Pembantaian Lantaran Perebutan Kekuasaan

Backpass

by Evans Edgar Simon

Evans Edgar Simon

Death. Glory. Rock n Roll. Kontributor Pandit Football Indonesia.

Pembantaian Lantaran Perebutan Kekuasaan

Tahun kabisat datang empat tahun sekali. Namun kalah 0-10 tak sering mampir sehingga bisa dianggap anomali. Itu yang terjadi pada Tim Nasional Indonesia ketika dibantai oleh Bahrain pada 29 Februari 2012.

Tidak banyak ekspektasi di pundak para pemain timnas kala tiba di Riffa. Mereka sudah dipastikan tidak akan lolos ke Piala Dunia 2014 di Brasil setelah kalah dalam lima laga sebelumnya.

Rekor pertandingan Indonesia juga inferior ketika menghadapi tim Timur Tengah. Sebelum laga di Stadion Nasional Bahrain digelar, Indonesia hanya mampu menang 12 kali dalam 61 laga. Sebanyak 34 di antaranya berakhir dengan kekalahan, salah satunya dilumat dengan skor 0-7 oleh Suriah di Damaskus pada kualifikasi Piala Dunia 2010. Meski demikian, kalah dengan selisih dua digit gol tak cukup digambarkan dengan kata `mengejutkan`.

Baru tiga menit pertandingan berjalan, kiper Syamsidar mendapat kartu merah. Sebuah pukulan telak di awal laga yang berujung dengan 10 gol bersarang di jala gawang Indonesia melalui trigol Sayed Dhiya, serta dwigol Ismail Abdul Latif, Mahmood Abdurahman, dan Mohammed Tayeb Al Alawi.

Buntut pertandingan ini, FIFA dan AFC bahkan sampai menggelar investigasi. Terdapat dugaan pengaturan skor. Selain karena jalannya pertandingan yang terbilang surealis untuk level babak ketiga kualifikasi Piala Dunia, Bahrain juga wajib menang dengan minimal sembilan gol (plus Qatar harus menang atas Iran) untuk melaju ke babak selanjutnya.

Rasanya adil jika mengatakan bahwa bukan Bahrain yang beruntung dalam laga ini, melainkan Indonesia. Skor seharusnya bisa lebih besar dari itu jika bukan karena keberhasilan Muhammad Guntur menahan dua dari total empat penalti.

Mudah untuk langsung menyalahkan Aji Santoso sebagai pelatih, begitu pula dengan para pemain yang menjadi bulan-bulanan Al-Ahmar. Namun, mereka tak sepenuhnya salah. Bahkan, rasanya lebih tepat jika mereka dikatakan sebagai korban inkompetensi federasi; carut-marut persepakbolaan nasional yang berakar dari perebutan kekuasaan.

***

Lengsernya Nurdin Halid dari tampuk kepemimpinan (ternyata) tak serta-merta menyelesaikan masalah di tubuh PSSI. Kemenangan Djohar Arifin sebagai ketua terpilih dalam Kongres Luar Biasa di Solo pada Juli 2011 munculkan benih-benih prahara berbeda.

Setelah memecat Alfred Riedl sebagai pelatih timnas, PSSI pimpinan Djohar mencoba `merapikan` kompetisi nasional. Dia melahirkan Liga Primer Indonesia (LPI) dengan PT Liga Prima Indonesia Sportindo sebagai operator.

Keputusan Djohar melahirkan LPI yang berisi 18 kesebelasan plus enam kesebelasan baru untuk menggantikan Liga Super Indonesia (ISL), dengan PT Liga Indonesia sebagai operator menuai penolakan keras dari beberapa anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI.

Exco terbelah dua. Perseteruan sengit terjadi antara kubu pendukung Djohar yang berisi Sihar Sitorus, Tuti Dau, Mawardi Nurdin, Bob Hippy, Widodo Santoso, dan Farid Rahman. Adapun di kubu seberang terdapat La Nyalla Mattalitti, Toni Apriliani, Roberto Rouw, dan Erwin Dwi BUdiman.

Perseteruan internal Exco PSSI terus memanas, beriringan dengan ketidakpastian berjalannya kompetisi. Setelah laga kick-off LPI 2011/12 antara Semen Padang vs Persib Bandung digelar pada 15 Oktober, kompetisi diliburkan karena jadwal belum rampung disusun.

Konflik terkait kompetisi mencapai puncaknya pada 25 Oktober 2011. PSSI mencabut seluruh kewenangan PT Liga Indonesia. Mayoritas pemegang saham mengobarkan perlawanan. Mereka nekad tetap menggelar Liga Super Indonesia meski tak mendapat restu dari PSSI. Sanksi terhadap kesebelasan-kesebelasan yang tak ikut LPI pun tak terelakkan, begitu pula dengan masalah susulan.

Juara bertahan Liga Indonesia, Persipura Jayapura, tak dapat berkompetisi di Liga Champions Asia (meski kemudian memenangi gugatan di arbitrase olahraga internasional). Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, dan Arema Indonesia adalah beberapa kesebelasan yang mengalami dualisme kepengurusan (polemik internal dua kesebelasan terakhir berbuntut PSSI dibekukan FIFA pada 2015).

Pesepakbola yang merumput di ISL juga tak dapat membela timnas. Hal inilah yang membuat timnas berangkat ke Bahrain dengan skuad seadanya. Para pemain diseleksi bukan karena kemampuan, melainkan karena `keberpihakan`. Dengan skuad minim pengalaman—ada delapan debutan di dalam susunan starter—yang diturunkan Aji Santoso, tentu masuk akal jika mereka dibantai.

Pelatih Bahrain saat itu, Peter Taylor, sampai kesal dengan skuad Indonesia. "Untuk menghormati kompetisi, Indonesia seharusnya mengirim pemain terbaik mereka," kata pelatih asal Inggris tersebut, dikutip dari Kompas.

Bagi sepakbola Indonesia, periode kelam ini adalah definisi paling nyata dari "yang patah tumbuh, yang hilang berganti". Pelajarannya masih tetap relevan dan tak pernah basi.

>

Susunan pemain Indonesia pada saat itu: Syamsidar (kartu merah); Hengky Ardilles, Gunawan Dwi Cahyo (diganti Wahyu Wijiastanto), Abdul Rahman (kartu kuning), Diego Michiels (kartu kuning); Slamet Nurcahyo (diganti Andi Muhammad Guntur), Muhammad Taufiq, Aditya Putra Dewa (diganti Ricky Ohorella), Rendy Irawan; Irfan Bachdim, Ferdinand Sinaga.

Pemain pengganti yang tak bermain: Sigit Meiko Susanto, Rasul Zainuddin, Abdul Abanda Rahman, Samsul Arif.

Pelatih: Aji Santoso.

Komentar