Bender Bersaudara dan 5 Pesepakbola Kembar yang Berkiprah di Bundesliga

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Bender Bersaudara dan 5 Pesepakbola Kembar yang Berkiprah di Bundesliga

Saudara kembar yang membela Bayer Leverkusen, Lars dan Sven Bender, mengumumkan akan pensiun pada akhir musim ini. Meski baru berusia 31 tahun per 2020, keduanya merasa kemampuan fisik mereka telah menurun dan memutuskan gantung sepatu demi kesehatan diri dan kepentingan keluarga.

“Kami menyadari bahwa akan sulit untuk terus bermain sepakbola di level ini setelah musim panas. Kami merasa semakin sulit untuk tampil konsisten, mengingat segala rasa sakit dan problem fisik yang kami derita, dan juga hal-hal lain,” tulis Bender bersaudara dalam sebuah pengumuman bersama.

Pensiunnya Bender bersaudara adalah kabar sedih bagi penggemar Bundesliga. Sedekade terakhir, Sven dan Lars turut menghadirkan momen-momen tak terlupakan dan menorehkan sejarah tersendiri di Bundesliga. Sven adalah bagian dari skuad Borussia Dortmund yang meraih dua titel Bundesliga sebelum pindah ke Leverkusen. Sedangkan Lars membela die Werkself sejak 2009 dan menjadi kapten tim pada 2015.

Jarang ada pemain kembar yang berkiprah di liga top Eropa, apalagi membela satu klub. Itulah mengapa kiprah Bender bersaudara istimewa di sepakbola modern. Selain Sven dan Lars, terdapat sedikit pemain kembar yang berkiprah di Bundesliga, berikut lima di antaranya.

Hamit & Halil Altintop

Jika Bender bersaudara dikenal sebagai pemain belakang, entah gelandang bertahan atau bek tengah, Altintop bersaudara identik dengan peran menyerang. Sepasang kembar berdarah Turki ini berkiprah di Bundesliga sejak awal 2000-an, mencapai puncak kejayaan menjelang dekade pertama abad 21 berakhir.

Hamit dan Halil lahir di Gelsenkirchen, kota tempat Schalke 04 berdiri. Meski lahir di Jerman, keduanya memutuskan membela Timnas Turki. Hamit turut mengantarkan Turki ke semifinal Euro 2008, sedangkan Halil tak berpartisipasi dalam turnamen tersebut lantaran dicoret dari skuad final oleh Fatih Terim.

Halil berusia 10 menit lebih tua dari Hamit. Keduanya sama-sama mengawali karier sepakbola di klub lokal Wattenscheid 09. Performa brilian Altintop bersaudara membuat klub-klub besar merekrut keduanya. Hamit pindah ke Schalke 04 pada 2003. Halil menyusul ke Veltins-Arena pada 2006, setelah tiga musim membela Kaiserslautern.

Schalke menjadi satu-satunya klub tempat Altintop bersaudara bermain bersama di Bundesliga. Namun, kombinasi keduanya di atas lapangan hanya terjadi selama satu musim. Pada 2007/08, semusim setelah Halil menyusul Hamit, sang adik direkrut klub terbaik Jerman, Bayern Muenchen. Hamit meraih dua titel Bundesliga sepanjang empat musim membela die Roten.

Dibanding sang kakak, Hamit menikmati karier sepakbola yang relatif lebih sukses. Ia sering diturunkan sebagai gelandang tengah memiliki tembakan kaki kanan yang mematikan. Hamit sering mencetak gol via tembakan roket dari jarak jauh dan juga mahir mengeksekusi tendangan bebas.

Keahliannya dalam tendangan jarak jauh pun mengantar Hamit memenangkan Puskas Award 2010. Golnya ke gawang Kazakhstan di kualifikasi Euro 2012 dinobatkan sebagai gol terbaik tahun itu. Menyambut umpan sepak pojok, Hamit mencetak gol dengan sepakan first time keras dari sudut luar kotak penalti. Gol itu memenangkan 40,55% suara untuk menyabet Puskas Award.

Setelah membela Bayern, Hamit kemudian pindah ke Real Madrid. Kepindahan itu sekaligus menandai penurunan kariernya. Hamit jarang tampil di Spanyol dan hanya menghabiskan semusim di sana. Hamit lalu pindah ke Galatasaray sebelum mengakhiri karier pada 2017/18 di SV Darmstadt.

Sementara itu, Halil tetap membela Schalke usai ditinggal kembarannya. Ia baru pindah ke Eintracht Frankfurt pada pertengahan 2009/10. Halil kemudian membela Trabzonspor, FC Augsburg, Slavia Praha, lantas kembali ke Kaiserslautern sebelum pensiun pada 2017/18.

Andreas & Michael Zeyer

Pada awal 90-an, SC Freiburg naik level ke Bundesliga dan memukau publik dengan penampilan atraktifnya. Di bawah manajer Volker Finke, Freiburg memainkan sepakbola menyerang tanpa takut akan tim-tim yang lebih mapan. Gaya permainan itu membuat Freiburg, hingga sekarang, dijuluki Breisgau-Brasilianer atau Tim Brasil dari Breisgau (kota basis SC Freiburg, Freiburg im Breisgau).

Volker Finke berhasil mengorbitkan para pemain level Bundesliga 2 menjadi pemain penting di kompetisi teratas. Beberapa penggawa kunci Freiburg waktu itu adalah Stefan Mueller, Uwe Spies, Jens Todt, dan Ralf Kohl. Salah satu pemain terbaik dalam sejarah Freiburg, Andreas Zeyer, juga memperkuat tim ini.

Andreas Zeyer membela Freiburg sejak 1989 dan sinonim dengan masa keemasan Breisgau-Brasilianer pada 90-an. Ia merupakan pemain dengan penampilan terbanyak untuk Freiburg, memainkan 402 pertandingan di ajang liga dan mencetak 43 gol.

Di lain sisi, Andreas Zeyer memiliki saudara kembar yang berlaga di liga Jerman, Michael Zeyer. Tak seperti Andreas, yang turut mengukir sejarah dan menjadi pemain ikonis di Bundesliga, karier Michael tak begitu mentereng. Michael lebih sering berkiprah di Bundesliga 2.

Sepasang kembar ini mengawali karier di SSV Ulm 1846. Mereka sama-sama pindah ke Freiburg pada 1989/1990. Ketika Andreas kian diandalkan Voker Finke dan memutuskan bertahan sebagai pemain kunci Freiburg, Michael pindah ke Kaiserslautern yang saat itu berlaga di Bundesliga 1. Michael tidak berpartisipasi dalam perjuangan Freiburg meraih tiket promosi pada 1992/93.

Zeyer bersaudara baru bertemu di pertandingan Bundesliga sejak 1993/94. Loyalitas Andreas terbayar dan ia diandalkan Freiburg hingga 1996/97. Ia kemudian pindah ke Hamburger SV dan turun tingkat selama setengah musim bersama Karlsruher SC. Andreas sempat membela VfL Bochum sebelum kembali dan mengakhiri karier di Freiburg.

Sementara itu, Michael beberapa kali turun tingkat ke Bundesliga 2. Setelah Kaiserslautern, Michael pindah ke SV Waldhof Mannheim yang berlaga di divisi kedua. Ia baru kembali ke Bundesliga setelah direkrut MSV Duisburg dan kemudian VfB Stuttgart. Klub terakhir Michael sebelum pensiun adalah FC Heidenheim yang waktu itu bertanding di Oberliga Baden-Wuerttemberg (divisi keempat waktu itu).

Oliver & Andreas Schmidt

Dulu, Hertha Berlin memiliki saudara kembar dalam skuadnya. Mereka adalah Oliver dan Andreas Schmidt. Sebagaimana kisah Andreas dan Michael Zeyer, sepasang kembar tersebut menempuh jalan karier berbeda: Andreas bertahan dan menghabiskan kariernya di Hertha, sedangkan Oliver berpindah-pindah untuk mencoba peruntungan di lima klub lain.

Kembar Schmidt bergabung dengan Hertha sejak 1991/92. Mereka awalnya membela tim cadangan die Alte Dame yang berlaga di NOFV-Oberliga (divisi ketiga waktu itu). Oliver lebih dulu dilibatkan bersama tim senior Hertha pada 1992/93. Semusim setelahnya, Andreas baru bermain untuk tim senior.

Oliver pindah ke SpVgg Greuther Fuerth pada 1998/99, satu musim setelah Hertha promosi ke Bundesliga. Meskipun tujuh tahun membela klub ibukota tersebut, Oliver hanya pernah dua kali membela Hertha di Bundesliga.

Sebaliknya, Andreas betah di klub ibukota. Andreas bertahan di Hertha Berlin hingga pensiun pada 2007/08. Ia bermain sebanyak 193 kali untuk Hertha di ajang Bundesliga.

Philipp & David Degen

Degen bersaudara adalah pemain kembar asal Swiss yang sempat berkiprah di Bundesliga. Mereka lahir di Liestal, sebuah kota dekat Basel, pada 15 Februari 1983. Philipp dan David sama-sama memperkuat FC Basel pada awal karier. Jika Philipp langsung direkrut tim kuat Swiss tersebut, David harus membuktikan kemampuan bersama FC Aarau terlebih dulu.

Saudara kembar ini memiliki profil permainan yang tak jauh berbeda. Keduanya sama-sama optimal di sisi kanan lapangan. Philipp bermain sebagai bek kanan, sedangkan David yang lebih ofensif biasa diturunkan sebagai winger kanan.

Setelah membantu Basel meraih dua titel Liga Super Swiss pada 2003/04 dan 2004/05, Philipp Degen hijrah ke Jerman pada 2005/06. Philipp direkrut Borussia Dortmund yang waktu itu diasuh Bert van Marwijk.

Sementara itu, David pilih bertahan di Basel dan membantu klub meraih gelar liga untuk ketiga kalinya secara beruntun. Pada 2006/07, ia menyusul saudara kembarnya ke Jerman. Bedanya, klub yang dibela David adalah Borussia Moenchengladbach.

Di Bundesliga, Degen bersaudara berhadap-hadapan di atas lapangan hanya selama satu musim. Pasalnya, David hanya betah setahun di Jerman dan kembali sebagai pemain pinjaman untuk membela Basel. Kontrak David di Gladbach habis pada 2008 dan ia pindah ke rival kompetitif Basel, Young Boys.

Philipp sendiri lebih betah di Jerman. Ia membela Dortmund selama tiga musim sebelum pindah ke Liverpool pada 2008/09. Tetapi, Rafael Benitez sekadar menjadikan Philipp pemain cadangan di Anfield. Pada 2010/11, ia sempat dipinjamkan ke VfB Stuttgart sebelum dilepas dan kembali ke Basel. Degen bersaudara sama-sama mengakhiri karier sebagai pemain di FC Basel.

Erwin & Helmut Kremers

Pembaca mungkin lebih familiar dengan Bender dan Altintop bersaudara yang bermain pada abad 21. Namun, sepanjang sejarah sepakbola Jerman, saudara kembar yang paling fenomenal tetaplah Erwin dan Helmut Kremers. Dua pemain yang masing-masing berposisi sebagai winger/striker dan fullback ini aktif pada 1970-an.

Kremers bersaudara adalah kembar pertama yang merumput di Bundesliga. Selain itu, mereka memiliki trek karier yang mungkin tak akan pernah diulangi pemain kembar lain: Kremers bersaudara selalu membela klub yang sama hingga pensiun.

Erwin dan Helmut lahir di Moenchengladbach pada 24 Maret 1949. Mereka berdua membela Borussia Moenchengladbach ketika mulai bermain sepakbola profesional. Kremers membela Gladbach selama dua musim, 1967/68 serta 1968/69.

Pada 1969/70, keduanya kompak pindah ke Kickers Offenbach yang waktu itu masih berkiprah di Bundesliga 1. Mereka membela klub itu hingga 1970/71.

Schalke 04 kemudian merekrut Kremers bersaudara pada 1971/72 dan sisanya adalah sejarah. Yang membuat mereka istimewa bagi Royal Blues bukan hanya fakta bahwa mereka kembar; performa Erwin dan Helmut di atas lapangan membuat dua bersaudara ini menjadi ikon Schalke. Kremers bersaudara tercatat di jajaran 11 pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah klub. Helmut mencetak total 59 gol sedangkan Erwin 54.

Kremers bersaudara membela Schalke hingga 1979. Mereka membantu klub asal Gelsenkirchen itu meraih trofi DFB-Pokal 1971/72 dan dua kali menjadi runner up Bundesliga, pada 1971/72 dan 1976/77. Di level timnas, mereka membela Timnas Jerman Barat dan ikut andil memenangi Piala Dunia 1974.

Setelah bermain bersama selama 12 tahun, Erwin dan Helmut harus berpisah pada 1979. Erwin memutuskan pensiun lebih dulu, sementara Helmut masih bermain di Schalke hingga 1980. Helmut pindah ke Rot-Weiss Essen pada 1980/81 dan pensiun di akhir musim.

Seluruh pertandingan langsung Bundesliga 2020/21 serta tayangan ulang dan highlights pertandingannya dapat Anda saksikan di Mola TV (klik di sini).

Komentar