekarang Piala AFF 2016. Yang mengagetkan saya adalah adanya nama Teerasil Dangda dalam skuad akhir Thailand untuk Piala AFF 2016.

Yang membuat saya dan mungkin pula Anda merasa kaget atau tertipu, sebetulnya bukanlah nama Dangda yang kembali masuk skuad Thailand di gelaran tahun ini. Tapi, soal usianya yang ternyata relatif masih berada di usia emas seorang pemain bola: 28 tahun (ini saya ketahui setelah beberapa waktu lalu secara iseng mengetikkan namanya di Google). Bayangkan, berarti saat meraih top skor di Piala AFF 2008, usianya masih 20 tahun. Ajib!

Fakta ini benar-benar membuat saya dan sekali lagi mungkin membuat Anda juga tercengang. Sebab saya mengira Dangda berada di ‘angkatan’ yang sama dengan pemain macam Bambang Pamungkas, Safee Sali, atau Noh Alam Shah. Ternyata hal itu salah. Dangda telah menipu kita semua.

Penipuan Soal Gelar Bersama Thailand

Karena sudah bermain sejak 2008, banyak yang mengira Dangda terlibat dalam Piala AFF yang dimenangkan Thailand dalam kurun waktu itu. Tapi ternyata itu salah, dia belum pernah secara langsung memenangkan Piala AFF.

Selain merupakan salah satu pemain terbaik Thailand, Teerasil Dangda juga merupakan pemain yang kerap diterpa kesialan. Bayangkan saja, dengan beragam prestasi yang ia raih bersama Muangthong serta dua kali meraih top skor Piala AFF, ternyata ia belum pernah memenangkan Piala AFF.

Pada Piala AFF 2008 yang menjadi debutnya di turnamen tersebut, Dangda meraih gelar pencetak gol terbanyak dengan 4 gol (bersama Agu Casmir dan Budi Sudarsono), namun gelar juara Piala AFF justru jatuh ke tangan Vietnam. Selanjutnya di Piala AFF 2012, ia juga menjadi pencetak gol terbanyak dengan total lima gol. Tapi, gelar juara malah mendarat di pangkuan Singapura.

Pada 2010 bahkan lebih buruk. Dangda tidak meraih gelar top skor dan Thailand juga tidak meraih juara Piala AFF. Kesialan Dangda makin terasa dan terlihat aneh pada Piala AFF 2014. Pada gelaran tahun itu, Dangda tidak masuk dalam skuad karena tidak diizinkan oleh Almeria, klub yang ia bela saat itu. Namun, Thailand justru meraih gelar Piala AFF yang sekaligus menjadi gelar keempat Thailand sepanjang keikutsertaan mereka dalam ajang sepak bola antar-negara Asia Tenggara ini. Ngalam betul. Eh, malang betul.

"Dua kali menjadi pencetak gol terbanyak, yakni pada 2008 dan 2012 seolah menjadi tidak berarti karena tim tidak meraih apa-apa dan hanya meraih tempat kedua. Saya lebih memilih menang bersama tim daripada menjadi pencetak gol terbanyak. Saya juga kecewa tidak bisa ambil bagian dalam Piala AFF 2014 ketika tim saya menjadi juara," sesal Teerasil seperti dilansir dari affsuzukicup.com.

***

Sungguh, Dangda telah menipu saya dan mungkin Anda semua. Tak terbayangkan sudah berapa banyak dosa yang ia hasilkan atas penipuannya ini. Tapi, apa dan bagaimanapun itu, Dangda tetaplah salah satu pemain terbaik Asia Tenggara. Dan, tentu saja saya tetap mengidolai Dangda, mengidolai tanpa sebab.

Eh tapi nih, ya, meskipun saya mengidolakan Teerasil Dangda, harapan saya, ya, Indonesia yang jadi juara. Bukan Thailand, Vietnam, apalagi Malaysia. Gini-gini saya juga orang Indonesia lho.

Mahasiswa Jurnalistik dan anggota BKI Fikom Unpad. Terjebak di antara desain dan tulisan. Dapat dihubungi lewat akun @sptwn_. Tulisan ini merupakan bagian dari #AyoIndonesia, mendukung timnas lewat karya tulis. Isi tulisan merupakan tanggung jawab penulis. Selengkapnya baca di sini: Ayo Mendukung Timnas Lewat Karya Tulis.

Komentar