Ebbsfleet United dan Pelajaran Jika Suporter Sebaiknya Tidak Menjadi Pemilik Kesebelasan

Backpass

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Ebbsfleet United dan Pelajaran Jika Suporter Sebaiknya Tidak Menjadi Pemilik Kesebelasan

Siapa yang memiliki kedudukan tertinggi di sebuah kesebelasan? Apakah pemain, manajer, pelatih kepala, pemilik kesebelasan (owner), presiden kesebelasan (chairman), atau suporter? Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, kita semua tahu suporter memiliki peran penting di kesebelasan. Tanpa suporter, kesebelasan tidak akan bisa hidup.

Namun, itu persepsi umum kita. Membicarakan suporter tidak akan selesai dalam satu artikel seperti ini. Akan tetapi, jika ada satu contoh kejadian yang menggambarkan betapa pentingnya kedudukan suporter pada kesebelasan, kita bisa belajar banyak dari Ebbsfleet United.

Pada 23 Januari 2008, kesebelasan asal Northfleet (Inggris) ini dibeli oleh komunitas suporter daring (online).

Bukan hanya menjadi pemilik, kelompok suporter tersebut juga memiliki wewenang untuk memilih susunan sebelas pemain utama serta taktik yang digunakan. Benar-benar seperti bermain fantasy football atau gim Football Manager.

Itu adalah pertama kalinya sebuah klub sepakbola dibeli, dimiliki, dan kemudian dijalankan oleh komunitas online. Saat itu, Ebbsfleet berstatus sebagai kesebelasan profesional yang bermain di non-liga, tepatnya di divisi kelima piramida sepakbola Inggris (saat itu adalah Blue Square Premier, saat ini lebih dikenal dengan National League atau Conference).

Sementara itu, syarat bagi suporter yang ingin menjadi bagian dari pemilik kesebelasan ini hanya kesediaan membayar 35 paun (sekitar 637 ribu rupiah pada 2008).

“Own the club, pick the team”

Will Brooks, seorang suporter Fulham (bukan Ebbsfleet), adalah penggagas ide besar ini dengan meluncurkan situs web myfootballclub.co.uk di mana ia melakukan urun dana (crowdfunding).

“Aku meluncurkan situs web itu hanya spekulatif murni,” kata Brooks, dikutip dari The Guardian. “Saat itu adalah hari-hari di mana kamu mengirim surel (email) kepada teman-temanmu mengenai tautan dan hal lainnya. Aku mengirim ke sekitar 10 teman, yang secara teori kemudian mengirimkannya lagi ke 10 teman mereka lainnya. Kamu tidak melakukannya di WhatsApp atau Facebook”

“Beruntung, yang membuat itu bisa menjamur adalah karena situs web BBC Football memilihnya sebagai bahan cerita mereka. Setelah itu, aku tidak pernah melihat ke belakang lagi.”

Situs MyFootballClub memiliki konsep yang to the point, yaitu “Miliki kesebelasan, pilih tim” (Own the club, pick the team). Dalam tiga bulan, ada 53.000 orang yang terdaftar dari seluruh dunia.

MyFootballClub diluncurkan pada 2006, membawa kabar gembira untuk para fans yang mau menjadi pemilik kesebelasan (Sumber: Daily Mail)

“Aku me-refresh akun PayPal aku dan setiap lima detik, pasti ada saja tiga atau empat ribu paun (sekitar 55 sampai 73 juta rupiah memakai konversi saat itu) bertambah di situ. Tapi aku khawatir apakah itu cukup untuk membeli sebuah kesebelasan.”

“Luar biasanya, dalam 24 jam kami mendapatkan 250 ribu paun dan setelah 10 hari kami memiliki setengah juta [paun].”

Setelah mengetahui hal tersebut, baru lah mereka menghubungi banyak kesebelasan yang bersedia untuk dibeli, dimiliki, dan dikontrol. “Aku pikir kami berbicara kepada sekitar 12 pemilik kesebelasan yang berbeda yang menginginkan kami untuk melunasi utang mereka dan mengambil alih kesebelasan.”

Brooks kemudian mencoba mencari satu kesebelasan yang tepat. Halifax Town, Leigh RMI, dan Mansfield Town adalah tiga kesebelasan yang masuk kepada pertimbangan. Meski banyak anggota MyFootballClub saat itu bermimpi menyelamatkan kesebelasan bersejarah di Inggris seperti Leeds United dan Nottingham Forest, tapi saat itu tidak cukup banyak uang yang secara realistis bisa mewujudkannya.

Pada akhirnya, Ebbsfleet masuk ke dalam banyak kategori yang Brooks pertimbangkan. Pada November 2007 MyFootballClub secara resmi menyatakan tertarik membeli Ebbsfleet.

Tiga bulan berikutnya, negosiasi rampung dengan 95,89% anggota Ebbsfleet sebelumnya setuju jika kesebelasan mereka diambil alih oleh sekelompok suporter online dengan harga 635 ribu paun (sekitar 11,6 miliar rupiah pada saat itu).

Langsung juara FA Trophy

Pengambilalihan Ebbsfleet berjalan lancar. Lebih dari 30.000 orang yang tersebar di 120 negara menjadi pemilik baru kesebelasan yang berdiri pada 1946 tersebut.

“Kami memiliki 2.000 orang dari Amerika, 500 dari Australia, dan 400 dari Norwegia, orang-orang yang belum pernah menonton Ebbsfleet sebelumnya. Namun mereka sangat menikmati pengalaman ini,” kata Brooks, dikutip dari The Telegraph.

Liam Daish, eks pemain Republik Irlandia yang pernah bermain di Birmingham City dan Coventry City, meneruskan jabatannya sebagai manajer.

“Kesan pertamaku baik. Mereka orang-orang baik dan jelas ingin aku mengerti apa yang mereka lakukan,” kata Daish, dikutip dari The Guardian. “Itu hal yang sangat baru. Belum pernah ada seorangpun yang melakukannya. Sangat menarik, mereka punya rencana besar.”

Will Brooks (kiri) dan Liam Daish (kanan) pada saat pengambilalihan kesebelasan (Sumber: The Independent/REX/Shutterstock)

Masalahnya, salah satu hal yang dijanjikan MyFootballClub saat urun dana adalah jika anggota kelompok suporter bisa menentukan susunan sebelas pemain utama dan taktik, tugas yang seharusnya menjadi jobdesc Daish sebagai manajer.

Untungnya, masalah ini tidak pernah berbentrokan karena kebanyakan dari mereka tidak mengetahui situasi di kesebelasan non-liga tersebut. Setiap pekan sebenarnya para anggota melakukan voting untuk menentukan siapa yang berhak memilih susunan pemain: mereka atau manajer; dan mereka selalu memilih Daish.

Hal menjadi sangat ramai karena pembelian ini adalah peristiwa bersejarah. Suporter Ebbsfleet sendiri kebanyakan senang dengan hal ini, karena kesebelasan mereka dibebaskan dari utang. Namun, keramaian tersebut juga menimbulkan skeptisme karena banyak yang tidak yakin dengan konsep ini, yaitu kesebelasan yang dimiliki oleh kelompok suporter online.

Akan tetapi, semua berjalan lancar bagi Ebbsfleet. Mereka bahkan berhasil menjuarai FA Trophy (Piala FA khusus untuk kesebelasan divisi 5 sampai 8 Inggris) beberapa bulan setelah pengambilalihan kesebelasan.

Ebbsfleet menjadi juara FA Trophy di depan 40.186 penonton di Stadion Wembley, mengalahkan Torquay United 1-0 (lihat gambar fitur paling atas). Selanjutnya, mereka finis di posisi ke-11 di Conference musim 2007/08.

Bangkrut karena awalnya hanya “lapar mata”

Kisah Ebbsfleet United yang dibeli oleh kelompok suporter online seolah menjadi impian setiap kesebelasan.

Namun, hal buruk mulai terjadi. Setelah hingar-bingar pembelian bersejarah, juara FA Trophy, dan musim yang cukup sukses, MyFootballClub kehilangan banyak anggotanya. Dari awalnya lebih dari 50.000 anggota, lalu menyusut ke 30.000 anggota, kemudian hanya sekitar lima ribu orang yang secara rutin membayar 35 paun.

Kas yang kering ini membuat kesebelasan kemudian terpaksa mengurangi gaji Daish sebagai manajer, menunda desain seragam baru, dan bahkan menjual penyerang menjanjikan didikan akademi mereka sendiri, John Akinde (saat ini berusia 28 tahun, bermain di Barnet, dan sudah mencetak 129 gol sepanjang kariernya).

Mimpi besar kemudian mulai padam. Pada musim 2012/13, anggota MyFootballClub menyusut menjadi 1.300 saja. Kesebelasan kehilangan banyak uang. Kemenangan bukan lagi menjadi prioritas.

“Kami mungkin berada di posisi yang lebih miskin daripada saat kami belum membeli kesebelasan ini,” kata Brooks, yang melaporkan jika hanya ada dana 4.500 sampai 5.000 paun (sekitar 70 sampai 78 juta rupiah) per pekan pada 2012/13.

Stonebridge Road, Northfleet, kandang Ebbsfleet United (Sumber: The Blizzard)

Pada April 2013, para anggota MyFootballClub kemudian resmi menyerahkan dua per tiga saham kepada Fleet Trust. Tidak lebih dari satu bulan, investor asal Kuwait, KEH Sports Ltd, mengambil alih kesebelasan dan masih menjadi pemilik sampai hari ini.

“Salah satu kesimpulan terbesarku adalah ide ini lebih menarik daripada realitanya,” kata Brooks, mencoba memberikan kita pelajaran. “Aku pikir orang-orang suka ide ini, media suka ide ini, tapi ketika kamu mengumumkan kamu membeli sebuah klub di non-liga dan tidak ada seorang pun yang pernah mendengar para pemainnya, orang-orang mulai abai.”

“MyFootballClub menjadi tidak disambut di Ebbsfleet ketika kantung kami mulai kering. Ketika kami hadir membawa antuasiasme dan finansial, itu baik-baik saja. Tapi sesegera ketika kami kehabisan uang, itu mulai menjadi lebih sulit.”

Seolah tidak kapok, MyFootballClub saat ini masih berkecimpung di dunia sepakbola dengan menjadi sponsor (bukan pemilik) Slough Town, sebuah kesebelasan semi-profesional yang sekarang bermain di Southern League Premier Division (divisi 7 dan 8 sepakbola Inggris).

***

Pada kenyataannya, memiliki dan menjalankan kesebelasan tidak semudah yang kita bayangkan. Terutama mungkin kita sebagai suporter yang seringkali mengagung-agungkan posisi kita di sebuah kesebelasan.

Jika suporter sudah menjadi pemilik dan pengatur kesebelasan, banyak hal akan menjadi tidak seindah yang dibayangkan, apalagi jika sudah melibatkan uang. Bahkan patungan atau urun dana (crowdfunding) belum tentu bisa menyelesaikannya. Manajemen sepakbola ternyata pelik.

Satu hal yang menjadi titik lemah dari kasus Ebbsfleet United di atas memang karena kebanyakan pemilik kesebelasan yang tergabung di kelompok suporter online tersebut bukan merupakan suporter Ebbsfleet sungguhan.

Setidaknya Ebbsfleet mengajarkan kepada kita jika suatu mimpi besar harus dibarengi dengan antusiasme dan perencanaan keuangan yang matang dan berkelanjutan.

Sumber: The Blizzard, The Guardian, The Telegraph, BBC Football, MyFootballClub

Komentar