Derita si Ular yang Kini Sedang Merana

Editorial

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Derita si Ular yang Kini Sedang Merana

Inter Milan dulu perkasa. Inter Milan dulu menjadi raja. Tapi sekarang (untuk sementara) Inter Milan sedang menderita.

Ya, La Benemeata saat ini sedang sengsara. Tak sepenuhnya sengsara memang, tapi kekalahan memalukan 1-4 oleh Cagliari di stadion Giuseppe Meazza kemarin (28/9), merupakan suatu pertanda bahwa Inter Milan sedang berada dalam situasi yang tak biasa.

Jika sudah begini, siapa yang terkenda dampaknya? Interisti. Mereka menjadi terdiam dan jika disinggung sedikit pasti akan menjadi orang yang hobi mengenang masa lalu. Kesempurnaan Inter Milan pada 2009-2010 menjadi senjata pamungkas mereka.

Seperti yang diungkapkan dalam paragraf pembuka, Inter Milan adalah tim yang dulu sempat menjadi raja. Tak hanya di Serie A, tapi juga Eropa, bahkan dunia. Dulu dalam paragraf pembuka tersebut tentu saja merujuk pada musim 2009-2010, yang para Internisti agungkan. Saat itu, mereka berhasil menjuarai Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions.

Sebelumnya, Inter memang sudah berlabel tim papan atas Italia. Total 18 scudetto telah diraih tim yang bermarkas di stadion Giuseppe Meazza ini menjadi jumlah kedua terbanyak di Serie A, yang kemudian disamakan oleh AC Milan pada musim berikutnya. Tapi pencapaian pada musim 2009-2010 tersebut menjadi pencapaian terbaik Inter sepanjang sejarah, bahkan merupakan pencapaian terbaik tim Italia.

Inter yang saat itu ditangani Jose Mourinho, disebut-sebut sebagai tim yang sempurna. Selain dilatih oleh pelatih berlabel the special one, Inter dihuni pemain-pemain seperti Julio Cesar, Douglas Maicon, Walter Samuel, Wesley Sneijder, Diego Milito, dan Samuel Eto’o yang tengah berada dalam puncak performanya.

Kesempurnaan itu menghasilkan Treble Winners. Sebuah pencapaian fenomenal karena hanya sedikit tim yang mampu melakukan hal tersebut. Saat itu, Inter adalah tim keenam yang berhasil meraih treble winners, yang kemudian disusul oleh Bayern Munich yang menjadi tim ketujuh pada 2013.

Prestasi tersebut jelas berbeda 180 derajat dengan apa yang terjadi pasca Inter ditinggal Mourinho. Inter tertatih untuk menunjukkan kembali keperkasaannya. Mereka hanya bisa menonton Juventus, Napoli dan AS Roma berebut tempat di peringkat teratas Serie A.

Pada awal musim ini, Inter cukup percaya diri bisa berbuat banyak di Serie A. Kedatangan Nemanja Vidic, Pablo Osvaldo, Garu Medel, dan Yann M’Vila diharapkan mampu mengembalikan kejayaan Inter Milan.

Yang terjadi tak terlalu buruk memang. Dari lima laga, Inter berhasil menang dua kali dan imbang dua kali. Salah satu kemenangannya pun diraih dengan luar biasa (menghajar Sassuolo 7-0). Tapi jika dibandingkan dengan tim lain, seperti AS Roma dan Juventus yang secara konsisten menunjukkan performa positif, performa Inter Milan jelas jauh dari harapan.

Vidic yang digadang-gadang menjadi Walter Samuel baru, masih belum bisa beradaptasi dengan sepakbola Italia. Sebaliknya, Vidic justru kerap memberikan malapetaka bagi Inter Milan. Setelah mendapat kartu merah di laga debutnya, Vidic secara beruntun membuat blunder ketika melawan Palermo dan Cagliari. Pada dua laga itu, beberapa gol yang tercipta ke gawang Inter Milan bermula dari kesalahan Vidic.

Alhasil, kini Inter terpaut tujuh poin dari pemuncak klasemen Juventus dan AS Roma yang menyapu bersih lima laga Serie A dengan kemenangan. Selisih yang tak sedikit jika melihat performa Juventus dan AS Roma yang belum ada tanda-tanda mengalami penurunan performa. Atau dengan kata lain, meski Serie A baru berjalan lima giornata, akan sangat sulit bagi Inter Milan mengejar Juve-Roma jika tak segera berbenah.

foto: flickr.com

Komentar