Ironi Masa Depan Xavi

Cerita

by Muhammad Farhan Yazid

Muhammad Farhan Yazid

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Ironi Masa Depan Xavi

Romansa kebersamaan Xavi Hernandez dan Barcelona tinggal menghitung bulan setelah Xavi secara resmi mengumumkan bahwa dirinya akan meninggalkan Barca di akhir musim ini. Ia mengumumkan keputusan ini pasca kekalahan menyakitkan melawan Villarreal di Stadion Olimpiade Lluís Companys, Minggu (28/1).

Keputusan ini cukup mengejutkan banyak pihak lantaran di musim pertamanya, Xavi menyumbang dua gelar (La Liga dan Piala Super Spanyol). Xavi juga selalu mendapatkan dukungan penuh dari sang presiden, Joan Laporta. Dukungan tersebut bahkan disampaikan secara eksplisit pada November 2023 lalu. Padahal, kala itu tim sedang dalam performa yang menurun pasca kekalahan di El Clasico.

“Saya ingin memperjelasnya, seperti yang dikatakan oleh (direktur olahraga Barca) Deco dan para direktur dewan direksi saya, bahwa kami sepenuhnya berada di pihak pelatih dan kami bangga memiliki Xavi sebagai pelatih atas dasar profesionalitas dan kemanusiaan.” kata Laporta via ESPN (18/11/23).

Selain Laporta, para pemain juga terkejut dengan keputusan Xavi untuk meninggalkan klub bulan Juni nanti. Beberapa pemain juga menyampaikan dukungan untuk Xavi dan berharap sang pelatih berubah pikiran.

https://twitter.com/barcastuff_idn/status/1751362189834027087?s=46">

Sayangnya, Xavi tetap teguh pendirian dan tegas mengatakan bahwa keputusan ini sudah final. Ia juga menjelaskan bahwa keputusan tersebut dipikirkan matang-matang sejak kekalahan atas Girona di kandang. Puncaknya adalah kekalahan di Final Piala Super Spanyol dari Real Madrid. Xavi sebenarnya sudah lebih dulu mengabarkan keputusan ini kepada orang-orang terdekat, seperti keluarga dan asisten yang juga saudaranya, Oscar Hernandez.

“Saya telah memutuskan bahwa saya tidak akan melanjutkan pertandingan setelah tanggal 30 Juni. Ini adalah keputusan yang masuk akal demi kebaikan klub. Saya mengambil keputusan ini beberapa hari yang lalu. Tapi ini saatnya mengumumkannya ke publik." kata Xavi via The Athletic.

Pekerjaan yang Melelahkan

Salah satu alasan Xavi menuju pintu keluar Camp Nou tak lain karena ia merasa telah kehabisan energi, ia mengatakan bahwa segala tuntutan dari berbagai sisi membuatnya lelah secara mental. Selain itu, sang pelatih berusia 44 tahun itu juga merasa semua perjuangan dan pencapaiannya sampai saat ini tak pernah dihargai.

“Ini pekerjaan yang kejam dan membuatmu lelah. Di Barcelona, kamu selalu merasa seolah kamu tak berharga. Dari sisi kesehatan mental pun rasanya sulit." katanya via The Athletic.

Meskipun Xavi telah mengabdikan setengah hidupnya di Barcelona (17 tahun sebagai pemain), kehadiran perasaan positif yang selalu menyertai dan semangat tinggi serta optimisme yang dipancarkannya saat masih bermain, tidak cukup untuk menahannya lebih lama melatih Barca. Ia merasa telah kehilangan seluruh energi dan gairah dalam melatih Blaugrana.

“Saya adalah orang yang berpikiran positif, tetapi baterai (energi) saya terus-menerus habis dan pada titik tertentu, saya menyadari bahwa tidak ada gunanya tetap tinggal.” lanjutnya.

Xavi juga mengatakan bahwa keputusan ini murni atas kehendaknya. Ia tak pernah mengeluhkan masalah yang terkait dengan uang. Ia hanya mengikuti kata hati dan tak ingin menjadi beban untuk klub yang dicintainya.

"Xavi memberitahu saya bahwa dia akan pergi pada akhir musim. Dia ingin menyelesaikan musim ini dan keputusan itu saya terima karena Xavi-lah yang mengusulkannya kepada saya. Dan dia adalah legenda Barca. Dia adalah orang yang jujur; dia bertindak dengan penuh martabat; dan dia adalah orang yang mencintai Barca." kata Laporta via rilis resmi klub (28/01).

Sedangkan, mantan pelatih Barca, Pep Guardiola memahami apa yang dialami mantan anak asuhnya tersebut di Spanyol. Ia juga memaklumi keputusan yang dibuatnya lantaran tekanan yang ada di Barca jauh lebih berat dan tak bisa dibandingkan dengan tim lain.

"Kami tidak bisa membandingkan tekanan yang ada di Inggris dengan tekanan di Spanyol. Berdasarkan pengalaman saya, di sana seribu kali lebih sulit. Ada enam konferensi pers dalam seminggu, dan lebih banyak pertandingan. Tekanan yang Anda rasakan di Barcelona tidak sebanding dengan di tempat lain." kata Pep via Marca.

Selama dua tahun menangani Barca, Xavi telah menumbuhkan rasa optimisme yang tinggi dalam tubuh klub sejak kedatangannya pada November 2021. Dua gelar diberikannya di musim penuh pertamanya menjadi pelatih Barca. Sayangnya, Xavi juga jadi orang yang paling bertanggung jawab atas kegagalan Blaugrana di Eropa (UCL dan UEL) pada musim 2022/23. Saat itu Barca yang hanya finis di peringkat 3 fase grup UCL turun kasta ke UEL, dan tersingkir di babak play-off melawan Manchester United.

Keputusan Xavi untuk meninggalkan Barcelona pada akhir musim mendatang menunjukkan ironi dalam perjalanannya. Meski di awal, Xavi penuh optimisme dan mendapatkan kepercayaan banyak pihak bahwa dia akan mengembalikan kejayaan Barcelona, namun hasilnya tidak sesuai harapan. Hal ini mencerminkan bahwa ada faktor atau tantangan tertentu yang membuatnya merasa sulit untuk mencapai visi dan tujuannya bersama Barcelona. Kepergian Xavi juga dapat dianggap sebagai sebuah kejutan, mengingat ekspektasi tinggi yang diletakkan pada dirinya saat pertama kali mengambil peran sebagai pelatih kepala.

“Dari sisi olahraga, memang benar musim ini segalanya tidak berjalan sesuai rencana kami. Kami datang dari menjuarai La Liga dan Supercopa Spanyol, dengan skuad yang lebih baik–kami memiliki ekspektasi yang lebih baik tetapi ekspektasi tersebut tidak terpenuhi." kata Laporta via The Athletic.

Kepergian Xavi pada akhir musim mendatang akan menambah daftar beberapa legenda yang gagal sebagai pelatih klub yang membesarkan namanya. Kasus serupa terjadi pada Frank Lampard di Chelsea, Andrea Pirlo di Juventus, dan Ole Gunnar Solskjaer di Manchester United. Hal ini menegaskan bahwa prestasi sebagai pemain bintang dan menjadi legenda tim, tidak menjamin keberhasilan dalam perannya sebagai pelatih.

Fenomena ini menarik dan memunculkan makna implisit perbedaan faktor kesuksesan seorang pemain dan pelatih. Pencapaian sebagai pemain, memang cenderung melibatkan keterampilan individu, pemahaman permainan, dan dedikasi yang tinggi. Sedangkan, kesuksesan sebagai pelatih membutuhkan kemampuan untuk membaca permainan, mengelola tim, dan beradaptasi dengan dinamika perubahan dalam dunia sepakbola. Faktor-faktor ini menciptakan perbedaan yang signifikan antara keberhasilan sebagai pemain dan keberhasilan sebagai pelatih, dengan tantangan dan dinamika yang berbeda dalam kedua peran tersebut.

Mencari Pengganti Xavi

Kepergian Xavi akan sangat terasa. Pasalnya, meski Barca punya nama besar, mereka masih punya masalah keuangan sehingga akan sulit untuk mencari dan menarik minat pelatih berpengalaman dan CV yang istimewa. Namun segala cara harus dicoba, karena melatih tim dengan sejarah panjang dan segudang prestasi akan jadi kebanggaan bagi beberapa pelatih.

Terkait pengganti Xavi, belum ada nama spesifik yang diincar manajemen Barca. Dilansir dari ESPN, Laporta menyatakan bahwa ia adalah penggemar pelatih-pelatih asal Jerman. Sehingga akan mudah mengerucutkan beberapa nama karena ia sempat mengincar nama beken seperti Hansi Flick, Julian Nagelsmann, sampai Jurgen Klopp untuk menggantikan Ronald Koeman sebelum akhirnya Xavi yang terpilih.

Hansi Flick, merupakan pilihan paling cocok untuk Blaugrana karena saat ini sedang menganggur. Kendati menuai kegagalan bersama timnas Jerman, Flick tetap dikenal sebagai pelatih yang sukses karena menorehkan catatan impresif kala menukangi Bayern Munchen. Bersama FC Hollywood, Flick mempersembahkan ‘sixtuple’ untuk Bayern pada musim 2019/20.

Selain Flick, Laporta juga menyukai Nagelsmann, pelatih muda asal Jerman yang bakatnya telah diakui di Eropa. Nama Nagelsmann mencuat tatkala membawa RB Leipzig lolos fase gugur Liga Champions pada musim 2019/20 sebagai juara grup. Sayangnya, Nagelsmann kemudian gagal tatkala ia mencoba naik ke tingkat lebih tinggi dengan melatih raksasa Bayern.

Ketegangan ruang ganti dengan pemain-pemain senior Bayern membuktikan bahwa pelatih berusia 36 tahun itu belum cukup berwibawa untuk menangani tim besar. Terlebih, saat ini Blaugrana sedang ada di situasi pelik beberapa tahun belakangan karena masalah finansial. Namun Nagelsmann juga bisa jadi nama menarik karena selain disukai Laporta, ia juga sedang menganggur dan sebagai pelatih muda masih bersemangat untuk membuktikan diri.

Kemudian ada nama Roberto De Zerbi yang namanya mengharum setelah menukangi Brighton and Hove Albion. Pelatih asal Italia itu bahkan mendapatkan pujian langsung dari gurunya yaitu Pep Guardiola. Pep mengatakan bahwa Brighton asuhan De Zerbi adalah tim dengan proses membangun serangan terbaik di Liga Inggris musim 2022/23.

De Zerbi mungkin bisa mengambil pekerjaan yang ditinggalkan Xavi jika ia melihat itu sebagai kesempatan untuk ‘naik kelas’. Melatih tim sekelas Barca akan membantunya naik ke level yang lebih tinggi dari sebelumnya (Sassuolo, Shakhtar Donetsk, dan Brighton). Di sisi lain, hal ini akan jadi perjudian bagi manajemen Barca, karena De Zerbi belum berpengalaman membesut tim yang dipenuhi pemain bintang berego tinggi.

***

Selain tiga nama utama, ada nama lain yang jadi incaran seperti Rafael Marquez yang merupakan pelatih tim Barcelona B, Thiago Motta mantan pemain Barcelona yang sedang berkarir di Italia bersama Bologna, serta Michel–Miguel Angel Sanchez–yang membawa Girona jadi pesaing utama Real Madrid dalam memburu gelar La Liga musim ini. Paling tidak mencari pengganti Xavi akan jadi tugas strategis bagi Laporta. Sebab faktanya, sepeninggal Pep dan Luis Enrique tak ada pelatih yang bertahan lebih dari dua tahun menunggangi Blaugrana.

Komentar