Selalu Raup Untung, Everton Tak Akan Pernah Juara?

Editorial

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Selalu Raup Untung, Everton Tak Akan Pernah Juara?

Musim lalu, Everton meraup keuntungan lebih dari 28 juta pounds. Sebanyak 29 persen pendapatan berasal dari bertambahnya kas hingga 120,5 juta pounds. Ditambah lagi keuntungan dari hak siar sebesar 88,5 juta pounds.

Jumlah ini memang terbilang amat kecil jika dibandingkan pendapatan United yang mencapai 420 juta pounds. Namun, jika membandingkan secara prestasi, nilai sejarah, dan jumlah fans, keuntungan yang diterima Everton terbilang besar.

Perpindahan pemain menjadi salah satu faktor bagaimana Everton dapat meraup untung sebesar itu. Marouane Fellaini, Victor Anichebe, dan Nikica Jelavic, meninggalkan Goodison Park di awal musim. Sementara itu, Arouna Kone, Joel Robles, Antolin Alcaraz, James McCharty, dan Aiden McGeady masuk.

Musim lalu, pelatih Everton, Roberto Martinez membawa timnya berada di peringkat lima dengan jumlah poin mencapai 72. Sang pemilik, Bill Kenwright tidak dapat menyembunyikan rasa sukacitanya, karena 72 poin adalah nilai yang terbesar, selama ia menjabat sebagai pemilik klub.

Klub juga mengurangi nilai utang dari 45,3 juta pounds menjadi 28,1 juta pounds. Everton pun mencatatkan pendapatan dari tiket pertandingan sebesar 1,9 juta pounds, dan dari sponsorship, iklan, dan pernak-pernik naik dari 7,6 juta pounds menjadi 8,4 juta pounds.

Namun, jika diperhatikan sejak era milenium baru, tidak ada tim yang bisa menjadi juara Liga Inggris, kecuali mereka yang memiliki tradisi juara di liga, atau... punya uang banyak.

Sejak tahun 2000, hanya Arsenal, Manchester United, Chelsea, dan Manchester City yang pernah menjadi juara. United punya sejarah kuat di era Premier League, dan tentu saja kekuatan finansial yang terbesar di Inggris. Sementara itu, Arsenal selalu bercokol di peringkat empat besar.

Dua tim yang disebut terakhir, sebenarnya bukanlah tim yang memiliki tradisi juara, bahkan di era sebelum Premier League. Chelsea hanya sekali juara pada 1954/1955, sementara Manchester City dua kali juara pada 1936/1937, dan 1967/1968.

Namun, berkat kekuatan finansial, Chelsea dan Manchester City menjadi klub yang diperhitungkan di era milenium baru ini.

Chelsea tiga kali juara pada 2004/2005, 2005/2006, dan 2009/2010. Sementara City meraih gelar pertamanya di Premier League pada 2011/2012, dan 2013/2014. Bahkan, Chelsea pernah menjuarai Liga Champions pada 2011/2012 dan Liga Eropa pada 2012/2013.

Capaian prestasi di atas akan sulit dilakukan tanpa campur tangan Roman Abramovich di Chelsea atau Syeikh Mansour di City. Dari sini bisa terlihat bahwa untuk menjadi juara, dibutuhkan bukan hanya mentalitas pemain dan manajemen, tapi juga kekuatan finansial untuk memperkuat komposisi skuat yang biasa, menjadi skuat juara.

Bagi tim sekelas Everton, bisa bersaing di Liga Inggris, terasa sudah cukup memuaskan. Terlebih mereka bisa meraup keuntungan dalam jumlah yang fantastis.

Namun, dari pandangan suporter, keuntungan saja tidak cukup. Toh, secara langsung tak berarti apa-apa bagi mereka. Dari lubuk hati terdalam, pastilah ada rasa iri terhadap saudara sekota, Liverpool, yang rutin meraih gelar juara Liga Inggris (dulu). Belum lagi, bagaimana aksi heroik Steven Gerrard dan kolega saat itu, membalikan keadaan ketika tertinggal 0-3 atas AC Milan di final Liga Champions.

Benar, uang 28,2 juta pounds adalah angka yang begitu besar, sekalipun tingkatannya di Inggris. Saya membayangkan manajemen klub memberikan dua puluh persen atau 5,6 juta pounds untuk mengembangkan akademi. Saat ini, 5,6 juta pounds berarti sekitar 107 miliar rupiah.

Dari akademi tersebut, nantinya Everton dapat menjual kembali para pemain muda potensial, untuk memaksimalkan laba bersih dari sektor penjualan pemain. Bukankah kita sudah terlampau bosan melihat Phil Jagielka dan Leighton Baines yang makin tahun, makin tua?

Melihat dari capian sebelumnya, Everton bisa dibilang lebih baik ketimbang Chelsea ataupun Manchester City. Sebelum era Premier League, mereka meraih sembilan gelar juara Liga Inggris. Musim terakhir yakni pada 1986/1987. Di musim tersebut, Everton begitu berjayanya berdiri di pucuk klasemen, di atas rival sekota, Liverpool.

Kini, sulit untuk mengulang kejayaan tersebut. Seperti yang ditegaskan di awal tulisan, bukan cuma sejarah yang diperlukan, tapi juga dukungan finansial untuk membawa para pemain bermental juara ke Goodison Park.

Bisa dibilang, dengan berhasilnya Everton meraup untuk hingga 28 juta, tidak akan berdampak lurus pada prestasi mereka di liga. Jika tahun depan, berita ini kembali terulang, yakinlah, mereka belum bisa meraih gelar juara.

Sumber gambar: squawka.com

Komentar