Tony Pulis (dan Filosofi) yang Menyebalkan

Editorial

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Tony Pulis (dan Filosofi) yang Menyebalkan

Apa yang paling menyebalkan dari sepakbola? Menyaksikan kesebelasan dengan permainan medioker menang? Atau melihat pemain andalan cedera? Dua hal itulah yang dirasakan Manajer Liverpool, Juergen Klopp.

Seusai pertandingan menghadapi West Bromwich Albion, Klopp langsung menuju ruang ganti. Ia tak melakukan ritual yang biasa dilakukan manajer pada umumnya: berjabat tangan dengan manajer lawan. Sebelumnya, Klopp dikabarkan tidak mau bersalaman karena memang tak melihat Manajer WBA, Tony Pulis.

“Saya tidak berjabat tangan dengan Tony Pulis, (karena) saya tidak melihatnya,” ucap mantan Manajer Borussia Dortmund tersebut.

Di sisi lain, Liverpool Echo menulis Klopp mulai terlihat marah usai tekel pemain WBA, Craig Gardner, mencederai lutut bek Liverpool, Dejan Lovren. Lovren pun mesti ditandu keluar lapangan.

“Kami tidak tahu banyak soal cedera tersebut. Kami harap cedera tersebut tidak terlalu serius. Kami mesti menunggu untuk hasil scan. Apapun bisa terjadi dalam situasi seperti ini,” tutur Klopp, “Biasanya saya berjabat tangan. Hari ini tidak. Ini bukan friendly game, semua orang  melihat itu. Saya berharap yang terbaik untuknya.”

Tentang Tony Pulis, Si Medioker

Kami pernah menulis bahwa Tony Pulis mewarisi gaya bermain kick n’ rush ala Inggris. Positifnya, ia membawa atmosfer gaya permainan Inggris yang dikenal dengan umpan-umpan panjang. Negatifnya, permainan dengan gaya tersebut sudah tak cukup ampuh di masa seperti sekarang; tak cukup ampuh melawan tim kuat, dan tak cukup ampuh menarik simpati penonton untuk menyaksikan tanpa ketiduran.

Untuk stabil di papan tengah klasemen, capaian Pulis terbilang luar biasa. Bukan apa-apa, dengan cara bermain seperti itu, agaknya sulit untuk bisa konsisten memenangi atau meraup poin dari setiap pertandingan. Bisa saja, saat menghadapi kesebelasan besar, mereka menang. Namun, saat menghadapi kesebelasan yang kekuatannya jauh di bawah, mereka justru kalah.

Pulis sebenarnya identik dengan Stoke City. Ia pernah menangani kesebelasan yang bermarkas di Stadion Britannia tersebut selama dua masa.

Masa pertama Pulis dilalui dengan tidak mulus. Ia menangani Stoke City pada November 2002. Pulis mendapatkan pekerjaan di Stoke karena manajer Stoke kala itu, Steve Cotterill, mengundurkan diri. Tentu, Steve bukannya tanpa alasan. Di tangannya, Stoke justru terjerembab di jurang degradasi Divisi Championship. Banyak orang bilang bahwa Stoke tak akan mungkin diselamatkan.

Manajemen Stoke lantas mencari pengganti Steve. Pilihan utama bukan jatuh pada Pulis melainkan George Burnley, mantan pemain timnas Skotlandia. Namun, di menit-menit akhir, Burnley menolak tawaran tersebut. Manajemen pun mau tak mau menyodorkan kontrak kepada Pulis, si manajer yang pernah menangani kesebelasan semacam Bournemouth, Gillingham, dan Bristol City.

Dilansir dari BBC, mayoritas penggemar Stoke justru menolak kehadiran Pulis, “Ya, dia adalah orang yang tepat, untuk membawa Stoke ke Divisi Dua,” kata Port Vale dari Irlandia.

“Itu adalah keputusan murahan dari manajemen Stoke. Kapan mereka akan belajar?” ucap Simon Lea.

Namun, segala ucapan tersebut tak membuat Pulis patah arang. Ia justru bisa membalikkan prediksi banyak orang dengan menyelamatkan Stoke dari degradasi pada musim tersebut.

Pada musim selanjutnya, capaian Pulis kian meningkat. Ia membawa Stoke City pada peringkat ke-11 klasemen. Namun, karena permasalahan internal di tingkat manajemen, Pulis pun dipecat pada 28 Juni 2005.

Perubahan di manajemen, dengan masuknya Peter Coates sebagai pemilik klub, memberi angin segar buat Stoke. Mereka berhasil lolos ke Premier League pada akhir musim 2007/2008 setelah finis di peringkat kedua klasemen sementara.

Selanjutnya, Pulis mengarungi Premier League bersama Stoke City. Ia menjadi manajer pertama Stoke yang mampu membawa timnya lolos hingga babak final Piala FA 2010/2011, yang juga membawa mereka ke Europa League.

Namun, karena tidak adanya kemajuan yang ditunjukkan, Pulis pun dipecat pada 21 Mei 2013. “Saya bangga dengan apa yang telah kami raih di petualangan yang hebat ini,” tutur Pulis dikutip BBC, “Saya mengerti dewan klub ingin membawa klub ke arah yang berbeda.”

Pulis kemudian sempat menangani Crystal Palace sejak November 2013 hingga Agustus 2014. Ia memutus kontrak karena tidak setuju dengan kebijakan transfer klub. Pada awal tahun ini, Pulis ditunjuk sebagai pelatih West Bromwich Albion.

Ada kesamaan saat Pulis menangani sebuah klub. Sejak di Stoke, Palace, dan West Brom, ia menangani kesebelasan yang “bermasalah” terutama soal prestasi. Hebatnya, ia tak pernah membawa mereka terdegradasi! Namun, ada pula permasalahan yang membuat Pulis keluar dari klub: dana transfer. Ya, kesebelasan semenjana umumnya dihuni oleh para pemain yang kualitasnya sulit bersaing terutama dengan kesebelasan papan atas.

Pembelian pemain menjadi salah satu faktor kunci buat Pulis. Dengan permainan bola-bola panjang, dibutuhkan tipikal pemain yang mampu mengirimkan bola dengan akurat, serta pemain depan yang mampu menahan bola dan mencetak gol. Ini yang barangkali membuat dia lebih memilih untuk mundur saat klub tak mampu mengakomodasi keinginannya.

Sebagai pelatih, tak ada satupun gelar yang pernah ia berikan buat klub. Satu-satunya prestasi tertinggi adalah mencapai babak final Piala FA. Sementara itu, semenjak melatih Crystal Palace, ia sudah dua kali dinobatkan sebagai Premier League Manager of the Month pada April 2014 dan Februari 2015. Pada musim 2013/2014 ia pun dinobatkan sebagai Premier League Manager of the Season.

Baca juga: Mengapa Tony Pulis Dianugerahi Manager of the Season? Baca di sini.

Pulis Si Membosankan

November bulan lalu, saat semua orang membicarakan tentang Jamie Vardy dan Leicester City yang berjaya di puncak klasemen, Pulis justru bicara soal kandidat juara musim ini. “Arsenal adalah kesebelasan yang luar biasa. Buat saya, mereka selalu menjadi kesebelasan yang spesial. Mereka memiliki kesempatan besar musim ini untuk menjuarai liga,” tutur Pulis.

Kecuali penggemar Arsenal, semua yang mendengar komentar Pulis tersebut bisa saja berkerut. Bukannya apa-apa, berita tentang Arsenal justru lebih nyaring soal bagaimana para pemain kunci mereka cedera. Memang, Arsenal adalah tim kuat yang punya kans untuk juara, tapi memenangkan liga hanya dengan pemain pelapis membutuhkan kerja keras dan keberuntungan yang luar biasa.

Selain itu, Pulis pun bercerita kalau ia ditelepon oleh seorang manajer muda yang ingin melatih dan bermain dengan filosofi. “Saya menyela dan berkata padanya, ‘Lupakan tentang filosofi. (Yang paling penting) kamu harus memenangkan pertandingan, kawan,” kata Pulis dikutip dari SkySports.

Pulis memang benar-benar membosankan. Saat pelatih lain bicara banyak soal filosofi permainan, ia justru menolak untuk memakai filosofi sebagai basis permainan. Padahal, apa yang ia lakukan selama ini adalah buah dari filosofinya sendiri: sebuah permainan bola-bola panjang nan menjemukan.

“Kalau Anda menjadi manajer di Premier League, tekanannya akan semakin besar jika Anda tak memenangkan pertandingan. Anda tak akan bertahan lama. Di industri kami, segalanya adalah tentang 90 menit dan mendapatkan tiga poin, sesimpel itu,” kata Pulis.

Apa yang diucapkan Pulis sejatinya merupakan bagian dari filosofinya sendiri. Persoalannya, sepakbola seperti di Premier League adalah bagian dari industri yang tidak akan menuntut apa-apa selain kemenangan dan raihan gelar juara. Tak masalah Anda bermain buruk asalkan Anda menang.

Hal tersebut diyakini benar oleh Pulis karena ia pernah merasakan bagaimana pahitnya dipecat dengan alasan “tidak berkembang”. Padahal, ia juga tahu kalau sebenarnya sudah bertahan di Premier League sekalipun adalah prestasi yang membanggakan karena Premier League adalah tambang uang.

Menjadi wajar jika dalam setiap pertandingan Pulis hanya ingin meraup tiga poin, tak peduli bagaimana timnya bermain. Untuk apa bersusah-susah dan berlama-lama menguasai bola, kalau masih tak juga menang?

Saat kalah 0-2 dari MU, West Bromwich Albion hanya bergerak di area pertahanan mereka sendiri. Namun, kenyataannya mereka masih bisa melepaskan empat tendangan ke gawang. Sepekan setelahnya, dengan penguasaan bola hanya 28 persen dan total empat tendangan, mereka bisa menang 2-1 atas Arsenal.

Kesebelasan manapun tentu malas menghadapi West Bromwich Albion. Memang, tak punya kualitas pemain untuk mengalahkan Arsenal, tapi faktanya Arsenal tetap saja kalah. Pun dengan Liverpool. Pulis barangkali tak sejenius Juergen Klopp, tapi ia bisa membuat Liverpool ketinggalan 1-2 di waktu normal.

Ini yang membuat Tony Pulis dengan segala filosofinya itu menyebalkan. Namun, seperti yang diucapkan Pulis, di industri sepakbola seperti ini, kemenangan adalah segalanya tak peduli filosofi apapun yang digunakan. Buat penulis, justru permainan dengan terus menerus menguasai bola tanpa bisa membuat peluang, itulah permainan yang membosankan.

Baca juga:

Permainan Defensif di Industri Sepakbola

Tidak ada yang salah dengan permainan defensif


Jadi, kesebelasan Anda masih punya filosofi?

foto: telegraph.co.uk

Komentar