Cara Suporter Mencintai Hannover 96

Backpass

by Rio Pangestu

Rio Pangestu

Pembaca yang menulis.

Cara Suporter Mencintai Hannover 96

“Kita membutuhkan klub dan suporter untuk bersatu. Pemain-pemainku layak untuk mendapat dukungan. Tiga puluh empat pertandingan tanpa dukungan suporter, adalah sesuatu tak menyenangkan.”

Ungkapan tersebut disuarakan oleh pelatih Hannover 96, Andre Breitenreiter, dalam sebuah konferensi pers sebelum Hannover menjamu Schalke 04 di kandang mereka. Laga menghadapi Schalke 04 adalah laga kandang perdana mereka di Bundesliga musim 2017/18.

Pada Minggu (27/8/17), pertandingan pun digelar. Setiap sudut tribun di Stadion AWD-Arena, yang berkapasitas 49 ribu penonton itu, begitu sesak oleh para suporter Hannover 96.

Hannover juga bermain sangat baik selama pertandingan berlangsung. Berkat gol yang dijaringkan Jonathas de Jesus di menit ke-67, Hannover memenangi pertandingan tersebut dengan skor 1-0.

Tetapi tidak ada tempik sorak atau riuh rendah nyanyian puja-puji dari para suporter dalam menyambut kemenangan itu. Pemandangan yang terhidang justru sebaliknya: para suporter meneriaki kata-kata umpatan dan spanduk-spanduk bernada protes dibentangkan.

“Pertandingan pertama di kandang, justru terasa seperti pertandingan tandang,” ujar sang pelatih, Andre Breitenreiter.

Amarah para suporter tersebut ditunjukkan untuk Presiden klub Hannover 96, Martin Kind. Kemarahan ini bermula dari keputusan yang dikeluarkan oleh Dewan Pengawas klub, yang memutuskan untuk melepas 51% sahamnya pada awal Agustus 2017. Pelepasan saham tersebut memungkinkan Martin Kind untuk menguasai klub sepenuhnya, dengan cara meminta dispensasi kepada federasi sepakbola Jerman untuk tidak mengikuti aturan 50+1.

Aturan 50+1 adalah aturan yang menyatakan tidak diperbolehkannya satu orang atau satu entitas untuk menguasai lebih dari 49% saham di sebuah klub. Hal tersebut bertujuan untuk mencegah penjualan saham mayoritas kepada investor luar, melindungi klub dari pemilik yang tidak bertanggung jawab, serta untuk mempertahankan nilai demokratis dari klub Jerman yang kepemilikannya dikuasai oleh suporter.

Sementara yang saat ini terjadi di Hannover 96 adalah sebaliknya. Seiring pelepasan 51% saham yang dilakukan oleh Dewan Pengawas klub, Martin Kind mengajukan permohonan kepada federasi sepakbola Jerman untuk diberi pengecualian dari aturan 50+1, agar dapat menguasai saham mayoritas klub. Hal inilah yang ditentang oleh suporter Hannover 96.

Spanduk bertuliskan “Kind harus pergi!”, “Demokrasi>Monarki”, dan “Tidak ada kebaikan tanpa partisipasi” dibentangkan di sudut-sudut AWD-Arena selama pertandingan berlangsung.

Mereka yang memrotes langkah Kind, tergabung dalam sebuah kolektif bernama “Pro Verein 1896”. Selain mengecam Kind lewat spanduk dan teriakan yang mereka lantangkan di stadion, Pro Verein 1896 juga sempat berjuang dengan mengadu ke pengadilan regional, namun pengadilan menolak aduan mereka.

Walaupun ditolak oleh pengadilan regional, Pro Verein 1896 tidak akan menyerah begitu saja. Mereka akan tetap berupaya untuk mencegah langkah Kind.

Apa yang diupayakan oleh para suporter Hannover 96 dalam mencegah langkah Martin Kind yang hendak menguasai klub sepenuhnya, mencerminkan kecintaan besar mereka kepada Hannover 96. Hal ini merupakan berkah yang patut disyukuri, mengingat saat awal pembentukan klub ini, masyarakat Hannover tidak begitu tertarik pada sepakbola. Ketertarikan terbesar mereka adalah pada olahraga atletik dan rugbi.

***

Hannover 96 awalnya bernama Hannoverscher Fußball-Club 1896, didirkan oleh Ferdinand-Wilhelm Fricke. Ia merupakan pemilik sebuah klub rugby bernama Deutscher FV 1878 Hannover.

Pada 1913, Hannoverscher FC menggabungkan diri dengan klub Ballverein 1898, lantas mereka menamakan diri sebagai Hannoverscher Sportverein 1896.

Penggabungan ini juga menjadi titimangsa Hannover identik dengan jersey kebesaran berwarna merah.

Sebelumnya, warna jersey yang digunakan oleh Hannoverscher FC adalah biru; sementara Ballverein 1898 identik dengan warna merah. Akhirnya disepakati bahwa jersey kebesaran yang akan digunakan oleh Hannoverscher Sportverein 1896 adalah warna merah—warna kebesaran mereka yang bertahan hingga kini dan melahirkan julukan “Die Roten” atau “Si Merah”.

Hannoverscher Sportverein 1896 memainkan penampilan reguler mereka di babak playoff nasional pada awal 1900. Akan tetapi, Hannover tidak dapat mengatasi perlawanan Eintracht Braunschweig. Kekalahan atasBraunschweig ini melahirkan bibit rivalitas di antara kedua tim ini yang bertahan hingga sekarang.

Pada 1938 Hannover memenangi gelar Liga Jerman pertama mereka. Saat itu mereka berhasil mengalahkan Schalke 04 di final. Pencapaian ini terbilang luar biasa bagi mereka, karena mereka telah mengalahkan Schalke 04 yang mana di masa itu merupakan tim yang sangat dominan di Jerman.

Setelah sempat dibubarkan usai Perang Dunia II, Hannover dibentuk kembali pada 1946. Setahun setelahnya, mereka tampil kembali di Liga Jerman. Penampilan Hannover pasang-surut, beberapa kali mereka harus terdegradasi ke divisi bawah.

Hannover 96 juga tidak ikut serta di kompetisi baru bernama Bundesliga pada 1963. Di tahun tersebut, mereka berkompetisi di divisi bawah bernama Regionalliga Nord (II). Namun setahun setelahnya, Hannover mampu promosi ke Bundesliga.

Saat berhasil promosi ke Bundesliga pada 1964, Hannover mendapat sambutan antusias dari para pendukungnya. Pertandingan kandang mereka di Bundesliga ketika itu rata-rata disaksikan oleh sekitar 46 ribu penonton.

Hannover hanya bertahan selama sepuluh tahun di Bundesliga. Pada 1974, mereka kembali terdegradasi ke divisi dua.

Klub tersebut sempat mengalami krisis keuangan pada awal 1990-an. Namun, di tengah krisis itu, mereka mampu meraih gelar turnamen DFB-Pokal pada 1992. Keberhasilan meraih gelar DFB-Pokal cukup membantu keuangan mereka ketika itu. Sesudah itu, seperti sebelum-sebelumnya, Hannover beberapa kali jatuh ke divisi bawah.

Perubahan besar terjadi pada 1997. Ketika itu seorang pengusaha sukses bernama Martin Kind menjabat sebagai Presiden klub. Investasi besar yang diberikan oleh Kind kepada Hannover, turut berdampak pada penampilan Hannover yang saat itu mendekam di divisi ketiga.

Perlahan Hannover merangkak naik dengan promosi ke divisi dua, lalu pada 2002 Hannover kembali berhasil tampil di Bundesliga. Berkat kontribusinya kepada klub, saat itu Martin Kind—berbeda dengan saat ini—begitu dicintai oleh suporter Hannover. Saat Kind mengundurkan diri dari jabatan Presiden klub pada musim 2005/06, banyak suporter Hannover 96 memintanya kembali. Hingga akhirnya, tak sampai satu tahun sejak ia memutuskan mundur, Kind kembali menjabat sebagai Presiden klub.

Salah satu kejadian yang mungkin saat ini masih segar dalam ingatan kita tentang Hannover 96, adalah ihwal kematian kiper mereka, Robert Enke, pada 2009. Saat itu Enke meninggal dunia karena bunuh diri dengan menabrakkan dirinya ke kereta api ekspres yang sedang melaju.

Istrinya, Teresa, mengatakan bahwa Enke sedang mengalami depresi berat sejak enam tahun terakhir, dan tengah dalam masa perawatan bersama seorang psikiater. Depresi yang diderita Enke bermula saat ia ditinggalkan oleh putri kesayangannya yang meninggal dunia, Lara. Sejak saat itu, Enke berjuang untuk berdamai dengan kehilangan—namun ia tak mampu hingga akhirnya memilih untuk mengakhiri hidupnya.

Usai berita kematiannya tersebar, suporter Hannover berbondong-bondong menuju ke Stadion AWD-Arena. Mereka membawa lilin serta karangan bunga untuk mengekspresikan rasa belasungkawa mereka. Selain itu, duka atas kematian Enke juga dirasakan oleh banyak kalangan. Tim Nasional Jerman sampai membatalkan jadwal laga persahabatan mereka melawan Tim Nasional Chile, yang semula akan digelar pada 14 November 2009.

Banyak sekali orang hadir saat upacara pemakaman Enke digelar. Peti mati Enke juga turut dibawa oleh enam orang dari rekan setimnya di Hannover 96. Sebagai bentuk penghormatan terakhir, Hannover 96 memutuskan untuk menampilkan nomor punggung 1 di depan jersey mereka sepanjang sisa musim 2009/10. Keputusan mereka itu mendapat persetujuan dan dukungan dari federasi sepakbola Jerman.

Selanjutnya, pada musim 2010/11, Hannover 96 sempat menduduki peringkat keempat di akhir musim. Hal tersebut merupakan catatan prestasi tersendiri bagi Hannover karena berkat itu, mereka berhasil lolos ke kualifikasi ajang Eropa untuk pertama kalinya sejak 19 tahun.

Musim 2015/16 lagi-lagi Hannover 96 terdegradasi ke divisi dua. Sebelum akhirnya—usai mendatangkan Andre Breitenreiter sebagai pelatih baru di pertengahan musim—mereka berhasil kembali ke Bundesliga di musim 2017/18.

***

Bisa kembali tampil di Bundesliga seharusnya menjadi hal yang membanggakan bagi para suporter Hannover 96. Selain itu, bisa kembali melihat Hannover 96 tampil di divisi tertinggi kompetisi sepakbola Jerman, seharusnya dapat membuat dukungan mereka untuk Hannover 96 semakin besar.

Namun para suporter nyatanya tidak terpukau dengan semua itu. Dengan besarnya gelombang protes yang mereka tunjukkan di laga kandang pertama Hannover 96 di musim ini, adalah bukti bahwa bagi mereka, kepemilikkan klub yang demokratis lebih mendesak untuk dijaga dibanding larut dalam euforia hanya karena Hannover bisa kembali tampil di Bundesliga.

Amat bisa jadi pengalaman beberapa kali terdegradasi ke divisi bawah, telah membentuk rasa cinta suporter kepada Hannover 96 bukan terletak pada seberapa besar prestasi yang bisa klub mereka raih. Tetapi pada seberapa besar Hannover 96 dapat mengakui dan menghargai keberadaan mereka.

Komentar