Tentang Prinsip Ki Hajar Dewantara yang Wajib Dimiliki Setiap Kapten

Editorial

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Tentang Prinsip Ki Hajar Dewantara yang Wajib Dimiliki Setiap Kapten

Pada tanggal 2 Mei, hari ini, selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Tanggal ini dipilih sebagai Hardiknas karena bertepatan dengan hari lahirnya Ki Hajar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan Indonesia yang merupakan pendiri lembaga pendidikan Taman Siswa pada 3 Juli 1922.

Taman Siswa yang pada awal didirikannya bernama National Onderwijs Institut Taman Siswa ini memiliki tiga prinsip yang wajib diemban oleh gurunya: ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Tiga prinsip yang dikemukan oleh Ki Hajar Dewantara inilah yang kemudian diwajibkan menjadi pedoman bagi para pendidik-pendidik di Indonesia.

Dalam sepakbola, tiga prinsip di atas sangat mencerminkan sikap yang harus dimiliki oleh seorang kapten kesebelasan. Karena peran kapten kesebelasan tentunya bukan hanya sebagai orang yang memimpin rekan-rekannya ketika memasuki lapangan atau mewakili kesebelasan dalam coin toss, seorang kapten tentunya harus memberikan contoh yang baik bagi rekan-rekan setimnya.

Ing Ngarsa Sung Tulada (Di Depan Memberi Teladan)

Seorang kapten tak boleh memiliki sikap yang buruk di atas lapangan. Perilaku seorang kapten ketika menjalani pertandingan harus menjadi inspirasi bagi rekan-rekannya untuk tampil lebih baik.

Seorang kapten harus tetap tenang dan dingin. Ia harus bisa membuat rekan-rekannya tetap fokus menjalani pertandingan dan tetap menjalankan strategi yang diinstruksikan pelatih. Apalagi jika pertandingan berlangsung panas dan bertensi tinggi, kapten harus bisa menenangkan rekan-rekannya yang terpancing emosi.

Pun begitu ketika wasit dianggap bertindak kurang adil. Protes boleh dilakukan asal dalam batas yang wajar. Ketika pemain lain tidak puas akan keputusan wasit dan coba menyerang wasit, kapten harus bisa mengendalikan rekan-rekannya agar pemain tersebut tak mendapatkan hukuman kartu.

Saya masih ingat bagaimana bek Arema Cronus pada musim 2012-2013, Thierry Gatthuessi saat itu merasa tidak puas dengan keputusan wasit Handri Kristanto yang memimpin laga antara Arema melawan tuan rumah Persib Bandung. Ia hendak menyerang wasit. Namun kapten Arema saat itu, Greg Nwokolo, langsung menghalanginya.

Kemudian Greg bersitegang dengan Thierry. Pertandingan pun sempat terhenti sejenak atas insiden pelanggaran yang dilakukan Thierry pada Sergio van Dijk. Namun akhirnya, Greg mampu menenangkan Thierry, pertandingan pun bisa kembali dilanjutkan walau pada akhirnya Arema tetap harus ditundukkan Persib dengan skor 0-1.

Ing Madya Mangun Karsa (Di Tengah Membangun Kemauan atau Inisiatif)

Pada sebuah pertandingan, seorang kapten di lapangan tentunya harus lebih paham mengenai taktik dan strategi yang digunakan pelatihnya dibanding pemain lain. Dan ketika memimpin rekan-rekannya, kapten pun harus bisa membuat rekan-rekannya tetap bermain dengan instruksi pelatih.

Kapten tentunya bukan hanya seorang pemain dengan ban yang melingkar di lengannya, tapi ia pun harus memberikan instruksi pada rekan-rekannya, tak terkecuali dalam perihal strategi. Ia harus terus berinisiatif agar permaianan kesebelasannya bisa terus lebih baik.

bak kapten yang melingkar di lengan. (via: authentic soccer)
bak kapten yang melingkar di lengan. (via: authentic soccer)

Setelah memahami taktik yang diberikan pelatih, seorang kapten akan memberikan instruksi pada rekannya untuk, misal, (posisinya) tidak terlalu naik, (posisinya) tidak terlalu mundur, mengoper ke area tertentu, bermain merapat, bermain melebar, dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, tak jarang pemain yang dianggap lebih mengerti dalam urusan taktik akan ditunjuk sebagai kapten kesebelasan.

Antonio Conte adalah kapten Juventus pada periode 1996 hingga 2001. Lantas ketika menjadi pelatih, Conte yang pengetahuan taktiknya semakin matang memberikan tiga gelar scudetto secara beruntun bagi Juve. Ini setidaknya menunjukkan bahwa seorang kapten pun harus memiliki kemampuan berlebih mengenai pemahaman tentang taktik.

Selain Conte, nama-nama pelatih seperti Pep Guardiola dan Carlo Ancelotti adalah contoh lain pelatih top yang ketika masih bermain merupakan kapten kesebelasan. Pep menjadi kapten Barcelona pada 1997 hingga 2001. Sementara Ancelotti, menjadi kapten AS Roma pada periode 1984-1987.

Dari sini bisa disimpulkan jika seorang kapten pun harus memiliki pemahaman taktik berlebih. Dengan pemahaman taktik tersebut, ia bisa berinisiatif dalam mengambil keputusan dengan tepat: kapan menginstruksikan rekan-rekannya untuk, misalnya, menyerang atau pun bertahan.

Tut Wuri Handayani (Dari Belakang Memotivasi)

Ketika berada di atas lapangan, seorang kapten tentunya tak boleh melemahkan mental rekan setimnya. Justru sebaliknya, seorang kapten harus terus mendukung rekan-rekannya untuk terus bermain lebih baik, bahkan dalam situasi skor tertinggal sekalipun.

Saat dalam keadaan tertinggal, seorang kapten tetap harus tampil dengan penuh motivasi. Mentalitas seorang kapten tentunya akan diuji pada situasi tersebut. Jika ia bisa membuat rekan setimnya tetap tampil penuh motivasi, hasil positif pun semakin tak mustahil untuk diraih.

Tut Wuri Handayani sendiri memiliki arti dari belakang (tut wuri) memotivasi atau dorongan (handayani). Jika artian di belakang pada arti tut wuri handayani di atas mengacu pada arti sebenarnya, maka tak heran mengapa banyak kapten kesebelasan yang berposisi di belakang.

Ya, tak sedikit kapten kesebelasan yang berposisi sebagai pemain belakang atau bahkan penjaga gawang. Dari belakang, ia memberikan arahan bagi rekan-rekannya. Keuntungan menjadi pemain yang berada paling belakang sendiri bisa melihat seluruh situasi yang ada di depan, para pemain yang memiliki tugas mencetak gol.

Carles Puyol, Iker Casillas, Fabio Cannavaro, Gianluigi Buffon, atau John Terry adalah sedikit contoh pemain yang berposisi sebagai pemain belakang ataupun kiper. Kepemimpinan mereka tak perlu diragukan lagi. Berkat kapabilitas mereka dalam memotivasi rekan-rekannya, sejumlah prestasi pun bisa mereka raih bersama kesebelasan yang mereka bela masing-masing.

(via: uefa.com)
(via: uefa.com)

***


Dari sini dapat kita lihat bahwa menjadi kapten kesebelasan bukanlah perkara mudah, atau tengok saja apa yang dialami Harry Kane beberapa waktu lalu. Tanggung jawab besar begitu dipikulnya karena hasil akhir yang akan diterima kesebelasan yang ia bela pada sebuah pertandingan bisa jadi ada di tangannya.

Namun bagi nama-nama yang telah disebutkan di atas, menjadi kapten kesebelasan bukan lah beban berat yang harus dipikul pada setiap pertandingan. Justru sebaliknya, mereka akan berusaha keras untuk menjawab kepercayaan pelatih yang menunjuknya sebagai jenderal lapangan dengan kemenangan bagi kesebelasan yang ia bela.

Karenanya, akan lebih baik seorang kapten memiliki sikap seperti dalam tiga slogan yang diungkapkan bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, di atas. Jika kapten kesebelasan bisa memahami dan mengaplikasikannya dengan baik, prestasi entah itu bagi dirinya sendiri atau pun bagi kesebelasan yang ia bela takkan mustahil untuk diraih.

foto: alibaba.com

Komentar